Wedang Uwuh (57)

Profesi Menyusui

Kedaulatan Rakyat, 12 Desember 2017

“Saya berpendapat bahwa saat ini sangat urgen untuk diinisiatifi sebuah profesi baru”, Gendhon mengawali laporannya tentang “Air Susu Ibu sebagai satu dari sekian keajaiban Allah yang dianugerahkan ke dalam tubuh setiap manusia”.

“Lho saya minta mengumpulkan bahan tentang Air Susu Ibu kok malah kasih rekomendasi tentang profesi”, saya merespons.

“Justru itu Mbah”, jawabnya, “ini profesi yang menyangkut Air Susu Ibu”

“Apa dan gimana itu?”

“Ibu-Ibu atau wanita-wanita yang dalam keadaan memungkinkan, bisa menyewakan ASI-nya untuk menyusui bayi dari Ibu yang lain”

“Aduh ini menarik tapi belum paham saya”

“Mbah, sekarang menurut banyak Dokter Anak, jumlah Ibu-Ibu yang mau menyusui anaknya sangat jauh berkurang. Paling jauh 30%. Yang 70% Ibu-Ibu sesudah melahirkan tidak bersedia menyusui bayinya…”

“Apa iya?”

“Saya sudah nanya-nanya ke lebih dari 10 Dokter anak. Kesimpulannya seperti itu”

“Kok aneh?”

“Mungkin khawatir payudaranya menjadi kendor, berkurang kecantikan atau keindahannya sebagai wanita”

Saya benar-benar takjub dan baru mendengar sekarang ini bahwa demikian sikap para Ibu di abad milenial yang segala sesuatunya serba maju dan canggih ini.

“Apa ada kemungkinan si Bapak yang juga menganjurkan atau meminta agar si Ibu tidak usah menyusui bayinya, sebab si Bapak punya kepentingan sangat mendasar dan rutin terhadap susu si Ibu?”, saya coba kejar.

“Tidak tertutup kemungkinan itu”, Beruk menyahut.

Pèncèng juga: “Mungkin karena sejak kecil dididik bernyanyi Puk ami-ami belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalai malam mimic cucu…

“Apa hubungannya, Cèng?”

“Bayi kan belum makan nasi”, jawab Pèncèng, “kalau siangnya makan nasi dan malamnya mimic susu kan pasti Bapaknya”

“Tapi omong-omong, apa benar sekarang jumlah Ibu menurun sedrastis itu?”, saya kejar lagi.

“Yang berkurang itu Ibu yang mau menyusui bayinya, Mbah, bukan jumlah Ibu”

“Lho definisi Ibu kan yang paling mendasar ada dua. Pertama, yang melahirkan bayi. Boleh operasi Cesar kalau karena alasan kesehatan. Dan kedua, yang menyusui bayinya. Kalau wanita tidak melahirkan dan tidak menyusui bayinya, ia bukan Ibu. Landasan pengabdian setiap anak dan kedalaman cintanya kepada Ibunya adalah karena ia dilahirkan dan disusui oleh Ibunya itu. Kalau anak tidak dilahirkan dan tidak disusui, ia sejenis bayi tabung. Dan tabung tidak mungkin dicintai oleh anak…”

Maka Gendhon mengacu pada tradisi masyarakat di masa Nabi Muhammad lahir dan dibesarkan. Beliau disusui tidak oleh Bu Aminah sendiri, melainkan disusukan ke Ibu Halimah Sa’diyah, warga dari suatu masyarakat yang hidupnya penuh tantangan di habitat padang pasir, sehingga membuat anak-anak yang dibesarkan di situ terlatih ketangguhan fisik dan mentalnya. Rasulullah lahir di kalangan bangsawan Bani Hasyim yang sehari-harinya tercukupi fasilitasnya, sehingga akan menjadi lingkungan yang membuat anak-anak menjadi manja.

Pak Abdullah, Bapaknya Rasulullah, ingin anaknya tumbuh secara lebih “organik”. Ibu-Ibu di Negeri kita yang tidak mau menyusui bayinya kebanyakan adalah yang berasal dari lingkungan budaya yang manja dan cengeng soal estetika.

“Saya membayangkan Ibu-Ibu tangguh dan wanita-wanita perkasa dari dusun-dusun yang hidupnya berat”, kata Gendhon, “bisa diinisiatifi boleh berprofesi sebagai Ibu yang menyusui bayi-bayi. Gayung bersambut antara Ibu-ibu yang ogah menyusui dengan Ibu-ibu yang siap menyayangi bayi. ASI mereka, pelukan tangan mereka, elusan telapak dan jari jemari mereka, serta hawa ketangguhan hidup mereka akan sangat menumbuhkan bayi-bayi masa depan untuk bangsa yang lebih tangguh dan perkasa. Bukan bangsa yang cengeng dan lebai, yang sekarang merupakan watak mainstream dari masyarakat kita”.

“Saya berpendapat bahwa saat ini sangat urgen untuk diinisiatifi sebuah profesi baru”, Gendhon mengawali laporannya tentang “Air Susu Ibu sebagai satu dari sekian keajaiban Allah yang dianugerahkan ke dalam tubuh setiap manusia”. “Lho saya minta mengumpulkan bahan tentang Air Susu Ibu kok malah…