Pra Tursina, Pasca Tursina

Peristiwa pingsannya Nabi Musa di Bukit Tursina merupakan sebuah adegan monumental bagi pembelajaran sejarah umat manusia tentang kegagalan manusia dalam memahami hakikat tujuan hidup. Puncak salah sangka keilmuan manusia dalam membaca peta jalan sejarahnya, berujung di jalan buntu. Jika setelah Musa pingsan di bukit Tursina kemudian Tuhan menyuruh Musa untuk bertemu Nabi Khidir, itu berarti Khidir-lah penyedia jawaban atas segala pertanyaan di kandungan kegelisahan Musa. Musa gelisah oleh sebuah keinginan melihat wujud fisik Tuhan.

Pola, metode, dan perilaku pencarian Musa dalam menemukan jawaban atas segenap pertanyaan mendasar soal hakikat kebenaran yang dilambangkan dengan ‘menagih’ Tuhan untuk menampakan wujud jasadiah-Nya, membentur dinding batas yang ‘pamali’ untuk dijamah dengan konsep logika dan perspektif materi. Titik kerinduan setiap manusia kepada hakikat ke-diri-annya, asal-usul dan pusat tujuannya yang secara teologis diterminologikan sebagai Tuhan berada dalam bentangan jarak amat jauh untuk sanggup digapai melalui rumus materialistik. Bahkan materi atau benda kerap berposisi ‘hijab’ atas pandangan sejati manusia terhadap Tuhan.

Konsep Musa sebelum pingsan di Bukit Tursina adalah sejenis pengetahuan yang mendudukkan panca indra sebagai alat primer atau perangkat satu-satunya dalam perjalanan intelektualnya. Segala sesuatu yang tak teridentifikasi melalui panca indra dianggap tidak ada. Konsep ini kemudian berkembang dalam estafet kebudayaan dan sejarah hingga hari ini. Capaian-capaian sejarah manusia yang hari ini sedang di-iman-i sebagai peradaban, berasal dari mata air konsepsi Musa pra pingsan di Bukit Tursina. Derap langkah ilmu dan pengetahuan manusia sedang menuju tahap untuk pingsan di ‘bukit’ kehidupan. Pengetahuan manusia terus berputar-putar di dalam ruang sempit radius logika yang disepakati sebagai sikap ilmiah.

Dorongan fitrah manusia berupa kerinduan kepada kebahagiaan, sedang dituntun oleh prinsip ilmiah untuk menyusuri jalan dengan pola dan metode yang melahirkan perspektif Musa dengan panca indra sebagai modal primer untuk melihat dan menakar pencapaian tujuan hidup. Sikap Musa di Bukit Tursina meng-ejawantah dalam perilaku manusia modern dalam bentuk keyakinan mutlak terhadap materi sebagai sumber kebahagiaan. Apa bedanya manusia modern dengan Musa yang pingsan di Bukit Tursina jika sama-sama terkurung di dalam cara pandang materi? Sehingga yang sedang terjadi sekarang adalah bermilyar-milyar manusia pingsan bergelimpangan di ‘bukit’ kehidupan.

Pingsan adalah suatu kondisi tidak sadarkan diri. Orang jawa menyebut ‘tidak sadar’ dengan istilah ora eling atau tidak ingat. Ora eling itu tekanan maknanya lebih kepada kondisi hilangnya pengetahuan tentang kewajaran hidup. Semisal, orang tega merampok uang rakyat dan mengkhianati nilai-nilai demi untuk bisa membeli puluhan rumah dan mobil mewah padahal anaknya cuma satu, sudah menjadi pejabat tinggi, masih mengincar peluang sekian jabatan di tempat lain. Orang Jawa akan mengatakan ora eling terhadap perilaku seperti itu.

Orang-orang Maiyah sedang dibawa memasuki pola dan metode transfer ilmu Khidir kepada Musa. Sejenis materi ilmu semester pasca pingsannya Musa di Bukit Tursina. Tulisan-tulisan Mbah Nun di rubrik DAUR adalah bahasa dan perilaku Khidir untuk manusia-manusia Maiyah yang tidak ingin mengulang pingsan di ‘bukit kebudayaan Tursina modern’. Mbah Nun menyebut manusia Maiyah dengan panggilan romantik, yaitu anak-cucu. Para Musa junior yang perspektif dan landasan berpikirnya akademis, kalkulatif, dan matematis mereka akan sama-sekali tidak mengerti nuansa, atmosfir, dan kosakata pola komunikasi romantik ‘kakeknya ilmu hidup’ bernama Khidir.

Khidir yang bisa kita maknai sebagai ‘kehadiran’, merupakan pilihan formula yang dipakai Tuhan dalam menjawab pertanyaan dan melunasi tagihan Musa untuk menampak. Atau dengan kata lain, Tuhan hadir memperkenalkan diri  men-tajjali melalui fenomena Khidir. Syarat yang diminta oleh Khidir kepada Musa agar sanggup menyaksikan manifestasi eksistensi ‘kesejatian’ atau wujud hakiki Tuhan adalah dengan: Jangan bertanya! Sebuah metode yang sama sekali berkebalikan dengan tradisi sekolah yang menekankan sikap kritis dan banyak bertanya.

Betapa Mbah Nun membuka sedemikian vulgar siapa dirinya di hadapan anak-cucunya dalam seri tulisan DAUR. Tentu yang bukan cucu tidak berada pada arena cinta yang diselenggarakan Mbah Nun. Sehingga tidak ada garis hukum dan moral untuk wajib percaya kepada kakek yang sedang membekali pengetahuan semester lanjutan pasca Bukit Tursina kepada anak-cucunya itu. Sebagaimana yang bukan Musa tidak berada pada ruang kelas Khidir dengan tema pelajaran sangat misterius: Mencekik anak kecil, membocorkan kapal, dan menegakan pagar yang roboh.

Tema-tema di dalam seri tulisan DAUR adalah metode pengenalan informasi tentang ‘maqom’ kakek yang belum diketahui oleh anak-cucunya. Selama ini anak-cucunya berada di sekolah-sekolah kelas Musa yang syariat oriented, mengonsumsi ramuan ilmu dan dijejali sihir yang menidurkan perangkat selain panca indra. Sehingga yang masuk ke dalam ruang pengetahuannya adalah segala informasi yang justru bertentangan dengan jenis kapasitas yang disandang sang kakek. Pengetahuan mainstream mengenai nabi, wali, agama dan Tuhan dibentuk berdasarkan perspektif materialisme. Maqom sang kakek selama ini disembunyikan oleh tembok tebal sejarah, dikurung dalam label-label sosial yang reduktif, bahkan seringkali dibuang eksistensi kemartabatannya oleh berbagai fitnah dan prasangka.

Anak-cucu jamaah Maiyah adalah orang-orang yang diselamatkan oleh Tuhan dari propaganda sejarah, konstruksi kebudayaan materi, dan tragedi dis-informasi media massa. Mereka masih memiliki sisa kewaspadaan mata batin sebagaimana Sayyidina Abu Bakar yang peka terhadap pertanda nubuwah yang melekat pada diri Muhammad di tengah mata rabun kebudayaan mainstream saat itu.

DAUR adalah pelajaran di kesunyian malam, gairah cinta kakek yang sedang mengkader anak-cucunya untuk menjadi perintis peradaban baru. Sebagaimana peradaban kakeknya 6 abad silam. Peradaban yang dibangun dari inspirasi ilmu Khidir yang batin. DAUR adalah kidung ‘Rumekso Ing Wengi’ yang dilantunkan dengan aransemen baru oleh Kanjeng Sunan Kalijaga sendiri untuk mencuci jiwa anak cucu Maiyah dari najis-najis kebudayaan. Agar mereka segera bisa menegakkan sembahyang.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image