Peta Perlawanan Sunyi, La Syarqiyyah wa La Gharbiyyah di Taman Kesejatian

Katakanlah ini ada sebuah peta. Kusut petanya, sebagian garis batas wilayah memudar, sebagian lagi malah tertambahi noda, kotoran, lecek. Peta ini berisi wilayah cakupan wacana, diskursus, ideologi, tokoh, pemikiran sehingga juga turunannya adalah bebentuk gerakan, praktik praksis.

Ini peta ribuan tahun usianya, segala capaian pemikiran manusia termaktub di dalamnya. Marxisme, tasawuf, kapitalisme, monarki, demokrasi, feminisme, pemuja ketertataan Appolonian, pemuja kekacauan Dyonisian, khilafah-isme, nasionalisme, NKRI Harga Mati, Laclau-Mouffe, Pancasila, liberalisme, Marhaenisme, Soekarno, Hegel, teori konspirasi, Zizek, Habermas, Tiongkok, Alexandria, Nusantara, Nietzsche, Kant, Yunani, Judea, Schopenhauer, Foucault, Baudrillard, Said Nursi, Spiritual new age, Ronggowarsito, zionis harga mati, Hasyim Asyari, NU, Wahabi, Gus Dur, Abu Bakar Baasyir, Orla, Orba, Inayat Khan, Suryomentaram, Gramscci, purifikasi budaya, Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, NII, Derrida, kosmpolitanisme, hedonisme dlsb. Saya sebut tentu dengan meloncat-loncat saja.

Pertanyaannya, Maiyah ada di mana dalam peta itu? Samar-samar memang ada kata Maiyah dalam perkawinan sejarah Islam dan tasawuf, sedikit lebih jelas dalam peta wilayah capaian Syekh Yusuf al-Taj al-Khalwati al-Makassari. Tapi itu beberapa abad lalu, sedang saya masih dan sedang mengalami Maiyah. Maiyah ada, tapi susah saya temukan dalam peta tua nan kucel itu.

Anehnya makin ke sini makin jelas saja mata saya membaca peta tua itu. Saya jadi melihat jelas garis batas yang buram di antara wilayah, atau kanal-kanal persambungan antar ideologi yang tampak bertentangan namun tertutup debu zaman. Beberapa wilayah ternyata aslinya tidak ada, beberapa lagi ternyata aslinya ada tapi terhapus.

Rupanya di atas peta tua itu, Maiyah membentangkan peta yang jernih bening lembarannya namun garis-garisnya lebih jujur dan sesuai. Dan peta yang dibentangkan oleh Maiyah itu, ukurannya agak lebih luas dari peta tua yang tadi. Peta kucel tadi seukuran meja makan di dapur saya, Maiyah membentangkan peta yang seukuran samudera, kemudian dikuadratkan.

Maka, mereka yang tinggal di dalam peta lawas itu, kemungkinan saling bertengkar atau merasa berbatasan dan berlawanan satu sama lain. Dengan garis-garis batas yang makin buram. Mereka yang berpegang pada peta lawas itu, tidak bisa menjangkau tepian-tepian ufuk cakrawala yang ada di peta Maiyah. Sekarang ini, tak ada pertarungan salah vs benar, yang ada hanya pertikaian antar manusia yang kurang berusaha menjangkepkan sudut pandangnya saja. NKRI vs khilafah, sunni vs syiah, NU vs HTI, Marxisme vs Kapitalisme. You name it. Dan pertikaian itu makin membosankan. Ini bukan pernyataan terselip bahwa saya sudah jangkep melihat semua itu, bukan.

***

Gambaran peta di atas bisa jadi dan hampir pasti banyak salahnya. Banyak luputnya. Lebay mungkin. Namanya juga analogi, tidak akan pernah sempurna. Dalam analogi harusnya apple to apple, tapi itu juga kan semua apel beda bentuk dan ukurannya. Dalam hal ini, mending melihat dari ukuran molekul.

Ada juga analogi dengan taman dan pagar.

Ibarat Islam adalah taman yang sangat indah, karenanya dianggap sangat berharga. lantas para pendahulu kita, membuat pagar-pagar untuk melindunginya. Dan setiap generasi menambahkan pagar baru sehingga berlapis-lapis, tinggi pagar itu, dan tebal.

Di atas pagar yang tinggi dan tebal itu telah lahir pasukan penjaga, turunan dari pemrakarsa pembangunan pagar pelindung taman. Mereka tidak jahat, hanya mereka sudah agak lupa cara turun. Sementara pada generasi sekarang ini, manusia makin butuh taman Islam, banyak penyakit yang hanya bisa diobati dengan tanaman herbal yang tumbuh di Taman kesejatian Islam.

Ketika mereka yang membutuhkan mau masuk, mereka dihadang pagar. Sebagian beradaptasi dengan cukup menikmati lumut-lumut di pagar sebagai tanaman taman Islam yang sejati, sebagian mencoba menerabas masuk dengan mendobrak pagar dinding tebal dan berlapis. Otomatis yang tinggal di atas pagar mempertahankan diri ketika digoyang posisi berdirinya. Ributlah mereka.

Maiyah tidak konsentrasi pada pagar. Maiyah membangun manusianya, agar memiliki kesaktian untuk melenting meringankan tubuh meloncati pagar untuk kemudian tetap memiliki kemampuan dan kebesaran hati untuk menghormati pagar.

Bila taman itu adalah Islam,  pagar-pagarnya bisa jadi adalah metodologi, ilmu-ilmu dari kitab-kitab dan capaian-capaian para auliya terdahulu.

Ini pun, satu analogi juga. Tidak sempurna tentu saja. Cuma agak teatrikal.

***

Intinya, dengan memakai kesadaran, pemahaman serta bahasa manusia zaman now agak sulit mendefinisikan Maiyah dalam peta diskursus dan wacana. Tapi bagi sebagian mereka yang bekerja di wilayah diskursus, Maiyah adalah salah satu kunci mainstreaming wacana. Narsis?

Bisa jadi, tapi ini begini. Cukup banyak pemahaman yang lahir di Maiyah, dielaborasi dan dipahami atau sekadar dilontarkan di Maiyah yang kemudian menjadi mainstream di masyarakat. Saya beberapa kali main teater dan sejak dulu, beberapa pelatih teater sering memakai istilah “jalan sunyi” itu satu saja. Belum kalau misal pembaca yang budiman tertarik menelusuri nasab muasal istilah lain semacam “komunitas” di awal 90-an. Kalau itu terlalu lawas, bisa juga cek kapan dan di mana pertama kali istilah “sumbu pendek” dilontarkan, atau mungkin yang sesikit mutakhir pengistilahan “sinau bareng”.

Popularitas barangkali, tapi tidak sesepele itu. Kalau soalannya sekadar populer, maka Maiyah jelas tidak sepopuler para tokoh politik dan agamawan. Namun, yang dibicarakan di sini adalah penerimaan batin masyarakat terhadap sesuatu.

Dalam aktivisme, mainstreaming wacana itu sangat krusial. Bila dipetakan secara umum pergerakan aktivis, ada yang bergelut dalam diskursus kemudian ada yang pendampingan masyarakat dan ketiga ada advokasi. Persoalannya lagi-lagi, Maiyah ada di mana dalam peta ini? Tidak tampak, tapi pengaruhnya sulit dipungkiri.

Namun mereka yang bergerak di lapangan punya maqom perjuangan yang sedikit beda dengan yang berkutat dengan diskursus. Dalam peta diskursus, satu entitas ide harus ada lawannya. Maka salah satu kunci mainstreaming adalah pemitosan heroisme dan antagonisme, sesekali pemartiran. Yang terbiasa di lapangan, seringnya menemukan bahwa polarisasi peta diskursus tidak selalu sejalan sebangun dengan kenyataan hidup. Karena memang pembacaan dan sample-nya beda.

Maka ketika beberapa waktu lau ada seorang aktivis yang berkomentar miring mengenai Mbah Nun dan KiaiKanjeng berkenaan dengan pembangunan bandara di wilayah DIY, saya pribadi kurang begitu terkejut. Karena memang peta yang dipahaminya adalah peta diskursus. Orang yang di lapangan, beda kesadarannya. Ini tidak berarti satu lebih baik dari lainnya, hanya maqom, tempat berpijaknya berbeda.

Saya juga tidak berniat menjadikan tulisan ini sebagai jawaban atas tudingan itu, tentu tidak layak saya. Secara keilmuan tentu bung aktivis itu lebih mumpuni, lebih suci niatan hatinya dan lebih banyak bacaan wacananya. Hanya untuk masuk ke wilayah real kemasyarakatan, memang bukan ukuran seberapa paham kita dengan metode pembongkaran teksnya Derrida. Kalau soalannya sudah soal pemberdayaan, pengorganisasian, koordinasi, konsolidasi, mobilisasi, hingga menuju revolusi massa, urusannya tidak lagi wacana diskursus, urusannya bisa diterima di hati masyarakat atau tidak. Dan begitu itu, sialnya (atau untungnya?) Maiyah juga ndak tampak main di situ. Tidak tampak, bukan tidak ada.

***

Namun jangan pernah katakan bahwa Maiyah tidak punya reaksi pembelaan terhadap kaum lemah, dilemahkan dan terlemahkan. Hanya sayang sekali sudut, jarak dan sisi pandang Maiyah memang sudah sulit berkesesuaian dengan sudut pandang materiil dunia fana, apalagi dunia maya.

Maiyah memandang dengan “laa syarqiyyah walaa gharbiyyah“, laa komunis walaa kapitalis, laa santri walaa kiai, laa jokowi walaa prabowo, laa NU walaa HTI. La! Ini juga bukan kesadaran eksistensialis “manusia yang membukan atau menidakkan” ala Sartre ya. Tolong, bedakan.

Pembelaan terhadap yang dilemahkan dalam Maiyah bukan bertolak pada ukuran materi semata. Dalam memandang yang dilemahkan, bagi Maiyah itu adalah semuanya. Rakyat, aparat, pemodal siapa yang dilemahkan? Semuanya! Satunya cetho wela-wela terlemahkan secara ekonomi, satu terlemahkan posisi berpikirnya, satu terlemahkan secara struktur kewajiban tugas. Di sini kita membangun kesadaran untuk saling memahami kondisi masing-masing. Maka mereka yang dilemahkan harus kembali memperkuat diri, sebab konon Allah swt lebih senang dengan ummatnya yang kuat.

Beda tipe pelemahannya, beda cara memperkuat dirinya. Maka sudah sewajarnya bersama-sama, berjamaah, bukannya jadi massa. Dalam massa, manusia digiring ke sana kemari, disuruh mengalah atau melawan, dipadamkan atau dinyalakan. Massa selalu dipandang kumpulan awam, sehingga para aristokrat diskursus merasa bahwa mereka bertanggung jawab mengobarkan perlawanan. Padahal tidak, alasan perlawanan harus dari kedirian manusia.

Dalam jamaah, setiap individu dibiasakan mandiri berpikir dan bersikap, bebarengan menyucikan hati dan pikiran. Karenanya bukan manusia yang diangon, tapi kahanan. Maka itu satu jamaah seperti satu tubuh, terluka satu terasa di bagian lain. Bukan tertangkap satu malah dijiadikan bagian dari taktik pemartiran.

Mereka yang tergusur dan terrampas tanah wilayahnya harus melawan. Siri’ kata orang Bugis. Harga diri dan martabat harus dibela biar berkalang tanah bersimbah darah. Mempertahankannya dengan nyawa adalah “mate ri gollae mate ri santannge” mati dengan gula dan santan, sweet death, jihad fii sabilillah dalam sudut pandang tertentu. Namun, alasan perlawanan tidak semata-mata karena derita. Melawan karena tidak tahan derita bagi orang Bugis juga akan dianggap kurang siri’na. Setidaknya dulu begitu bapak saya menasihati.

Ada hadits saya pernah baca ketika Rasulullah Saw mendengar kasus pembunuhan, Rasul Muhammad Saw yang sangat lembut hatinya itu menyampaikan bahwa baik yang dibunuh maupun yang terbunuh ada di jurang neraka. Wah, betapa tidak berpihaknya Muhammad saw pada korban? Tega sekali? Kenapa? Karena menurut Rasul, yang dibunuh, juga berniat membunuh pembunuhnya bila ada kesempatan.

Perjuangan, perlawanan tetap harus ada dan berlanjut dilakukan. Namun perjuangan dan perlawanan seperti apa, bagaimana mateg aji niat dalam hati itu yang diasah di Maiyah. Wajib menghukum pencuri, namun jangan karena eman barangnya tapi justru karena sifat kasih sayang kepada si pencuri itulah “a’izzah ‘alal kaafirin” ndak enakan hatinya sama yang kafir, ter-cover kegelapan roso manungsonya. Pencuri bisa koruptor, penggusur, atau siapapun kita. Kalau aktivis yang sedang cuci tangan dari kekalahan perlawanannya dengan mengkambinghitamkan sesosok yang dianggap kunci mainstreaming wacana sepertinya tidak begitu wajib diperingatkan.

***

Manusia sejatinya tidak bisa melihat. Allah meminjamkan mripat-Nya pada manusia untuk makrifat. Dalam beberapa wacana thoriqoh yang agak konvensional, term memakai mata Allah kemudian menjadi satu kasta yang harus ditempuh oleh si awam, dengan berguru dan lain sebagainya. Ini tentu tidak buruk. Hanya sayang, manusia memang kemudian selalu terpeleset untuk lalu menjadikan wacana sesuci apapun untuk melegitimasi kelas dan relasi kuasa.

Dalam Maiyah, melihat dengan mripat Allah swt adalah sudah kodrat. Adalah “pancen” bukan “kudu”. Bagi pengalaman indrawi, melihat dan mendengar adalah proses menuju mengenal dan mengetahui. Namun Allah Swt sudah Maha Mengetahui, sehingga rasanya beliau ndak perlu-perlu amat melihat dan mendengar apalagi pakai kata Maha.

Namun Allah Swt tetap Maha Melihat dan penglihatannya dipinjamkan ke manusia. Odin, dewa tertinggi dalam mitologi Nordik, malah menaruh satu matanya di sumur kebijaksanaan. Ini saya ngapain ngelantur ke mitologi Nordik?

Melihat dengan mripat Allah Swt mungkin adalah gambaran bahwa kita memakai sudut pandang yang tidak melulu fana, tidak sekadar ilmu katon.

Sampai di sini, saya harus menyadari bahwa tulisan ini malah mengesankan Maiyah seperti gerakan pembaruan. Itu tidak salah, namun juga bukankah sesungguhnya setiap Nabi dan Rasul yang turun memang selalu menganjurkan nasihat yang ini-ini juga?

Para anbiya wal mursalin, manusia-manusia yang diutus oleh Allah Swt untuk memperingatkan manusia bahwa selalu ada sesuatu yang tidak seperti tampaknya. Ada perpolitikan yang tidak seperti politik yang kita kenal, ada perdagangan yang tidak seperti yang diparktikkan manusia pada umumnya, ada pergerakan yang nampaknya tidak bergerak tapi sesunggunya malah lejit kecepatannya.

Katakanlah ini ada sebuah peta. Kusut petanya, sebagian garis batas wilayah memudar, sebagian lagi malah tertambahi noda, kotoran, lecek. Peta ini berisi wilayah cakupan wacana, diskursus, ideologi, tokoh, pemikiran sehingga juga turunannya adalah bebentuk gerakan, praktik praksis. Ini peta ribuan…