Pertapaan Ramadlan (1)

Kuanjurkan kepada berjuta-juta anak dan cucuku untuk mengambil waktu selama sepuluh hari terakhir Ramadlan untuk bertapa, terutama di Masjid. Bertapa. Melakukan pertapaan. Berhenti. Diam. I’tikaf.

Di antara berjuta-juta mereka, yang berkonsentrasi sungguh-sungguh mendengarkan anjuranku, hanya seribu dua ribu. Di antara seribu dua ribu, yang menggunakan kecerdasan naluriah untuk memahami anjuranku, hanya seratus dua ratus. Di antara seratus dua ratus, yang bertandang melakukan anjuranku, hanya sepuluh dua puluh.

Dan di antara sepuluh dua puluh, yang menunjukkan indikasi bahwa mereka khusyu, intens, sublim, mendalam, menyelam hingga mendekati nucleous rohani — hanya satu dua orang. Mungkin tiga empat. Boleh juga dianggap empat lima. Demi apresiasi terhadap niat suci mereka, demi kemurahan dan rasa syukur.

Di antara beberapa anakku itu ada yang belum bisa diajak berbicara. Konsentrasi bertapanya dibawa kemanapun ketika keluar dari Masjid. Proses internalisasinya belum selesai. Perjalanan kontemplasinya masih berlangsung, meskipun secara jasad ia sudah melakukan berbagai hal sebagaimana orang lain.

Satu dua lainnya sudah bisa kusapa, kuajak bicara, kuwawancarai. “Iktikaf itu bagaimana to?”
“Ya iktikaf saja. Berhenti. Diam”
“Yang berhenti apanya? Berhenti berpikir?”

“Nggak juga sih. Kita bisa mengendalikan pikiran, tapi terbatas. Kita bisa tidak memikirkan sesuatu, tapi pikiran itu berpikir sendiri di luar kemauan, perintah atau larangan kita”

“Jadi selama iktikaf pertapaanmu, pikiranmu tetap berseliweran ke sana kemari?”

“Semacam itu. Seakan-akan pikiran itu makhluk lain yang bukan saya. Dia mandiri dan merdeka, meskipun saya bisa menawarnya, membelokkan, sedikit menghentikan atau menyuruh beralih konsentrasi. Tetapi ia memiliki otoritas untuk melakukan perjalanannya sendiri. Bahkan dia sering bisa menyentuh inspirasi, ide atau gagasan yang baru, yang saya tidak pernah mengetahui sebelumnya”

“Jadi iktikafmu berisi aktivasi pemikiran? Semacam tafakkur?” “Sebenarnya pikiran mengaktivasi dirinya sendiri. Saya hanya berdialog dengannya, memesan sesuatu, menawar atau memintanya tentang sesuatu hal”

“Berarti, keadaan-keadaan dunia kamu bawa ke dalam pertapaan iktikafmu? Juga keadaan Negerimu Indonesia?”

“Andaikan tidak saya bawa, pasti ngikut juga. Sering saya merasa terganggu kalau Indonesia nyelonong-nyelonong masuk ke ruang batin iktikaf saya. Indonesia sangat merepotkan hati saya dan bikin lumpuh pikiran saya. Tetapi kalau saya berniat mengusir atau membuang Indonesia dari bilik kesunyian iktikaf, rasanya sayang juga, sebab bagaimanapun saya sangat mencintainya. Dan ternyata sangat mendalam”

“Memang Indonesia adalah kekasihmu. Kamu boleh kecewa, marah, berang, bahkan benci dan ingin membuangnya. Tetapi tetap saja ia adalah kekasih hatimu. Tapi kenapa sebenarnya kok kamu merasa bahwa Indonesia sangat merepotkanmu?”

“Indonesia dalah wahana segala energi kehidupan yang serba melebihi ukuran. Indonesia adalah ruang segala yang gaib-gaib dan segala yang serba berlebihan. Komplikasi masalahnya melebihi ukuran ilmu pasien dan dokternya. Ketahanannya melawan sakit dan penyakit juga melebihi ukuran makhluk normal siapapun dan apapun di bumi. Kehebatannya berlebihan, sehingga mengancam dirinya sendiri. Kepandaian berlebihan sehingga serabutan tempat dan aplikasinya”

“Tapi bagus dong, bagaimanapun itu adalah kepandaian”
“Jangan lupa kebodohannya berlebihan sehingga justru amat mengagumkan. Kebandelannya berlebihan sampai-sampai saya membayangkan sejumlah Malaikat mengeluh karena itu”

“Asal kamu tetap ingat bahwa tidak ada pasal keluhan dalam kehidupan Malaikat. Tidak ada sistem psikologi semacam itu pada makhluk yang utuh rohaninya”

“Tapi kebebalannya melebihi batas, sehingga saya terkadang berimajinasi bahwa Tuhan sendiri agak terperangah karena tidak pernah merasa menciptakan makhluk yang dahsyatnya sampai sebegitu”

“Kalimat seperti itu jangan sampai kamu ucapkan dan didengar oleh siapapun, terutama para pemimpin Agama dan cerdik pandai Islam”
“Kan saya bilang berimajinasi. Bukan berasumsi. Apalagi menyimpulkan suatu kenyataan. Itu pun saya tidak niat. Imajinasi itu muncul secara natural karena terbatasnya akal pikiran saya”

“Kamu tadi bilang Indonesia adalah ruang segala yang gaib-gaib. Maksudnya apa itu? Santet atau tenung selama Pilkada? Hantu sakti sejak BLBI, saham Papa hingga E-KTP? Mobilitas segala komponen 2017-2018 yang dikonsentrasikan untuk perebutan 2019?”

“Aduuuuh….”

“Pertemuan Nasional para Mawali, Masayikh, para Ki Ageng dan Ki Gede, kaum Begawan dan Panembahan, beliau-beliau sukma yang mukswa dari zaman sebelum Yesus? Rapat para Ruh Nusantara dari 18 titik penjagaan Pusaka Sejarah? Keris-keris yang meloloskan diri dari Wrangkanya, minggat dari bilik penyimpanannya?”

“Kok indikatif klenik begitu. Mohon tidak mendramatisir. Yang saya maksud dengan gaib itu adalah semacam turunnya adzab dari langit, yang berupa suatu jenis kegelapan, yang membuat pikiran menjadi jadi buta, ilmu jadi lumpuh dan pengetahuan hilang arah. Indonesia berjalan dengan cacat, salah meletakkan orang di kursi, lapangannya kehilangan gawang, shalatnya salah kiblat, orang pada makan tinja karena packaging-nya mirip roti…”.

Yogya, 19 Juni 2017.

search cart twitter facebook gplus whatsapp telegram youtube image