Daur-II • 229

Permakluman Kepada Muqallidin

Pakde Sundusin menyambung tertawa Jitul dengan nada yang lebih tinggi dan lebih panjang. Anak-anak itu agak kaget juga.

“Kalian pasti tidak berpikir bahwa kami orang-orang tua ini tidak mengetahui dan belum pernah menyadari apa yang tadi kalian jlenterehkan panjang lebar…”

“Bukan begitu maksud kami, Pakde”, Junit segera membenahi kesan itu.

Pakde Brakodin memotong, karena merasakan sesuatu yang bisa tidak enak kelanjutannya. “Justru itu yang tadi Pakde tanyakan kepada Toling. Kita semua sama-sama sudah mengetahui itu semua, lantas mau apa…”

“Mau apa bagaimana, Pakde?”, Toling balik bertanya.

“Apa sikap dan keputusan kalian sesudah menyadari tradisi taqlid masyarakat dunia dari zaman ke zaman itu. Apakah kalian akan pindah ke Planet Mars atau tempat lain di jagat raya yang amat luas ini?”

Junit yang menjawab dengan tenang. “Yang jelas teman-teman ini, juga saya, merasa tidak mungkin menjalani hidup ini sampai tua nanti hanya untuk tiap hari memberikan permakluman terus menerus kepada Muqallidin, kepada rutinitas pembebekan para pembebek…”

“Contohnya Indonesia, dan hampir semua Negara di dunia”, Toling memotong, karena merasa dia yang awal mula menjadi sumber topik ini. Ia mengutip firman “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah’. Mereka menjawab: “Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti bapak-bapak mereka walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala neraka”. [1] (Luqman: 21).

“Bahkan Indonesia lebih parah”, lanjut Toling, “Indonesia mengingkari nenek moyang mereka sendiri, kemudian mengambil Bapak Angkat dari luar Negeri, entah Barat entah Utara, untuk dijadikan Latta dan Uzza, dan mereka membebek…”