Perjamuan Prasmanan (di) Maiyah

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, Yogyakarta 17 Mei 2017

Suhu udara Jogja sedikit gerah hari-hari belakangan ini, namun tidak bisa dibandingkan dengan suhu politik dan sosial terutama di ibukota ‘negeri seberang’ yang benar-benar sedang mendidih. Manusia terpolarisasi dalam kubu, golongan, simbol, slogan, dan tokoh pujaan. Seolah ada pilihan namun sebenarnya tidak, bahkan tak pernah ada yang bertanya apa yang tidak ingin mereka pilih.

Manusia di ‘negeri seberang’ itu seperti berada dalam warung cepat saji di mana pilihannya sudah berupa paket-paket yang telah ditentukan. Padahal kita semua sudah mafhum bahwa paket apapun yang ditawarkan di warung cepat saji semacam itu tetap saja junk food: makanan sampah.

Mocopat Syafaat Mei 2017

Saya memilih ke warung prasmanan. Ini bukan simbolik. Memang ketika datang ke Mocopat Syafaat 17 Mei 2017 ini, saya dan istri saya duduk di sebuah warung lesehan yang menunya silakan pilih sendiri, ambil sendiri kecuali menu minuman yang mesti dibuatkan oleh ibu empunya warung. Rasanya, di Maiyah memang tidak ada warung cepat saji yang menjajakan junk food.

Dan memang pada malam itu, tema-tema pembahasan di Mocopat Syafaat sangat beragam. Butuh sedikit kelincahan berpikir untuk meloncat dan melenting-lenting dari satu dahan pemahaman ke pemahaman lain. Butuh ilmu meringankan tubuh, dan sebelum itu tentu butuh kuda-kuda yang mantap untuk bisa menjejak dengan tegas.

Sajian Pembuka: Mengokohkan Kuda-kuda

Seperti juga sebelum-sebelumnya, JM mulai mengkondisikan tubuh, hati, dan pikiran dengan lantunan bacaan Al-Qur`an yang dilanjutkan dengan sesi ‘gelar kloso’ oleh sedulur-sedulur dari lingkar diskusi Martabat.

Sekelompok band bernama Metahari Jingga dipersilakan tampil, sembari juga digali petikan-petikan hikmahnya. Rupanya para personel band ini sudah terbiasa mengikuti Maiyah melalui media-media online dan sesekali mengikuti kajian-kajian Mbah Nun di luar Maiyah rutin.

Dibawakanlah empat buah lagu. Saya sempat mencatat dua lagu awal yang liriknya diambil dari khasanah naskah-naskah Jawa, yakni Suluk Kanjeng Sunan dan Serat Kalatidha. Tentu kita sudah tidak asing dengan dua karya tersebut, namun oleh Metahari Jingga dua penggalan syair Jawa itu dibawakan dengan aransemen yang cukup mudah diterima oleh pendengar belia.

Gelar kloso kali ini memang singkat namun sangat efektif memberi sapuan nuansa.

Tak berapa lama tampuk ‘petugas panggung’ beralih kepada Mas Helmi dan Mas Jamal serta Pak Toto. Juga bapak-bapak Kiai Kanjeng ikut naik ke panggung.

Mas Helmi membuka kembali diskusi dengan bertanya tentang latar belakang berdirinya KiaiKanjeng. Pertanyaan tepat yang juga disampaikan pada pihak yang tepat pula, mengingat Pak Toto adalah pengagas berdirinya KiaiKanjeng.

Maka dimulailah penggalian mengenai apa dan bagaimana serta seperti apa kiprah KiaiKanjeng selama ini.

“Tentu pertanyaan itu akan berbeda jawabannya bila diajukan zaman dulu ketika saya masih muda dengan kalau diajukan sekarang. Itu seperti kalau orang bertanya kepada saya soal kesehatan, ya ndak sopan nanya ke wong tuo kok kesehatan ya jelas ndak sehat to yo. Mbok nanya itu bahagia apa ndak gitu”

Pernyataaan awal Pak Toto ini, yang saya kutip sejauh saya bisa mengingatnya, mulai membekali pikiran kita dengan konsep relativitas kebenaran. Bahwa persepsi akan sebuah fakta, bukan saja bisa berbeda dari sudut pandang orang yang berbeda tapi juga bisa berbeda ketika dihadapkan pada timing, tempat, nuansa, dan konteks yang berbeda bahkan walaupun oleh orang yang sama.

Awalnya konsep KiaiKanjeng dengan kreativitasnya, dengan musikalitasnya, dan berbagai potensi kesenimanan mereka dulu dianggap sebagai bentuk perjuangan perlawanan terhadap rezim represif, bentuk penyadaran kepada masyarakat namun seiring perkembangan waktu kemudian kesadaran itu berevolusi pada konsep pelayanan sosial, media silaturahmi, sangu akhirat dan tentu juga untuk mendukung Mbah Nun dalam melakukan proses pendidikan pada masyarakat. Evolusi kesadaran dan konsep ini tentu tidak meruntuhkan penemuan konsep yang awal tapi justru menyempurnakannya. Mungkin, seperti itulah juga spirit Islam sebagai agama terakhir; menyempurnakan bukan meruntuhkan.

Setelah itu kisah mengalir dari Pak Toto yang juga dilengkapi, ditambahi, dan ditimpali oleh Bapak-bapak KiaiKanjeng. Cara Bapak-bapak sesepuh kita ini bertutur saling silih berganti, saling menimpali seperti satu bentuk aransemen sendiri. Bagaimana satu nada mengiringi nada lainnya, nada satu mengisi kekosongan di bagian ini, dan nada yang lain menjangkau pada capaian yang berbeda. Begitulah aransemen pembahasan dibangun secara kompak oleh Pak Toto, Pak Nevi Budianto, Pak Joko Kamto, Pak Yoyok, Pak Blothong, dan lainnya. Rasanya memang setiap personel KiaiKanjeng telah memiliki maqom atas walayah nadanya masing-masing dan dipertemukan dalam satu ritme, irama dan tempo menghasilkan simfoni.

Bisalah kita sebut ini sebagai pemantapan kuda-kuda. Kita yang benar-benar berniat menggali kedalaman Maiyah memang perlu betul mengenal apa, siapa, dan bagaimana KiaiKanjeng.

Kisah mengalun merdu, bagiamana KiaiKanjeng ikut mengatasi berbagai persoalan di masyarakat dari pertikaian di Lampung, kerusuhan di Kalimantan, dan lain sebagainya. Di situ pula KiaiKanjeng mulai menemukan diri sebagai media komunikasi antara Mbah Nun dengan masyarakat.

Pak Nevi dan Pak Joko Kamto banyak menyumbang kisah pada seputaran KiaiKanjeng era awal. Dari ketika menjadi karawitan musik Teater Dinasti. Tentu tidak kalah penting juga kisah sejarah Pak Joko Kamto dan Pak Nevi sendiri hingga pada kemudiannya bisa tergabung dalam organisme KiaiKanjeng.

Pak Yoyok, Pak Blothong, dan Bapak-bapak KiaiKanjeng lain juga melengkapi kisah-kisah itu dengan perjalanan serta pencapaian nada KiaiKanjeng dari masa ke masa.

Perlu diingat pula bahwa pada era berdirinya KiaiKanjeng memang sedang ramai perdebatan di kalangan seniman tanah air mengenai seni untuk seni itu sendiri ataukah seni sebagai media penyampai pesan. Bila kita runut sejarah kesenian, bisa jadi ini adalah terusan dari perdebatan lama di dunia filsafat-kesenian Eropa pada abad 19 ketika seniman Prancis sedang gandrung dengan istilah l’art pour l’art (art for art sake) yang kemudian mendapat perdebatan serius dari konsep kesenian marxis bahwa seni mestilah sebagai alat perlawanan, pembongkaran kelas.

Mocopat Syafaat Mei 2017

Pada era 70 hingga 80an, perdebatan semacam itu juga marak di kalangan seniman kita. KiaiKanjeng lahir di antara perdebatan sengit itu. Namun rupanya KiaiKanjeng tidak terjatuh pada konsep baku dan beku. KiaiKanjeng memilih jalur yang otentik bahwa seni tetap mesti kontekstual dan juga sebagai media silaturahmi. Bila kita jeli, sebenarnya perdebatan konsep kesenian ala Eropa itu memang tidak kontekstual untuk kondisi masyarakat kita. Karena sesungguhnya pada masyarakat kita sejak dulu dipahami bahwa seni adalah media untuk guyub. Rupanya, itulah yang dibawa oleh KiaiKanjeng dan dengan begitu KiaiKanjeng justru juga merangkul kedua konsep tersebut. Bahwa estetika, capaian keindahan, memang perlu namun juga dia tetap efektif untuk menyampaikan pesan plus dia bisa berfungsi menemani masyarakat yang sedang dikepung berbagai permasalahan.

Mas Helmi sempat mengajukan pertanyaan tentang apakah bisa strategi-strategi kebudayaaan seperti yang dilakukan oleh KiaiKanjeng dulu itu dipakai untuk menanggulangi permasalahan yang terjadi pada era sekarang. Rupanya para sesepuh kita cukup kompak untuk berkata bahwa permasalahan yang sekarang sudah jauh lebih kompleks sehingga cara-caranya juga tidak bisa seperti dulu lagi. Bahkan berkatalah Pak Toto, “Dulu orang berkonflik di internal mereka. Sekarang, yang berkonflik kan buih. Saiki sing berkonflik umpluke. Umpluke Jokowi, umpluke Ahok umpluke Habib Rizieq…”

Pak Wahyudi Nasution yang sekarang berdomisili di Klaten yang merupakan manajer KiaiKanjeng sebelum Cak Zakki juga ikut menyumbang kisah. Ketika mulai aktif kembali di komunitas Mbah Nun era pasca pemilu 99, Ia juga menyaksikan peristiwa-peristiwa yang merupakan tonggak bersejarah dari Sumpah Nusantara di Boulevard UGM pada 2000, Konser Kenduri Cinta di Jakarta pada 2001, dan lainnya. Sampai ketika pada satu titik Mbah Nun tidak lagi menerima permohonan acara apapun dan hanya bersedia berkeliling untuk sholawatan, menyapa masyarakat dengan berbusana putih-putih.

Dan benarlah, semua narasumber yang menyumbang cerita mengenai KiaiKanjeng bersepakat bahwa Maiyah merupakan puncak dari capaian-capaian Kiai Kanjeng.

Sajian pembuka ini kemudian dilengkapi dengan sesi tanya jawab yang dimanfaatkan oleh sejumlah sedulur JM untuk, ya tentu saja, bertanya dan beberapa sekalian request lagu. Tidak hanya penanya yang request, tim penata perkir bagian selatan juga ikut request “ilir-ilir”, sedang yang lain request “Rampak Osing”

Lagu Ilir-ilir dinyanyikan dengan pembukaan tembang dibawakan oleh Pak Herman yang juga sudah tidak asing bagi para JM di Mocopat Syafaat. Suaranya yang berat dan menggema namun begitu membius ketika menembang turut pula mewarnai sajian-sajian ilmu, hikmah, dan nuansa sepanjang malam kali ini.

Semuanya dilayani oleh bapak-bapak KiaiKanjeng. KiaiKanjeng memang tidak main-main dengan kekuatan dan konsep silaturahmi. Turut pula dibawakan selanjutnya lagu-lagu Sluku-Sluku Batok dan Ya Ampun.

Suguhan Mbah Nun

Sudah lewat pukul 23.00 WIB ketika Mbah Nun dipersilakan oleh Pak Toto naik ke panggung, setelah sebelumnya Pak Mus membacakan sebuah puisi berjudul “Senjakala Sekularisme’.

Mbah Nun memulai dengan melemparkan pertanyaan, “kalau Anda buka warung makan, Anda akan ikut selera sendiri atau seleranya yang beli?”

Tentu saja dijawab, “Selera yang beli”.

Maka pertanyaan ini menjadi jurus pembuka bagi bahasan-bahasan selanjutnya, yang cakupan temanya luas dan beragam. Seperti di warung prasmanan, setiap kita bisa memilih sepanjang yang bisa kita jangkau.

Mocopat Syafaat Mei 2017

Bahwa benar selera kita itu penting namun dalam pergaulan sehari-hari kita juga perlu mempertimbangkan ‘selera’ kebenaran orang banyak. Maka yang terjadi adalah dialektika. Tetapi yang perlu diingat, apapun ‘selera’ kebenaran yang kita anut sebaiknya produknya adalah keindahan dan kesantunan. Kebenaran, biarlah dia jadi urusan dapur sendiri-sendiri, tidak perlu ditampakkan di depan orang lain.

“Tapi yang terjadi sekarang adalah semua alat-alat masak yang mestinya di dapur itu malah disuguhkan ke orang sehingga yang terjadi adlah pertengkaran terus-menerus”

Mbah Nun menyinggung fenomena di socmed di mana orang-orang berlomba-lomba menunjukkan ‘alat dapur’-nya, yaitu versi kebenarannya masing-masing padahal kebenaran adalah untuk diri sendiri dan bila tidak terpaksa betul, tak perlu diutarakan kepada orang lain. Pun, bila benar-benar terpaksa mesti membantah kebenaran orang lain, maka lakukan dengan cara yang santun merujuk pada QS An-Nahl: 125.

Maka jadilah kemudian malam itu sajian-sajian prasmanan dari Mbah Nun berupa ilmu-ilmu dan kemesraan Maiyah yang mengajak kita memberdayakan akal, menajamkan kepekaan rasa, bergembira, dan terharu bersama.

Mbah Nun bahkan menyajikan pula pada kita suguhan dari ilmu Maiyah yang sudah pernah dibahas namun memang rasanya perlu untuk kita ingat-ingat kembali. Mengenai tiga jenis kebenaran: benarnya sendiri, benarnya orang banyak, dan benar yang sejati.

Kebenaran yang kita yakini adalah aurot kita, manusia di sekitar kita hanya perlu produk dari kebenaran itu yang sudah kita olah di dapur sendiri. Pak Mus memberi timpalan bahwa di Jawa ada beda yang signifikan antara ‘bener’ dengan ‘pener’.

Memang ini sudah pernah dibahas pada majelis-majelis Maiyah, tapi sungguh bahasan ini memang sedang sangat kita perlukan akhir-akhir ini. Situasi gaduh tak berkesudahan di luar sana, polarisasi antar golongan, antar pemuja tokoh, dan penghamba konsep begitu memuncak suhu didihnya.

Kita yang terbiasa dengan kajian-kajian di Maiyah sudah sangat tidak asing membahas segala sesuatu dengan teliti, cermat, dan berusaha sepresisi mungkin. Kita sering menemukan adanya kesalahan pandang, keterplesetan cara pikir serta terbolak-baliknya nilai dalam sistem, baik itu pendidikan, politik, sosial, kebudayaan, kebatinan, dan lain sebagainya. Sehingga sejauh yang saya tangkap, JM sebenarnya memiliki potensi untuk tidak lagi percaya pada apapun yang berlangsung di depan mata mereka saat ini. Maka masuk akal juga apabila kita, para JM ini pun tidak percaya pada apapun ajuan konsep dan sosok tokoh yang diusung melalui sistem yang telah dan selalu kita temukan kebusukannya ini.

Dengan tradisi kritis terhadap apa saja di dalam organisme Maiyah—dari hal paling esensial-fundamental sampai pada tataran praktis—membuat godaaan untuk mengutarakan ini-itu, membuka kesalahan-kesalahan yang tersingkap pada kita, juga sesungguhnya sangat besar pada diri kita. Oh ya, sambil menuliskan ini saya coba menengok status FB saya, dan ternyata saya juga baru saja melakukannya dua hari yang lalu. Aih.

“Tentu saja Ahok merasa yang dilakukannya adalah benar, begitu pun Habib Rizieq juga merasa yang dilakukannya benar, maka kok bisa sekarang ini manusia yang merasa melakukan kebenaran diadu sedemikan rupa?” tegas Mbah Nun.

Mocopat Syafaat Mei 2017

Kesadaran yang perlu dibangun sekarang adalah “Al haqqu min robbika” bahwa kebenaran hanya milik Robb-mu. Manusia berposisi mugo-mugo (semoga).

Mbah Nun mengajak kita berpikir presisi kembali, mawas diri, dan waspada. Kita mesti memiliki presisis Al-Hakim atau setidaknya berupaya untuk menajamkan potensi Al-Hakim dalam diri kita agar kita bisa menemukan Hikmah dari segala sesuatu. Kemudian Kyai Muzammil menerangkan kaitan kata Hakim dengan Hikmah menurut ilmu shorof. Dan untuk, minimal, mendekat ke presisi Al-Hakim, dibutuhkan mekanisme penajaman dan kepekaan rasa, bukan sekadar kognitif.

Mungkin dengan kepekaan itu juga, sehingga Mbah Nun selalu menemukan celah yang cerdik untuk menyelesaikan persoalan dengan strategi kultural yang ciamik.

Suguhan Kisah Mauidhoh Hasanah

Satu kisah yang sempat disinggung Pak Joko Kamto di awal sesi diceritakan lebih detail oleh Mbah Nun. Yakni ketika dalam sebuah acara di Tambakberas, Jombang. Mbah Nun hadir bersama Cak Nur, Gus Dur, Eros Djarot, dan Megawati. Sedikit belok bahasan, nama Mbah Nun, Gus Dur, dan Eros Djarot dulu dikenal dengan julukan Trio Lebels Politik, yang dikatakan memiliki andil dalam terpilihnya Megawati sebagai ketua umum PDI waktu itu, yang berujung pada terbentuknya sebuah partai baru yang sekarang sedang di atas angin. Tapi ceritanya bukan tentang itu.

Kisahnya, ketika acara sedang berlangsung dan giliran Cak Nur menyampaikan materi pembicaraan, tempat acara didatangi oleh aparat yang membawa surat perintah untuk membubarkan acara bersangkutan. Tentu saja bila rombongan aparat dibiarkan masuk maka bentrok dengan Banser yang waktu itu mengamankan acara tidak akan terhindarkan.

Maka yang dilakukan oleh Mbah Nun kala itu adalah mengajak pemimpin regu aparat itu masuk untuk membacakan surat perintah pembubaran, sementara anak buahnya diminta menunggu di luar. Segera setelah itu, Mbah Nun mengumumkan acara bubar untuk kemudian meresmikan dimulainya sebuah acara baru yang tajuk acaranya berbeda dengan yang tadi officially sudah bubar. Kemudian, pembicara pertama adalah Cak Nur.

Maka ditemukan titik temu yang presisi. Para aparat bisa pulang dengan lega karena tidak terkena pasal mangkir dari tugas, sedangkan acara hanya berganti nama namun tetap berjalan. Bentrok terhindarkan. Waktu itu Gus Dur mengusullkan nama “Mauidhoh Hasanah” sebagai tajuk acara tersebut dan jadilah istilah itu populer hingga saat ini.

Saya rasa kita perlu benar-benar belajar dari kisah ini. Bahwa yang kita buruhkan saat ini adalah ketepatan dan kecermatan berpikir dari sebanyak mungkin sudut pandang. Ketajaman yang lembut. Dengan begitu kita bisa berupaya menemukan cara-cara yang humanis atau katakanlah strategi kultural.

Mocopat Syafaat Mei 2017

Saya coba menyimulasikan peristiwa tersebut dengan pelaku yang berbeda. Katakanlah yang menghadapi aparat saat itu adalah aktivis-aktivis yang terlanjur suka sekali disodorkan kisah-kisah berdarah. Mereka yang pokoknya hanya tahu kata “Lawan!”

Tidak sedikit dari kawan-kawan ini yang berpikir bahwa tokoh-tokoh anti rezim represif Orba haruslah mereka yang pernah mengalami ketersiksaan; ditangkap, dipopor senjata, dibuang, dihilangkan. Bukan kita tidak bersimpati pada derita, tapi kan intinya bukan itu.

Bila orang-orang semacam ini yang berhadapan dengan situasi semacam itu, banyak hal buruk yang bisa terjadi. Enggan memandang aparat sebagai manusia yang juga tidak berdaya di hadapan sistem dan cenderung memandang diri sebagai korban kedhaliman dan kebiadaban tentu saja  adalah yang paling populer. Tapi cara semacam itu tidak dipakai oleh Mbah Nun. Sedikit banyak saya berpikir, kecerdikan-kecerdikan Al-Hakim seperti ini yang membuat Mbah Nun walau terhitung sosok garda terdepan dalam melawan rezim Orba namun tidak pernah ada cerita Beliau tertangkap aparat, atau kisah-kisah mengharu biru ditindas aparat sehingga jarang disinggung dalam sejarah-sejarah aktivisme politik. Mana yang lebih heroik, bersikap cerdik atau berdarah-darah? Atau jangan-jangan, tolok ukur kita sudah rusak sejak lama sekali?

Perbedaan Suguhan Adalah Berkah

Pada akhir sesi, kita mendapati Mbah Nun dan Kyai Muzammil sedikit berbeda pendapat pada soal istilah ‘sabil’ dan ‘siroth’.

Berbeda dengan yang sering kita lihat di media massa atau di socmed, di mana ketika orang berbeda pendapat maka akan terjadi perdebatan tak henti-henti sampai keributan. Namun perbedaan yang terjadi antara Mbah Nun dan Kyai Muzammil pada malam itu justru adalah pelajaran berharga bagi kita. Kita memiliki opsi, ya seperti di prasmanan, kita bisa memberdayakan potensi akal kita untuk menimbang-nimbang, memilih, atau justru memiliki konsep sendiri.

Dan di sini, kita tidak perlu berkoar-koar untuk menunjukkan pendapat kita. Pun tidak perlu berteriak memekakkan telinga untuk bilang bahwa kitalah yang paling menghargai perbedaan. (MZ Fadil)

Suhu udara Jogja sedikit gerah hari-hari belakangan ini, namun tidak bisa dibandingkan dengan suhu politik dan sosial terutama di ibukota ‘negeri seberang’…