Perjalanan ‘Diperjalankan’

Banyak kisah heroik mengenai Jamaah Maiyah yang istiqomah bergabung dengan lingkar Maiyah di berbagai kota. Ada yang mengkhususkan diri bersepeda “ngonthel” dari Blitar menuju Surabaya bergabung dengan Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan, ada lagi yang bersepeda motor bersama istri dan anak bayinya dari Ungaran ke Kota Semarang bergabung dengan Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat, ada juga yang selalu “terbang” ke Pulau Jawa setiap jadwal Maiyahan tiba, dan kisah-kisah lain yang mungkin belum sempat tertuliskan.

Berbagai cara mereka lakukan agar bisa berkumpul melingkar dengan dulur-dulur Maiyah, bersama menghimpun cinta-Nya. Magnet Cinta bernama forum Maiyahan. Satu yang saya yakini, perjuangan seseorang menempuh perjalanan mencapai ilmu itu berbanding lurus dengan pemaknaan akan ilmu yang  diperolehnya. Seperti pesan salah satu guru saya di Malang, semakin berat suatu perjalanan maka semakin dalam pensuciannya.

Menyepi di Perantauan menjadikan tantangan tersendiri bagi saya setelah tahun-tahun sebelumnya dipenuhi “agenda” silaturahmi di beberapa forum Maiyahan. Namun ternyata Tuhan yang Maha-Memperkenankan tak lama-lama membiarkan diri ini menabung kerinduan.

Akhir Desember 2016, Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking ditemani Mas Gandhie bertolak menuju Frankfurt untuk Maiyahan bersama Masyarakat Indonesia di Belanda, Belgia, dan Jerman. Dari sana muncullah krenteg dalam diri untuk bersilaturahim dengan dulur-dulur Maiyah yang sama-sama sedang di Perantauan.

Biarpun banyak masalah seperti masa berlaku visa habis hingga sederet masalah official lain, ndilallah-nya Tuhan masih memperjalankan saya untuk bisa berkunjung ke Amsterdam pada libur Paskah lalu (15/04). Itu berarti saya dapat bersilaturahmi ke Rumah Mas Syafiih Kamil dan bisa bertemu Bu Rike dari Singapura, teman Bu Nadlroh As Sariroh Kepala Perpus EAN, yang sudah ngontak jauh-jauh hari sebelumnya. Dan, ndilalah-nya lagi, Ing Ndalem Kersaning Gusti, Mas Aditya Wijaya bersama Mbak Yulia juga berada di Amsterdam pada hari yang sama. Maka, jadilah kami melingkar kecil-kecilan mulai pukul 12.30 sampai 3.30 dini hari di Krommenie, Rumah Mas Syafiih.

Leren van Nederlands

Hujan es beberapa menit dan suhu dingin di luar ruangan menemani malam itu. Mas Syafiih Kamil adalah satu dari empat ratus lebih pemilik (afhaal) Restoran Indonesia di Belanda. Banyaknya restoran Indonesia di Belanda sama kasusnya dengan banyaknya Restoran India di Inggris, karena India dan Indonesia pernah menjadi jajahan dua Negara tersebut.

Di Belanda sendiri saya pernah menemukan Asia-market milik orang Cina yang menjual onde-onde, sate dan berbagai masakan khas Indonesia lain. Ajaibnya lagi pagi sebelumnya saat menunggu kereta, saya dan Mbak Etika dipertemukan dengan Bule Belanda kelahiran Malang tahun 1945 (dan uniknya dia memakai kaos Arema yang bukan sekadar menunjukkan dia supporter Arema tetapi juga cintanya kepada Malang) dan keinginan terbesarnya adalah bisa menghabiskan sisa usia hidupnya di Indonesia.

Selama diskusi, Mbak Etika menceritakan dampak lain kolonialisasi Indonesia oleh Belanda kala itu yakni banyak sekali kata-kata serapan dari Bahasa Belanda dan tentu sebaliknya. Pulpen (vulpen), reuni (reunie), laci (ladje) dan buncis (boontjes) adalah beberapa contohnya. Saking banyaknya kita mengadopsi budaya dan bahasa luar, mirisnya hari ini tinggal 3 orang saja yang menguasai Bahasa Sanskerta, Bahasa asli Nusantara dan Filologi Jawa Kuno.

Mas Syafiih kemudian mengisahkan, di Belanda ini terdapat banyak kemudahan untuk para entrepreneur seperti pedagang di antaranya pajak rendah bagi orang yang ingin membuka usaha pemula (starter). Mas Syafiih teringat pula kisah  kekuatan terbesar Nenek Moyang zaman Majapahit yaitu salah satunya ialah Perdagangan.

“Semua ingin bisa bekerja sebagai PNS, lalu siapa yang akan berdagang? Berentrepreneur. Kemana semangat berdagang Mbah-mbah kita terdahulu? Bisa-bisanya sekarang benar-benar terkikis habis, mental kita sangat berubah dari Semangat Nenek moyang kita. Ini sangat besar kemungkinannya ada hubungan erat dengan siasat kolonialisasi belanda yang berlangsung sangat lama. Orang-orang tua di Belanda sendiri yang mengalami dan mendengar tentang perang/perlawanan terhadap kolonialisasi di Madura, mengenal orang Madura sebagai orang yang kuat “Sterke Mensen”, Orang yang gigih, yang nggak mau patuh dan sulit sekali ditaklukkan alias Pengko,” papar Mas Syafiih.

Mbak Etika menuturkan pula bahwa Pemerintah Belanda sangat detail dalam hal mengarsipkan sesuatu sehingga diakui sebagai negara dengan arsip terbaik di dunia. Saking detailnya, bahkan mereka sampai mengetahui berapa jumlah pohon yang ada di Negaranya. Tak hanya itu, sejarah Jawa, Nusantara, Indonesia, terlengkap mulai artefak, kakawin, hingga pusaka ada di museum-museum  Belanda. Termasuk yang terbaru, ditemukan lukisan Mbah Syaikhona Kholil Bangkalan di Den Haag Museum. Juga, Pak Manu Jayatmaja Widyaseputra, satu dari 3 orang yang masih menguasai Bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno mempelajari Jawa Kuno pula di Rijksuniversiteit Leiden, Utrecht dan Groningen Belanda.

Di Eropa menurut saya mayoritas wisatanya berupa wisata sejarah. Kalau kita berkunjung ke Berlin misalnya, kita bisa menemukan ratusan museum yang tersedia. “Mereka (Bule-Bule Belanda Jerman) sangat serius dalam menjaga sejarah perjalanan bangsa, dan kualitas sejarahnya. Saya sering menemukan guide Museum-museum di Jerman yang bergelar Doktor”, tambah Mas Adit.

Obrolan beralih pada bahasan Pak Yogi Ahmad Airlangga. Beliau adalah ilmuwan Indonesia yang mampu memecahkan persamaan Helmhotz dengan metode Robust dalam program Ph.D beliau di Delft University of Technology Belanda. Selama 30 tahun terakhir, ilmuwan dunia tidak ada yang berhasil memecahkan persamaan Matematika Helmholz yang sering dipakai untuk mencari titik lokasi minyak bumi. Rumus tersebut bisa diaplikasikan dalam Industri radar, penerbangan, kapal selam, laser, termasuk NASA pun memakai rumus ini.

Mengagumkannya lagi, Pak Erlangga tidak mematenkan rumus temuannya itu. Dia meyakini bahwa ilmu itu milik Tuhan dan harus digunakan untuk kemaslahatan banyak orang. Programnya didukung penuh oleh Shell, satu dari tujuh perusahaan minyak terbesar di dunia yang berkantor di Den Haag. Setelah ditelisik, Shell juga mengawali sejarahnya di Indonesia. Tahun 1880, Aeliko Jans Zijklret mantan mandor Perkebunan Belanda di Pangkalan Branda Sumatera Utara menemukan cairan hitam yang ketika sudah diteliti ternyata berupa minyak bumi.

Pungkas sesi ini kami bersepakat bahwa Indonesia sangat mampu, dengan 260 juta jiwa penduduk, 17.000 pulaunya serta banyak keragaman lainnya, untuk terus mengeksplorasi kemampuan diri, mampu bersaing di kancah Internasional, dan ambil baiknya dari Ilmu-ilmu para Bule tanpa merasa rendah dari mereka. Kita sama. Bahkan di banyak event Internasional Indonesia mulai menampilkan jati dirinya. Lambang Garuda merupakan gambaran Bangsa yang besar.

Bangkitlah Garuda!

Di awal Bu Rike yang bekerja di Apple Singapura membuka diskusi dengan menanyakan kepada Mas Adit yang juga sedang menempuh studi Master Water Resources Engineering di Hannover, Jerman, soal Reklamasi. Tak dipungkiri pula reklamasi terbesar yang pernah dilakukan di Dunia juga ada di Belanda. Dari situ Mas Adit menjelaskan bahwa Pipa-pipa di Eropa pada abad ke-18 masih dalam bentuk kayu gelondongan yang diameternya belum seragam. Pada 1900 awal Eropa masih batu-batu yang ditumpuk. Mas Adit bersama Mbak Yulia pernah meneliti di museum Trowulan dan menemukan bahwa kerajaan Majapahit atau Nusantara pada abad ke-13 sudah membangun pipa yang seragam dan teknologi kanal yang luar biasa.

“Betapa kita dahulu lebih maju 5 abad dari Eropa, di mana Peralihan arsitektur menandakan pula sebuah peralihan peradaban. Namun, karya arsitek kita hari-hari ini lebih bergaya bebas dan minimalis. Di Indonesia tidak ada transfer ilmu. Padahal konsep leluhur dulu ketika membangun suatu wilayah selalu mempertimbangkan pasaran, waktu, sisi kosmologis, sisi filosofis. Konsep pembangunan dari leluhur benar-benar hilang secara massif dan terstruktur,” ujar Mas Adit.

Mas Adit juga menjelaskan Peradaban Timur dulu dari Hindus, Rajastan, Andalusia maju secara serentak. Di Metropolitan Museum, New York, ada peninggalan metalurgi nenek moyang nusantara di mana meriam-meriam abad ke-13 yang sekarang di Amerika dulunya belajar dari Kitab yang ada di Majapahit, juru kemudining bedhil besar merujuk pada saat Empu-empu Nusantara dahulu membuat keris dengan mencampurkannya dengan metal agar lebih kuat.

Peradaban-peradaban tua di dunia selalu memiliki kode atau sandi-sandi khusus yang tidak sembarang orang bisa mengetahuinya. Di Jawa sendiri, kode seperti itu konon tersimpan misalnya dalam serat Dharmogandul dan Gatholoco. Ada yang berpendapat Gatholoco menjadi kontroversi karena orang membaca seperti huruf latin biasa dari kiri ke ke kanan, padahal itu ditulis Mbah-Mbah Moyang dengan huruf Jawa yang membacanya seperti membaca huruf Arab dari kanan ke kiri. Sehingga menjadi ocolothog, ucel uteg, jika ingin mempelajarinya maka harus “nguculke uteg” melepaskan belenggu-belenggu di akal kita terlebih dahulu. Sedang darmogandul ada pula yang mengartikan gandhuling dharmo, yakni Allahus shomad.

Tentu kita selalu terbuka dalam menerima setiap analisis dan pemahaman baru di lain waktu. Begitu pula pengoperasian huruf-huruf jawa Dosonomo. Termasuk beberapa kitab-kitab kuno Jawa seperti Babad Tanah Jawi, kitab Paramayoga, pupuh dan bait, yang kuncinya telah disimpan sangat baik oleh para sunan. Namun pada akhirnya Belanda menyerah karena tidak mampu memecahkannya sehingga mereka akan mengembalikan beberapa pusaka sejarah Nusantara tersebut ke Indonesia.

Kita tidak tahu lagi bagaimana ceritanya Mbah-Mbah dulu berdagang, membangun kerajaan, membangun candi sebesar Borobudur, membangun kapal-kapal tangguh pembelah samudra. Sejarah kita bukan lagi meneruskan Mbah-Mbah terdahulu. Kita lebih bangga ketika mengadopsi budaya-budaya asing. Tidak ada budaya kontinuasi, dan paling fatalnya tertanam dalam otak kita bahwa Indonesia baru ada sejak 1945 padahal Bangsa Indonesia telah memiliki sejarah panjang, Nusantara yang teramat tangguh sejak berabad-abad silam.

Cak Nun pernah berkata, Bangsa Indonesia ialah Bangsa yang melahirkan Negara Indonesia pada tahun 1945. Pernah ada suatu quote berujar, jika kamu ingin menguasai suatu negeri, kaburkan sejarahnya, kaburkan bukti-bukti sejarahnya sehingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya dan terakhir jauhkan atau putuskanlah masyarakatnya yang berhubungan dengan  sejarah akan leluhur, dengan mengatakan leluhurnya itu bodoh dan primitif.

Dari sederet negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, sebatas pengetahuan dangkal saya, Indonesia adalah Negeri yang masih sangat kuat mengamalkan dan menerapkan Ajaran Islam secara kaffah, aman dan tetap damai. Maka tak heran ketika ada seorang Ulama di Palestina menuliskan surat kepada segenap umat Islam di Indonesia, bahwa negeri Indonesialah yang dapat membantu masalah-masalah mereka di Palestina.

Pertengahan tahun lalu, tak sengaja saya bertemu seorang dokter dari Palestina. Beliau berkata, “Saya sangat berterima kasih dengan Indonesia. Dari berbagai Negara muslim tetangga-tetangga kami, kebanyakan mereka tidak peduli kepada apa yang terjadi dengan Palestina, dengan Masjidil Aqsha (Kiblat pertama umat Islam), namun setiap saya bertemu orang Indonesia, mereka biasanya tahu perkembangan yang ada di negeri kami, dan banyak pula bantuan kemanusian yang dikirimkan ke negeri kami, Palestina.

Maka, jelas sekali, bersatunya Muslim Indonesia adalah hal yang sangat ditakuti oleh Asing. Sehingga segala cara dilakukan agar Muslim Indonesia tidak benar-benar bersatu, dan menjadi nyata kemudian karena umat Muslim Indonesia hari ini masih disibukkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Fiqh, hal-hal yang ikhtilafiyah, masih berurusan dengan “Mekkah” belum berhijrah ke “Madinah” dalam hal perekonomian, perpolitikan, dan banyak lainnya.

“Bahkan jika hidup itu adalah permainan. Dalam permainan itu pun kita harus bersungguh-sungguh,” kata Cak Nun pada waktu Silatnas Maiyah di Magelang akhir 2015 silam. Gaung Masyarakat Maiyah telah mulai ditabuh beberapa tahun lalu. Manusia Maiyah adalah manusia yang berdaulat. Bergerak bukan berdasarkan komando, namun terbit dari kesadaran masing-masing dalam proses lelakunya.

Cak Nun dan Maiyah mengajarkan agar kita mandiri dan percaya diri, sebab jika tidak kita akan terus-menerus menjadi bangsa pengekor, dan terombang-ambing zaman. Berlombalah dalam memperluas radius kebaikan. Maiyah ada menebar inspirasi, selalu bersama Allah dan Rasulullah dalam setiap langkahnya memangku dan mengayomi Dunia.

27 April 2017
Zwiefalten, Germany

Banyak kisah heroik mengenai Jamaah Maiyah yang istiqomah bergabung dengan lingkar Maiyah di berbagai kota. Ada yang mengkhususkan diri bersepeda…