Daur-II • 221

Peristiwa Kahfi kah atau Bukan

Hanya sejauh itu yang Seger dan teman-temannya sempat dan pernah mendengar dari Mbah Sot melalui Pakde dan Paklik mereka. Masih sangat banyak sisi dan detail yang mereka bayangkan, tetapi tidak mereka peroleh kejelasannya. Mungkin ada sejumlah hal lain yang tercecer-cecer atau terpenggal-penggal.

Seger memang bagian mendata, mencatat, dan mendokumentasi semua yang mereka serap dari keluarga atau komunitas aneh itu. Mereka lebih banyak menyerap dari Pakde Paklik dibanding memberikan informasi tentang diri mereka. Itupun yang mereka serap sebatas hal-hal yang menyangkut dasar pengetahuan yang mereka pilih, dengan ilmu atau cara pandang yang pelan-pelan mereka rumuskan dari murid-murid Markesot.

Tiga bencana besar itu, yakni ketidaksiapan terhadap rute kejadian alam dalam skala besar, kemudian datangnya “bau busuk” dari Barat, serta pertengkaran dan perebutan kekuasaan yang tak henti-hentinya di lingkaran-lingkaran keluarga pemimpin di Tanah Jawa — dicatat oleh Seger sebagai fakta utama sejarah yang puncaknya justru berlangsung sekarang ini.

Dimulai sejak tujuh abad yang lalu, sampai di puncaknya tujuh abad kemudian. Kehancuran itu berupa tidak berdaulatnya lagi manusia Tanah Jawa atas kekayaan alam tanahnya, bahkan se-Nusantara. Terkikisnya harga diri dan martabat kebangsaan mereka, hancurnya kepercayaan diri, berubahnya karakter dan kebudayaan mereka. Khusus tentang Islam, para pemeluknya, yang jumlahnya sesungguhnya tetap mayoritas: membawa Islam memasuki Gua Sejarah.

Dan mereka memperdebatkan apakah yang dialami oleh penduduk Tanah Jawa dan Nusantara itu pertiswa semacam Ashabul Kahfi di Guanya atau bukan. Kalau melihat “Maka Kami tutup telinga mereka bertahun-tahun dalam gua itu”. [1] (Al-Kahfi: 11), masyarakat kita ini memang tuli”, kata Jitul.