Perisa Tuhan

Catatan untuk Acara Tadabbur Daur di Bentang Pustaka, 12 Juni 2017

Sejak kapan manusia mengerti apa yang benar-benar mereka perlukan? Kehidupan mereka makin hancur karena terlalu sibuk mengejar dan memperebutkan segala hal yang mereka inginkan. Bukan yang mereka perlukan. Apalagi yang sejatinya mereka butuhkan.” ~Saimon kepada Markesot, Iblis Tidak Butuh Pengikut, hal. 186

Bagi saya ada dua posisi yang ingin saya tempatkan dalam membaca karya Daur Cak Nun.

Pertama, posisi saya sebagai pembaca, dan, kedua, sebagai penerbit. Keduanya bukan tugas mudah, tetapi bersabarlah, mari saya jelaskan mengapa.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, mungkin hampir satu dasawarsa, buku teks tentang agama setidaknya telah mengalami kelesuan. Dalam hingar bingar kecanggihan teknologi, buku-buku discourse adalah bacaan bermuatan luar biasa berat, dan karenanya sukar dibaca. Terlebih ketika aplikasi teknologi dalam ranah populer menyajikan distraksi yang nikmat. Semacam gangguan yang menyenangkan.

Tengoklah pada rumpun judul yang bertebaran di sudut toko, terutama ketika Ramadhan. Ada keutamaan Tahajud di satu pojok, kehebatan puasa di pojok lain, hebatnya shalat sunnah di bagian berbeda, dan semuanya lengkap dalam satu lanskap kehebatan, kedahsyatan, kekuatan, sehingga barangkali satu-satunya tema tersisa tinggallah yang antitesisnya saja. Semisal, dahsyatnya tidak salat, sehat tanpa puasa, atau lebih saleh dengan maksiat. Judul-judul ini jelas tidak ada, namun akan menjadi sesuatu jika dihidangkan pada pembaca yang terbiasa digugah konten media sosial yang lain judul beda isi. Ini belum diimbuhi dengan model jurnalisme mutakhir yang mengambil bentuk Screencap(ture) Journalism lalu diakhiri dengan Viralkan. Sing penting traffic!

Kalaupun ada judul penting semisal wacana keislaman mutakhir di Indonesia dan atau dunia muslim lainnya, daur hidup buku itu sepenuhnya bergantung pada selang infus yang hanya bisa menopang nyawa selama 3 bulan, lalu diretur tanpa upacara dan perayaan ke gudang-gudang penerbit. Suram. Jadi, tidak sepenuhnya keliru jika umat gonjang-ganjing, sebab buku laku hanya menyisakan ibadah muamalah, sementara isi kepala dipasrahkan kepada aktor-aktor sosial media yang menghujani hidup kita sehari-semalam, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Inipun ternyata hasil salin dan tempel atau jamak disebut kopas dari sumber-sumber yang mungkin sumir. Semua dilakukan dengan kecepatan cahaya pada gawai dan atau perangkat lainnya yang dikendalikan melalui sentuhan jempol saja. Hebat bukan?!

Daur ini, kumpulan tulisan terbaru Cak Nun, yang diterbitkan dalam empat volume, bukanlah jenis buku hebat-hebatan. Ia tidak akan menjadi buku motivator yang akan menerbitkan air mata seketika, mendorong amal-amal karitatif instan, untuk kemudian lupa sesudahnya. Pada tulisan-tulisan Cak Nun, kita akan mendapati kenyataan bahwa ketika penulis mendistorsi realitas ke dalam tulisan, kita temukan banyak hal perlu dilalui dengan pergulatan yang intens. Ada semacam narasi yang likat, liat, bergerak ke sana kemari, sehingga untuk membacanya kita perlu duduk dengan kepala jernih, mencoba mencernanya seperti Alif-Ba-Ta. Tertatih-tatih, terbata-bata, namun dengan pijar di cakrawala yang semakin benderang setelah diawali lelatuk.

Dalam satu kalimat ringkas, saya ingin menyatakan bahwa, sebagai pembaca, dan penikmat teks, kisah dalam Daur ini adalah sebuah petualangan dalam miniatur semesta, yang membuat kita terpana dengan semua hingar-bingarnya, lekuk indah sudut-sudutnya, elok rupawan makhluknya untuk kemudian dicampakkan pada kesendirian. Tentu saja kisah ini menyajikan alternate ending seperti yang diumumkan dalam banyak kitab suci; mereka yang memiliki tatapan tajam (huurun), larut dalam zikir, dan terus menerus melatih dirinya menembus lapis demi lapis kesadaran kemanusiaannya (sering kali dilakukan dalam ruang sunyi, sepi, sendiri), pada akhirnya akan menemui Zat yang dengannya (menjadi sebab) manusia dan kawanan lainnya disebarkan di sebuah taman luas, yang semula disebut surga, atau swarga, namun kemudian berevolusi menjadi dunia, tempat yang kita kenali sekarang. Ini pun masih diperdebatkan apakah bentuknya betul bulat atau datar!

Kesendirian itu bukanlah sebuah bentuk skenario kekejaman Tuhan, sebab apa pun yang ada di luar diri-Nya, sejatinya semua binasa. Inilah skenario besar Tuhan. Takdir yang tak bisa dielak oleh semua yang bernyawa. Kullu syai’in haalikun illa wajhahu. Dengan cara pandang ini, maka diri, nafs, yang dengannya kita serasa memiliki identitas setelah menyusup ke dalam qabail, syu’ub, ras, etnis, suku bangsa, puak-puak berbeda bahkan juga agama, adalah cermin tempat menampung cahaya, wadah pengumpul esensi-Nya yang satu, tidak berbilang. Maka tatkala kita melihat di antara sesama manusia yang kita lihat adalah diri kita sendiri, daging dan ruhnya hanyalah kompartemen mewadahi nyawa, sementara intinya tetap satu belaka. Konon inilah bentuk tajalli Allah. Tidak terbatas pada manusia tapi pada segala hal yang melekat pada keindahan, dan menarik keluar sisi keindahan yang sama dalam diri manusia. Ini saya dengar setidaknya saya dapati dari buku Islam Tuhan Islam Manusia karya Mas Haidar Bagir, bos saya dan juga guru ngaji tidak official, karena beliau tidak membuka pendaftaran murid spiritual. Dan kini hikmah yang sama saya temukan dalam Daur. Maka tak perlulah kita saling sikut dalam ruang fana ini, berlomba menundukkan dunia yang tak lebih debu semesta.

Namun, seandainya pengetahuan tentang yang satu itu adalah kebenaran hakiki, dan katakanlah kita diberikan privilege untuk sampai pada teras terjauh pengetahuan itu, atau bahkan diizinkan mendekat sampai ke pintunya, cobaan belumlah lewat. Sebab syetan tidak saja menanti kita di tikungan, ia perintahkan anak cicitnya menjaga kita dari banyak celah; kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, dari Utara-Timur-Selatan-Barat, sejak hitungan jam sampai fraksi detik. Para profesional adalah mereka yang tahu dan yakin akhir semua ini sambil “berpura-pura” menikmati kesementaraan, begitu kata Cak Nun, yang diwakilkan kepada Markesot dan Saimon.

Maka bacalah Daur. Ia sejenis bacaan yang membolak-balikkan persepsi. Karena manusia mencecap realitas lewat indera, maka tidak heran jika kita mudah tertipu. Dan Cak Nun piawai memPHP. Nulisnya A tapi maksudnya B, C, R, Z bahkan bisa jadi ya masih A itu juga meskipun disamarkan dengan sejumlah tema menyoal negara, radikalisme, komunisme, ormas dan lain-lain. Sebab dalam dunia persepsi tak ada pengetahuan abadi. Seperti gajah bagi si buta yang kebetulan memegang belalai adalah corong daging berbulu. Dan para salik menancapkan maqamat, stasiun-stasiun yang banyak jumlahnya untuk menarik diri mereka menjauh dari tipuan persepsi menuju pencerahan, pengetahuan hakiki melalui mata ketiga. Inipun, masih menyisakan sejumlah level kesulitan baru. Sebab ketika kita (merasa) mata batin terbuka, sosok yang kita temui alih-alih malaikat bisa jadi Iblis. Labirin yang tersingkap alih-alih pengetahuan sejati adalah perangkap. Waspadalah, waspadalah…

Ini tadi remah-remah yang bisa saya pungut dari kearifan Daur. Sebagai penikmat, tugas saya mengunyahnya secara sangat perlahan agar jadi daging dan menyehatkan tubuh dan pikiran. Sedang sebagai penerbit tugas berat saya sebenarnya bisa dengan segera terangkat dengan bantuan Anda, pembaca. Tak lebih tak kurang bergegaslah ke toko buku terdekat dan ambillah secara berjamaah maupun munfarid Daur-Daur ini dari display dan rak-rak toko buku. Bagi-bagi kepada kerabat bila perlu. Kirimkan sebagai parsel lebaran, hatta kepada para pejabat, insya Allah ini bukan gratifikasi. Sebab jika Anda melakukan semua hal itu, kita semua sedang mendaur-ulang yang profan menjadi sakral. Yang fana menjadi keabadian. Jangan tertipu dengan penguat rasa. Demikian.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image