Perhatikan Sebab-Akibat, Hindari Salah Logika

Bangbang Wetan, 12 Februari 2017

Majelis Ilmu Bangbang Wetan 12 Februari 2017 berlangsung di Taman Budaya Cak Durasim Surabaya dengan tema “Konjungsi Rantas”. Tema ini berkaitan dengan fenomena yang marak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kegagalan melogika suatu masalah, sehingga menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat.

Itu sebabnya, Mas Sabrang mengingatkan, “Sebelum menyimpulkan dan memetakan masalah, kita harus berhati-hati dengan yang namanya alur sebab-akibat. Jangan sampai salah identifikasi, gara-gara hal tersebut.”

Bangbang Wetan Februari 2017
Memahami batasan itu esensial bagi manusia, untuk bisa menghindari konflik satu sama lain.

Mas Sabrang membandingkan dua alur logika lewat ilustrasi obrolan ringan yang dimulai dengan fakta adanya sebuah akuarium. Singkat kata, obrolan pertama memiliki alur fakta yang jelas, sehingga menghasilkan kesimpulan yang benar, yaitu sang pemilik akuarium bukanlah seorang homo. Sementara pada obrolan kedua, alur fakta dipotong begitu saja.

“Kamu punya akuarium? Kalau punya, berarti kamu bukan homo. Kalau tidak punya, berarti kamu homo.” tutur Mas Sabrang, disambut gelak tawa jamaah.

Itulah contoh dari apa yang disampaikan mas Sabrang yaitu berlogika dengan memperhatikan pangkal dan ujung fakta  saja, dan malas mengurut alur fakta, kadang-kadang menyebabkan salah kesimpulan.

Berkali-kali, Mas Sabrang menekankan kehati-hatian dalam memetakan masalah. Bahkan, keberadaan dua fakta yang saling bersambungan belum tentu merupakan sebab-akibat. Bisa jadi, dua-duanya merupakan akibat dari suatu sebab yang sama.

“Apakah bunyi katak bisa menyebabkan hujan? Kita yang telah memahami, tentu tahu. Hujan turun, karena memang musim hujan datang. Suhu, kelembaban, dan tekanan udara berubah. Katak bereaksi terhadap perubahan tersebut, sehingga manusia pun bisa memprediksi datangnya hujan dari bunyi katak.”

Selain Mas Sabrang MDP, BBW malam itu juga dihadiri oleh Kiai Muzammil, Cak Suko Widodo, dan tamu Ibu Anne Rasmussen profesor etnomusikologi dari Amerika

Bu Anne Rasmussen juga hadir di Bangbang Wetan
Bu Anne Rasmussen juga hadir di Bangbang Wetan

Bu Anne bercerita tentang ketertarikannya terhadap musik-musik dari Indonesia, mengapresiasi musik Kiaikanjeng, dan mengatakan ada hubungan antara kondisi sosial dengan jenis atau mood musik yang ada di suatu wilayah.

Sementara itu, Cak Suko menjelaskan pergeseran masyarakat yang semakin ke arah individual. Semakin sulit percaya satu sama lain. Rantas karena semua mudah menghakimi, dan diperparah dengan sudah adanya media yang cepat untuk mengungkapkan kemarahan atau kekesalan kepada orang lain.

Hal lain yang disampaikan Mas Sabrang adalah soal batasan. Bahwa memahami batasan itu esensial bagi manusia, untuk bisa menghindari konflik satu sama lain. Di sini, Kiai Muzammil membenarkan paparan mas Sabrang bahwa paham batasan itu penting, karena melampaui batas itu zalim. Bahwa manusia harus tahu perannya masing-masing sehingga bersikap juga sesuai perannya.

Masih banyak berbagai detail pembahasan menemani para Jannatul Maiyah yang duduk bersama di Taman Budaya Cak Durasim. Di antaranya, ulasan Kiai Muzammil tentang kongjungsi yang dalam bahasa Arab disebut ijtima’, yaitu ketika bulan dan bumi berada dalam satu garis. Dalam hal ini, kemudian Kiai Muzammil mengutip khasanah ilmu Falak, berangkat dari kata ijtima’, untuk menguraikan rotasi, revolusi, dan pusat tata surya.

“Matahari adalah representasi dari Allah yang merupakan pusat dari segalanya.
Nah, konflik sosial terjadi, ibaratnya, karena benda-benda langit bertabrakan, akibat tidak adanya kesadaran revolusi, rotasi, dan keberadaan pusat tata surya tadi,” ujar Kiai Muzammil. (vh/hm)

Sebelum menyimpulkan dan memetakan masalah, kita harus berhati-hati dengan yang namanya alur sebab-akibat. Jangan sampai salah identifikasi.