Daur-II • 137

Perayaan Adzab

Cucu-cucu generasi Markesot sangat mengasyiki cerita-cerita Pakde mereka, Tarmihim, Sundusin maupun Brakodin tentang apa yang Mbah Markesot pernah kemukakan. Kadang-kadang bagian dari kisah itu bikin pecah kepala, saat lain terasa lucu, mengagetkan atau mengagumkan, membuat berdecak, belum pernah ada sebelumnya, serta banyak kemungkinan lainnya.

Misalnya, diceritakan oleh Tarmihim, Mbah Sot pernah mengemukakan: “Kita perlu waspada. Kalau kita belajar, lantas sedikit menjadi pandai, yang muncul di hati kita ada perasaan meremehkan orang yang kita tinggalkan dalam kebodohan. Padahal belum tentu kita benar-benar telah pergi dari kebodohan. Mungkin yang kita alami sesungguhnya hanyalah berhijrah dari satu kebodohan ke kebodohan berikutnya. Jadi kalau kita meremehkan orang yang kita sangka bodoh, sebenarnya yang kita remehkan adalah diri kita sendiri”.

“Tidak hanya soal kebodohan dan kepandaian”, Sundusin menambahkan hal yang dari Mbah Sot, “Mbah kalian itu selalu lengkap kalau menyebut sesuatu, meskipun mungkin bertahap pengemukaannya. Tidak hanya soal ilmu, tapi juga kebaikan, kesalehan, kemuliaan dan sisi-sisi kemungkinan lain pada manusia. Kata Mbah Sot, orang kalau sedikit saja berbuat baik, muncul penyakit dalam hatinya: berupa tuduhan bahwa orang lain belum berbuat baik. Kalau ia melihat jalan ke sorga, ia menyangka orang lain ada di depan pintu neraka. Kalau ia merasa mendapat pahala, di dalam hatinya ada rasa mensyukuri orang lain yang ia sangka mendapat adzab dari Allah. Kalau kita melihat orang berbuat jahat, sehingga berpeluang diadzab oleh Allah, diam-diam kita menjadi bergembira. Diam-diam kita merayakan adzab Allah atas orang lain. Setan membuat kita melihat perbuatan buruk adalah keindahan. Maka kalau kalau adzab Allah ditimpakan kepada orang, kita merayakannya”. [1] (An-Nahl: 63).