Wedang Uwuh (43)

Peradaban Gembagus

Kedaulatan Rakyat, 22 Agustus 2017

Pèncèng bercerita riuh rendah tantang pengalamannya kemarin malam di Borobudur. Wajahnya berbinar-binar. Gerak-geriknya gelisah. Tangannya ke dada ke wajah pegang ini itu kesana kemari mencerminkan hatinya yang penasaran.

“Kok kayak anak kecil dibelikan sepeda baru, Cèng, ada apa…”, Gendhon nyeletuk. Sementara Beruk senyum-senyum.

Pèncèng bilang “Selama ini saya membaca data-data tentang Borobudur sehingga sangat mengaguminya. Tetapi kemarin malam dalam acara Tirakatan 17 Agustusan di Ringin Putih Borobudur, saya menemukan sesuatu yang jauh lebih mengagumkan. Saya tidak sanggup menahan hati untuk tidak bergembira…”

“Bergembira kenapa?”

“Bergembira mengetahui betapa konyolnya kita sekarang. Betapa dekadennya peradaban Abad 21 ini. Betapa kita di abad ini merasa hebat, padahal bosok. Merasa pandai padahal dungu. Merasa maju padahal hanya binatang plus sedikit. Merasa berperadaban tinggi, padahal rendah serendah-rendahnya…”

“Kok kasar amat kata-kata yang kamu pergunakan, Cèng?”, saya memprotes.

“Sekasar kehidupan yang sedang kita jalani, Mbah”, ternyata Pèncèng menjawab dengan tidak kalah kasar ungkapan-ungkapannya, “Kita sekarang ini membangun berhala, kemudian menyembah berhala, lantas kita hancurkan sendiri dan bikin berhala lagi, kita sembah lagi dan kita ambrukkan lagi…”

“Waduh waduh…”, saya tidak bisa ngerèm mulutnya Pèncèng.

“Kita angkat tokoh, idola, selebritis, public figure, kita sembah, kita junjung, pada saatnya kemudian kita buang, kita hancurkan dan kita kutuk. Kita menyembah materialisme, sambil terus-menerus mengeluh tentang uang, kesulitan nafkah, tarif-tarif naik, utang melebihi tinggi gunung…”

“Kamu ini mau cerita soal Borobudur atau mau jadi oposan politik?”, Gendhon juga protes.

“Ya Borobudur”, jawab Pèncèng, “Mandala geometris, berpusat pada titik meditatif, metafisis dan spiritual. Sementara geometri kita sekarang adalah penggumpalan modal. Meditasi kita sekarang adalah mengincar laba materi sebesar-besarnya. Metafisika kita sekarang adalah broker-broker pengatur harga, motivator import garam dan bawang, strategi penguasaan modal dan pasar. Spiritualitas kita sekarang adalah istighotsah, istikharah, shalat malam, tariqat, wirid dan medukun untuk menang Pilkada, untuk menjabat kedua kali, kemudian istri, besan, keponakan, dan festival wani piro di segala lini, segmen dan level”

“Saya baca Borobudur dibangun dengan balok batu andesit sebanyak 47.500 meter kibik. Tingginya 42 meter dan berhasil kita kurangi menjadi 34 setengah meter. Dua jutaan blok batu rata-rata 50 kg per blok, terikat hanya dengan sistem pahatan pantèk ekor burung tanpa semen. Borobudur dibangun 100-an tahun secara kontinyu sekian generasi dan tetap utuh well-organized. Kita sekadar memugarnya saja keroyokan 26 Negara. Batur atau kaki candi berdenah bujur sangkar dengan luas denah dasar 123 x 123 m, dilengkapi penampil yang menjorok keluar di setiap sisi. Keseluruhan bangunan terdiri atas 10 lantai yang luasnya mencapai 15, 13 m2. Lantai I sampai dengan lantai VII berbentuk persegi, sedangkan lantai VII sampai dengan lantai X berbentuk lingkaran. Terserah…”

“Lho kok terserah?”, Beruk mengejar.

“Seorang pembicara di Ringin Putih itu bertanya: sebut satu bangunan di Jakarta atau di manapun sekarang ini yang akan tetap berdiri kokoh 14 abad yang akan datang, sebagaimana Borobudur membuktikannya. Dari parameter arsitektur, pencapaian teknologi dan kesanggupan inovasi akal, kita sekarang kalah jauh dari nenek moyang. Kita sekarang ini benar-benar pelaku peradaban mbagusi alias gembagus. Apalagi kalau dilihat lebih luas, kita sebenarnya jauh lebih bosok dan konyol dari itu…”

“Mengerikan kata-katamu, Cèng”, Gendhon nyeletuk.

“Bisa dibayangkan betapa mahalnya proses dan biaya pembangunan Borobudur. Keistimewaannya bukan pada fakta bahwa Borobudur adalah raksasa secara teknologi, materialisme dan kesanggupan mobilitas sosial. Letak kebesarannya justru terletak pada kenyataan bahwa Borobudur adalah bangunan spiritual, gedung besar nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan. Bukan Mal, gedung bisnis, bangunan ekonomi, tumpukan kios-kios pasar dan putaran uang. Negara dan APBN kita sekarang, jangankan mendirikan bangunan raksasa yang non-ekonomi, sekadar punya ide untuk mengutamakan penggunaan uang demi kebangunan nilai spiritual saja nggak punya. Seluruh gagasan kita di abad ini hanyalah kemajuan materialisme dan pemberhalaan-pemberhalaan barang Katon…”

“Ya nggak semua lah, Cèng…”, celetuk Beruk.

“Ya tidak semua”, jawab Pèncèng, “kita tetap punya rakyat kecil yang kerja timik-timik, tapi nyelengi uang berpuluh tahun untuk biaya naik haji. Kita tetap punya tukang bakso yang menyiapkan tiga laci uang. Laci pertama untuk putaran jualan bakso. Laci kedua untuk keluarga dan anak sekolah. Laci ketika untuk Tuhan…”

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image