Wedang Uwuh (28)

Pentingnya Buah Simalakama

Kedaulatan Rakyat, 2 Mei 2017

Anak-anak saya Gendhon, Beruk, dan Pèncèng yang juga sahabat karib saya itu bercerita riuh rendah tentang “Mencari Buah Simalakama”.

“Itu sebuah pementasan drama yang sangat penting untuk manusia zaman ini…”, Gendhon sangat kepayang rupanya oleh teater itu.

Para Sesepuh Teater dari berbagai lingkaran aktivis teater sejak era 1970-an ber-Bhinneka Tunggal Ika, melingkar menjadi satu dalam arena kreativitas dan persaudaraan yang mereka sebut “Perdikan-Teater”. Produk kebersamaan mereka yang pertama adalah pergelaran lakon “Mencari Buah Simalakama”.

Tetapi rupanya Pèncèng tidak sependapat. “Penting gimana”, katanya dengan agak mengejek, “judulnya saja sudah merepotkan”

“Merepotkan gimana”, Gendhon ganti menyergah.

Beruk yang menjawab. “Di mana-mana Buah Simalakama itu ditakuti orang. Itu suatu keadaan yang dilematis: itu amsal, paribasan, perumpamaan: sejenis buah, kalau di makan Bapak mati, kalau tak dimakan Ibu mati. Semua orang yang normal pasti menghindari keadaan seperti itu…”

“Makanya saya bilang merepotkan”, Pèncèng memotong, “mestinya dihindari kok malah dicari”

“Justru karena itu maka ia penting”, kata Gendhon, “sebagai ide ia penting dan fenomenal. Sebagai peristiwa teater, pementasan itu memperkenalkan formula pemanggungan baru. Juga gagasannya merupakan semacam tawaran kepada keadaan zaman. Jadi benar-benar penting”

“Penting untuk siapa”, Pèncèng mengejar dengan pertanyaan beruntun, “formula pemanggungan baru bagaimana, keadaan zaman yang kayak apa kok ditawar-tawari gagasan segala. Kapan penghuni zaman ini mencari atau menunggu tawaran, kecuali yang ditawarkan itu uang, proyek, jabatan, keuntungan dan yang semacam itu”

Gendhon tertawa. “Cèng, tolong pertanyaan yang kedua dan ketiga nanti kamu ulang lagi, sebab saya lemah hafalan. Yang pertama dulu saja jawab: peristiwa itu penting bagi siapa? Tentu saja bagi yang mengerti bahwa itu penting”

“Saya ada kemungkinan bisa mengerti kenapa bagimu itu penting, tapi kemungkinan yang lebih besar adalah saya tidak sependapat bahwa itu penting…”

Gendhon masih terus tertawa. “Kamu sedang punya masalah apa, Cèng, kok hari ini cerèwèt amat…”

“Terus terang akhir-akhir ini saya langsung seperti kalap kalau mendengar satu kata itu: penting”,  Pèncèng coba menjelaskan, “memangnya masih ada yang penting sekarang ini?”

“Ada”, Beruk yang menyahut.

“Apa?”

“Bahwa kamu kesakitan kalau mendengar kata penting”

“Saya wanti-wanti bener ya kepada Gendhon”, kata Pèncèng, “jangan sampai ada orang-orang yang mendengar omongan kamu bahwa teater itu penting, bahwa kreativitas itu penting, bahwa puisi dan nilai-nilai batin itu penting. Mohon, mohon, jangan sekali-kali ucapkan itu…”

Rupanya Pèncèng sedang ngidam sesuatu. Alergi. Atau entah apa.

Apakah nilai-nilai pernah penting? Yang penting itu kemajuan harta benda, gedung-gedung tinggi, laba uang dan keuntungan materi. Yang penting itu bagaimana menjadi Bupati tidak hanya sekali. Yang penting itu berkuasa, bukan nilai amanah kerakyatan dalam kekuasaan. Yang penting itu bukan Tuhan, tapi sorga. Yang penting itu bukan Ibadah, tapi pahalanya. Andaikan beberapa hari lagi Malaikat Isrofil datang berkunjung ke Yogya, dengan membawa terompet raksasa, khusus untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan “program gonjang-ganjing” beberapa waktu lagi –- apa kalian pikir itu dianggap penting?…”

Gendhon memuncak tertawanya. “Itulah sebabnya Mencari Buah Simalakama itu penting, supaya masyarakat siap-siap mengahadapi apa yang segera akan dialaminya, agar mereka tidak terlalu kaget…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image