Pendidikan Manusia Sepertiga

“Pendidikan kita hanya mengolah sepertiga diri manusia. Makanya yang terjadi adalah ketidakseimbangan.”
“Pendidikan kita hanya mengolah sepertiga diri manusia. Makanya yang terjadi adalah ketidakseimbangan.” (Foto: Adin)

Situasi makin gayeng, ketika Mbah Nun meminta lima partisipan maju dan situasi ini berlangsung terus sampai pada sesi tanya jawab. Lucu, out of box thinking, kadang juga agak terbata membaca arah pertanyaan Mbah Nun, atau merasa konyol bersama kelakar Mas Suko Widodo, kejutan siklikal berpikir Mbah Nun semuanya berpadu jadi satu menjelma mozaik Sinau Bareng yang unik.

Lima partisipan diajak mengidentifikasi polaritas ukuran nilai hidup manusia. Diberikan contoh pada hal yang bersifat materil di mana ukurannya adalah tinggi-rendah, panas-dingin, berat-ringan, kecil-besar, dan lain-lain. Diajak pula mereka naik meningkat ke ukuran yang nonmaterial kualitatif baik-buruk, sehat-sakit, bahagia-sedih, suka-duka, sukses-gagal, dan lain-lain. Puncaknya, mereka diajak mencari satuan nilai yang paling inti dalam kehidupan dan dikaitkan dengan keadaan pendidikan di Kampus. Nilai paling inti itu adalah benar-salah, baik-buruk, dan indah-tak indah.

Dari situ pula, jamaah diajak mengidentifikasi masalah Bangsa Indonesia melalui pendekatan dimensi yang sebelumnya dibahas. Tambahan nilai juga ada misalnya malu-tidak malu.

Sementara berkembang lebih menukik, salah satu polaritas yang diulas Mbah Nun adalah utuh-tercerai. Bahwa keutuhan bukan hanya dihubungkan ke konteks negara. Tetapi hingga ke skala terkecil diri sendiri.

Sembari menjelaskan keutuhan manusia (kebenaran, kebaikan, dan keindahan), Mbah Nun memperkenalkan kepada Pak Rektor pemahaman mengenai konfigurasi Islam dan Silmi. Berpijak dari konfigurasi itu, Mbah Nun menegaskan bahwa ketika diri manusia utuh, maka dia sesuai dengan syariat Allah.

Nah, praktiknya sistem pendidikan kita tidak memiliki ada pembiasaan pada baik dan indah. Hanya benar salah. Hanya sepertiga manusia. Bukan manusia seutuhnya. Maka yang terjadi ketidakseimbangan. Dalam hal ini, baik buruk diserahkan ke masyarakat. Indah tidaknya diserahkan ke masing-masing diri. Meskipun untungnya manusia Indonesia punya karakter dan kecenderungan yang tetap menjaga kebaikan dan keindahan pada diri mereka, dalam konteks pendidikan, yang secara keseluruhan terbentuk adalah ketidakutuhan pendidikan.

“Kurikulum pendidikan kita sangat terbatas, sedang kurikulum kehidupan tidak terbatas. Tidak cukup proses pendidikan hanya diserahkan pada guru. Harus secara utuh diajarkan oleh semua pihak,” ungkap Pak Rektor Muhammad Nasih melengkapi.

Sementara itu Pak Ari Wibowo, Direktur University Press Unair, menambahkan, “Sekuat-kuatnya kurikulum pendidikan tidak akan pernah maksimal. Karena permasalahan-permasalahan manusia akan selalu ada, sementara penelitian sangat terbatas sumber daya dan waktu. Oleh karena itu, diperlukan forum-forum seperti ini (BBW) untuk menjawab permasalahan zaman.”

Demikianlah salah satu penyelaman melingkar pada Sinau Bareng ini yang salah satu titik beratnya adalah persoalan pendidikan nasional kita. Dalam caranya yang simulatif, Mbah Nun menyumbangkan penunjukan pada titik-titik krusial masalah pendidikan kita, di antaranya, belum utuhnya cakupan kurikulum dan praktik pendidikan pada utuhnya dimensi manusia dan itu menyumbangkan beberapa sebab bagi masalah-masalah yang kita alami secara nasional.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image