Wedang Uwuh (27)

Pendidikan Kebencian dan Permusuhan

Kedaulatan Rakyat, 25 April 2017

Lagi-lagi saya tekankan kepada tiga sahabat muda saya, “kita dan kebanyakan masyarakat sekarang sudah sangat lelah berpikir dan mendalami perasaan. Pokoknya mari kita bicarakan sesuatu yang sederhana, yang tidak perlu mikir dan tidak pakai perasaan yang mendalam…”

“Misalnya apa, Mbah?”, Pèncèng bertanya.

“Klithih, umpamanya…”, sebenarnya saya ragu pada jawaban spontan ini, dan benar saja: Pèncèng langsung membantah.

“Klithih kok sederhana. Fenomena itu sangat aktual dan amat mempermalukan Yogya sebagai kota kebudayaan dan markasnya kaum terpelajar. Bagaimana mungkin terhadap klithih kita menolak berpikir dan berperasaan mendalam. Itu serem, Mbah. Sangat mengerikan. Horror…”

Saya coba mengulang penjelasan. “Maksudnya sederhana itu dibanding yang selama ini kita rembug: nilai-nilai yang dakik-dakik, filosofi dan perenungan yang sampai ke langit”

Gendhon nyeletuk: “Disebut sederhana juga bisa, Cèng”

“Kok sederhana?”

“Yaah, anak-anak remaja, keluar rumah, konvoi beberapa orang pakai motor, bawa arit atau pedang, terus ditebaskan ke leher atau badan remaja yang lain yang dijumpainya. Kan simpel, kasat mata…”

“Ya tapi itu tragedi besar. Dekadensi budaya yang luar biasa. Kehancuran moral. Kekejaman kemanusiaan. Dan nilai minus-nya lebih tinggi lagi karena terjadinya di Yogya”

“Kenapa tragedi separah itu bisa terjadi?”, saya pancing.

“Kata para ahli ada beberapa sebab”, Beruk yang menjawab, “pertama, faktor internal pada karakter dan kepribadian para remaja pelakunya. Usia remaja adalah awal tahap aktualisasi diri. Energi hidup mereka juga sedang prima. Tetapi mereka tidak cukup terdidik untuk menemukan bentuk sosial atau formula budaya untuk menyatakan dirinya. Yang mereka tahu hanya ekspresi-ekspresi yang tanpa batas nilai. Akhirnya yang terjadi adalah anarkisme sosial, keliaran budaya, dan buta akhlak”

“Apa yang melatarbelakangi situasi kejiwaan para remaja itu?”

“Katanya sih menurunnya intensitas pendidikan keluarga, tidak berwibawanya dunia Sekolah dan pendidikan, serta tidak kondusifnya lingkungan sosial masyarakat”

“Jadi yang salah itu keluarga, Sekolah, dan masyarakat?”

“Saya tidak tega juga menyalahkan”, Gendhon menjawab, “keadaan keluarga-keluarga rakyat sekarang makin susah secara ekonomi, psikologis, budaya, dan politik. Sekolah juga tak kurang-kurang berusaha mendidik murid-muridnya, meskipun memang semakin banyak berlangsung kekacauan berpikir tentang pendidikan, karena ketidaksanggupan menjawab komplikasi tantangan zaman, yang bahkan semakin tak bisa dijawab juga oleh pusat pendidikan nasional di Ibukota sana…”

“Gawat ya…”, saya merespons.

“Simbah kan pernah cerita tentang Menkominfo yang kemudian menjadi Mendiknas yang Simbah tidak mendukung jabatan kedua itu. Sebab terlalu besar dan kompleks masalah yang harus beliau atasi, dan Simbah yakin beliau tak akan sanggup melakukannya. Sehingga di hari pertama menjadi Menteri, beliau berpidato menyatakan bahwa ia tidak akan mengubah apapun semua yang sudah dilakukan oleh Menteri sebelumnya. Artinya, dia kasih pengumuman: ‘Silakan terus merusak’…”

“Ah, mosok saya bermaksud begitu”, saya mengelak.

“Kan masyarakat memang semakin tidak berdaya diserimpung oleh tidak menentunya nilai-nilai. Secara keseluruhan mereka dan kita semua sedang kehilangan arah. Atas dasar apa para remaja kita tuntut untuk tidak rusak?”

Pèncèng meneruskan, “Para remaja itu tiap hari dididik oleh kenyataan nasional, terutama oleh situasi elit politik: para pemimpin nasional bermusuhan terus.

Mereka merasakan bermusuhan itu biasa, membenci itu sah, menghancurkan itu lazim-lazim saja…”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image