Pastikan Harga Dirimu Di Depan Informasi

Catatan dari Sinau Bareng Gondelan Klambine Kanjeng Nabi, Kudus 28 April 2017

Selain yang telah diwartakan lewat empat Foto Headline, Sinau Bareng di Lapangan Jepang Mejobo Kudus juga membincang pelbagai hal, terutama saat Mbah Nun merespons banyak pertanyaan dari Jamaah, mulai dari cara gondelan klambine Kanjeng Nabi, tentang gelap dan terang, tentang cara mengikuti kiai, tentang ahlussunnah waljamaah dan manunggaling kawulo gusti, sampai soal pendidikan anak.

Lalu ditegaskan oleh Mbah Nun, bahwa satu-satunya jalan yang logis menghadapi informasi adalah penelitian.
Foto: Adin. Dok: Progress

Tetapi salah satu bagian yang menarik dari Sinau Bareng malam itu adalah ketika Mbah Nun merespons sambutan wakil keluarga besar Rokok Sukun, yaitu Pak Hilmi. Di samping menyampaikan kepada hadirin bahwa acara ini diselenggarakan sebagai wujud terima kasih Sukun kepada masyarakat, Pak Hilmi juga menuturkan keprihatinannya akan situasi masyarakat saat ini.

Situasi yang dimaksud adalah kenyataan pada masa kini di mana masyarakat dapat mengakses informasi dengan mudah, tapi di sisi lain mereka tak punya filter atas deras atau berlimpahnya informasi itu. Padahal proses filterisasi itu penting sebelum seseorang menyebarkan informasi itu lebih luas lagi kepada banyak orang. Itulah yang terjadi pada media sosial, yang jauh melebihi media konvensional. Portal-portal berita menyampaikan informasi secara lebih cepat melalui media internet ini.

Atas sodoran soal ini, Mbah Nun langsung menanggapinya segera untuk menjadi ilmu dan pemikiran bersama. Mbah Nun pribadi sangat menyadari bahwa anak-anak usia belasan tahun pada saat ini tiba-tiba mengalami kemajuan luar biasa. Dahulu, untuk mendapatkan sebuah berita, prosesnya sangat panjang. Dari era stensil menuju era cetak. Itu pun menunggu wartawan menghimpun informasi untuk diproses menjadi berita. Setelah itu, baru sebuah berita dapat dibaca orang. Satu-satunya media yang sifatnya on line saat itu hanya radio.

Mbah Nun mengatakan, sekarang ini setiap orang jadi redaksi sekaligus wartawan. “Dari sudut kemajuan, maju…tapi dari sudut bahaya, bahaya…maka mbok dikecapi, dikunyah, atau difilter…tapi bagaimana caranya memfilter?,” papar Mbah Nun merefleksikan fenomena media sosial yang dilontarkan Pak Hilmi.

Puasa tidak gampang nge-share, puasa tidak gampang ikut pada soal yang kita tidak relevan di dalamnya.
Foto: Adin. Dok: Progress

Lalu ditegaskan oleh Mbah Nun, bahwa satu-satunya jalan yang logis menghadapi informasi adalah penelitian. Penelitian agar bisa diketahui apakah informasi ini benar atau bukan, akurat atau misleading. Dulu seorang wartawan menghimpun informasi dan data, dan ketika sudah tertayang sebagai berita, berita tersebut sudah boleh dikata 70% benar, karena juga sudah melalui meja redaksi yang mengkaji perlu tidaknya berita ini dihadirkan ke masyarakat.

Tetapi apakah mungkin saat ini setiap informasi di internet akan kita respons dengan penelitian? Apakah tersedia waktu dan akses ke sumber-sumber informasi? Sementara informasinya yang membanjir dan berseliweran sangat banyak. Dan kalau iya mau penelitian, berapa waktu dibutuhkan? Terus kapan Engkau bekerja mencari nafkah?

Begitulah situasinya jika dipapar secara ilmiah dan metodologis. Hampir mustahil melakukan penelitian, tabayyun, cek dan ricek, sementara skala muatan berita itu bisa sangat nasional dan global. Maka menghadapi situasi itu, Mbah Nun menyarankan agar setiap kita menempatkan diri pada posisi yang tepat. Misalnya, setiap diri bertanya “Buat apa aku ikut-ikutan”. Jadi soal relevansi. Semakin kita tahu tingkat dan kadar relevansi kita pada sebuah informasi, semakin kita bisa presisi menentukan sikap. Dalam konteks relevansi itulah terletak ‘puasa’. Puasa tidak gampang nge-share, puasa tidak gampang ikut pada soal yang kita tidak relevan di dalamnya.

Itulah salah satu cara memfilter dan menyikapi informasi yang disampaikan Mbah Nun. Cara kedua adalah setiap diri kita perlu memastikan posisi kita di tengah lautan gelombang informasi itu. Yaitu, kita ini subjek atau objek. Subjek yang memproduksi informasi atau objek yang ditimpa informasi. Fa’il atau maf’ul. Mbah Nun memberi contoh bahwa beliau tak punya akun pribadi medsos seperti Twitter, Facebook, Youtube atau Instagram. Dan di dalam limpahan informasi itu yang dilakukannya hanyalah menyerap data. Selebihnya, memproduksi, melahirkan, dan menyumbangkan informasi yang baik.

Cara yang ketiga, dan ini justru yang paling tidak dipertimbangkan atau tidak dipakai di antara kita adalah milikilah harga diri di hadapan informasi. Artinya, kita tidak sedikit-sedikit memberi ruang dan pikiran atas semua berita atau informasi tanpa kita letakkan dalam skala prioritas. Kita harus punya harga diri sehingga hanya akan memilih informasi yang relevan, bermanfaat dan bermutu. Kita tidak buang-buang tenaga dan waktu hanya untuk informasi cekeremes. Kita perlu punya skala prioritas.

Demikianlah untuk tidak mudah terseret dan terlibat pada informasi-informasi yang hari ini makin deras dengan belum jelas kebenarannya, dan apalagi banyak produksi informasi yang muncul karena kepentingan-kepentingan yang bermacam-macam, maka tak ada jalan lain menurut Mbah Nun kecuali nganggo akal dan roso ati, seperti telah dicontohkan Mbah Nun di atas.

Anda dapat “menanyakan” langsung kepada Allah
Foto: Adin. Dok: Progress

Terakhir, jika kita berhadapan dengan informasi, dan mungkin sulit mendapatkan konfirmasi akan kebenarannya Mbah Nun menyampaikan, “Anda dapat “menanyakan” langsung kepada Allah. Allah memiliki sifat al-Khobiir. Maha Mengabarkan. Ada setidaknya dua sifat Allah yang digabung dengan Khobiir. Lathifun Khobiir. Aliimun Khobiir. Engkau wiridkan. Yang paling mudah redaksinya: Ya Lathif Ya Khobiir dan Ya ‘Aliim Ya Khobiir. Engkau pilih salah satunya untuk diwiridkan. InsyaAllah itu akan membuat malaikat membantu memfiltermu dari informasi-informasi itu.”

Tak disangka dari soal menghadapi informasi ini, diulaslah oleh Mbah Nun secara ilmiah tapi juga secara spiritual dengan dikemukakannya pendekatan wirid tadi. Baik Pak Hilmi, narasumber lain, dan seluruh hadirin menyimak dengan serius, dan sesudah keseriusan itu menyerap perhatian kita, suasana dirilekskan lagi lewat lagu India “Kuch Kuch Hota Hai” yang dibawakan oleh Mbak Yuli. Asiiik. (Helmi Mustofa)

Kita harus punya harga diri sehingga hanya memilih informasi yang relevan, bermanfaat dan bermutu, tidak buang tenaga dan waktu hanya untuk informasi cekeremes.