Paseduluran Arema yang Kultural

“Arema merupakan klub sepak bola yang masih kultural. Masih nyambung dengan masyarakat. Seharusnya di seluruh Indonesia seperti itu,” ujar Cak Nun.
Arema merupakan klub sepakbola yang masih kultural. Masih nyambung dengan masyarakat. Seharusnya di seluruh Indonesia seperti itu.
Arema merupakan klub sepakbola yang masih kultural. Masih nyambung dengan masyarakat. Seharusnya di seluruh Indonesia seperti itu.

Persentuhan Cak Nun dan KiaiKanjeng dengan masyarakat memang luas dan lintas background. Misal sebelumnya bertemu dengan masyarakat pedesaan di Karanganyar, nahdliyyin di Pare, dan keluarga besar rumah sakit di Surabaya, kini dengan supporter sepak bola. Di setiap persentuhan itu, persambungan yang terjalin adalah persaudaraan.

Sebelum masuk lebih dalam, Cak Nun membekali Aremania dengan cara berpikir atau cara melihat. Kali ini cara berpikir itu disampaikan melalui simbolisasi kado. Bahwa ada yang bungkusan-bungkusan yang menutupi kado. “Penting endi, bungkuse ta isine?” tanya Cak Nun. Para Arema diajak untuk menemukan isi, inti dari Arema itu sendiri. “Paseduluran”. Begitu jawab jamaah saat Mbah Nun menanyakan yang terpenting dari Arema ini. Tidak hanya untuk memandang Arema, tetapi cara melihat ini berlaku kepada segala hal.

Inti paseduluran dalam Aremania ini beriringan dengan transformasi Arema. Cak Nun menilai Arema tumbuh berproses secara alami dan kultural. Perkembangan Arema sangat alamiah tapi juga modern. “Arema merupakan klub sepak bola yang masih kultural. Masih nyambung dengan masyarakat. Seharusnya di seluruh Indonesia seperti itu,” ujar Cak Nun.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image