Wedang Uwuh (49)

Panembahan Mangkubuwono

Kedaulatan Rakyat, 3 Oktober 2017

“Mbah, saya seneng sekali cerita Simbah tentang bagaimana sesuatu yang sudah melembaga dalam pengetahuan masyarakat, akhirnya secara alamiah menjadi nama lembaga itu sendiri…”, Pèncèng bertanya di tengah keasyikannya mendengar saya bercerita tentang koran paling sulung di Republik ini, yakni Kedaulatan Rakyat.

“Yang apa itu maksudmu?”, saya bertanya balik.

“Masyarakat Yogya kalau bertanya ke tetangganya berlangganan koran apa, kalimatnya: ‘Kamu langganan KR apa?’. Padahal KR kan nama salah satu koran. Terus tetangganya menjawab: ‘Oo, saya langganan KR Mertju Suar…”

Kemudian Gendhon mengemukakan analisis yang sangat bagus. “Orang Jawa itu punya etos budaya dan tradisi batin yang namanya nyawiji. Kalau Karjo nikah dengan Kariyah, maka Kariyah adalah istrinya dan istri bagi Karjo ya hanya Kariyah. Tidak ada kemungkinan istri selain Kariyah. Kepada tetangganya dia bertanya: ‘Kariyahmu siapa?’…

“Ah, ya nggak ada seorang suami bertanya begitu kepada tetangganya”, Beruk membantah.

“Maksud saya di dalam kondisi batinnya ya seperti itu. Mungkin soal istri tidak sampai muncul kalimat seperti itu. Tapi soal-soal yang tidak privat, munculnya ya sama dengan KR-mu apa. Atau Honda saya Yamaha, atau lampu Petromaks menjadi Lampu Strong King. Padahal Strong King adalah merek salah satu petromaks. Bagi orang Yogya koran itu ya KR, KR ya koran itu sendiri”

Anak-anak saya ini, meskipun gadget tidak pernah terlepas dari genggamannya, informasi dunia setiap saat bisa mereka brows dari handphone, tetapi kalau dolan ke rumah — tetap juga mereka membaca KR langganan koran saya di rumah. Saya lebih tua tiga tahun dibanding usia KR, yang lahir pada 27 September 1945. Tetapi sejak balita Bapak saya dulu langganan KR-nya ya KR.

Saya meneruskannya sampai hari ini. Urusannya bukan hanya soal informasi tentang kejadian-kejadian lokal, regional, nasional dan internasional. Hubungan saya dengan KR sudah seperti suami dengan istri. Ini soal habitat. Tradisi sehari-hari kenikmatan hidup. Soal kemesraan budaya. Intimitas kultural. Secanggih-canggihnya handphone tidak bisa menimbulkan bunyi seperti kemresek-nya lembaran koran yang dibuka, digeser-geser dan dibolak-balik.

Sehebat-hebatnya internet, tetap tidak cocok dengan kursi goyang, punggung rebah ke belakang, kopi di meja sebelah, rokok dan asbak. Sekarang ditambah kacamata. Beda rasanya kacamata untuk melihat layar handphone dengan membaca lembaran kertas lebar. Hidup itu perlu kelengkapan, tidak langsung efektif ke sasaran. Makan tidak cukup nasi. Harus ada sayur, sambel dan krupuk. KR bukan hanya urusan berita. KR itu sebuah kelengkapan rasa hidup.

“Simbah benar”, Beruk berkomentar, “Di puncak teknologi informasi seperti sekarang ini seandainya KR tidak sanggup meneruskan hidupnya, saya tidak kaget, Mbah. Koran-koran besar di Jakarta yang omset dan kemampuan ekonominya jauh lebih besar dibanding KR saja sekarang kembang kempis hidupnya. Koran-koran manual hanya hidup karena disubsidi oleh usaha-usaha lain dari grup bisnisnya. Nggak ngejar lagi pendapatannya. Tapi KR tetap hidup sampai hari ini, berarti punya sesuatu yang lain yang tidak dimiliki oleh media-media cetak lainnya”

“Apa itu maksudmu?”, saya bertanya.

“Ya seperti Simbah jelaskan tadi. Membaca KR tidak sekadar urusan cari berita. Juga tidak terlalu terpengaruh oleh speed competition, perlombaan kecepatan. Dulu kita berkirim surat butuh waktu seminggu untuk sampai ke yang kita maksud. Alat paling cepat adalah telegram. Itu pun prosedurnya juga tidak cepat. Kita harus ke Kantor Pos, antre dan seterusnya. Sekarang kita bisa berkomunikasi dengan orang di belahan lain dari bumi ini dalam waktu satu dua detik. Kejadian berlangsung di suatu menit, pada menit berikutnya sudah bisa diketahui oleh seluruh penduduk dunia. Kalau media manual yang memberitakan, menunggu terbit besok pagi. Kalau ada kejadian beberapa menit sesudah deadline jam 11 malam misalnya, baru bisa diumumkan lusa. Sekarang ini andaikan di Norwegia ada Malaikat Isrofil datang membunyikan terompet, dalam waktu beberapa menit seluruh dunia sudah mengetahuinya, bahkan bisa mendengar suara terompet itu beserta gambar berjalannya. Tetapi itu semua tidak bisa membunuh KR…”

“Itulah sebabnya andaikan KR itu manusia”, saya merespons Beruk, “saya menjulukinya Panembahan Mangkubuwono”

Saya senang anak-anak yang masih sangat muda usianya, memperhatikan sesuatu secara lintas generasi. Tidak hanya melihat sekilas dan sepenggal sebagaimana kebanyakan orang hari-hari ini.

“Kok Panembahan Mangkubuwono, Mbah?”, Pèncèng bertanya.

“Mbah, saya seneng sekali cerita Simbah tentang bagaimana sesuatu yang sudah melembaga dalam pengetahuan masyarakat, akhirnya secara alamiah menjadi nama lembaga itu sendiri…”, Pèncèng bertanya di tengah keasyikannya mendengar saya bercerita tentang koran paling sulung di Republik ini, yakni…