Pancasila

Ingat Pancasila, Ingat Idul Adha

Tulisan ini merupakan refleksi Cak Nun di akhir 1970-an yang kemudian diterbitkan dalam buku “Indonesia Bagian Sangat Penting Dari Desa Saya” oleh penerbit Jatayu tahun 1983. Kemudian diterbitkan ulang oleh penerbit Sipress (1992) dan Kompas (2013) dengan judul lebih singkat “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”. — Redaksi.


Ingat Pancasila, ingat Idul Adha. Aneh. Otak langsung muluk ke langit. Nonton pemuda kecil Ismail telentang di atas batu. Dengan senyum jernihnya ia menunggu kilatan pedang Ibrahim bapaknya yang akan menyembelih lehernya. Lantas flying lagi dan ketemu Nabi-Nabi lain yang juga penuh luka pengorbanan. Ketemu Imam Bukhari dan Imam Muslim, dua perawi masyhur yang sedang jalan-jalan santai dengan se-’orang’ malaikat. Ketemu berbagai lanskap sejarah, yang silam dan yang membayang di depan. Ketemu ahli-ahli penafsir Islam. Ketemu orang-orang yang tak kusangka tak kuduga bisa masuk sorga, sampai akhirnya tersadar kembali dari lamunan dan terjerembab ke bumi.

Ya. Pancasila begitu religius. Paling tidak untuk saya. Lebih religius, daripada politis.

Soalnya saya duluan tahu alif-bengkong dan wawu-kecambah daripada a-b-c-d Latin. Duluan tahu qasidah shalawat Nabi dari pada lagu wajib “Dari Sabang Sampai Merauke”. Jadi ketika Pak Guru Markilin di sekolah mengajari saya perihal Pancasila, otak saya langsung mengidentifikasikannya dengan rukun Islam yang juga lima. Ketuhanan Yang Maha Esa itu Syahadatain. Sila kedua Mu’amalah ma’annas. Ketiga Ukhuwah. Keempat jelas: Musyawarah. Lha yang kelima, pasal keadilan itu, Zakat atau Qurban-lah tentu.

Ini tak ada hubungannya dengan politik. Lokasi ‘desa kediaman’ saya amat jauh dari Desa Politik. Ini gejala psikologis biasa saja. Kalau misalnya ada “Operasi Sapu Lidi” yang khusus bertugas membersihkan penyelewengan ideologi negara umpamanya, maka saya bukan orang yang patut ditangkap. Bahkan, identifikasi di atas harus diartikan justru merupakan suatu jabaran realistis yang mendukung kasektennya Pancasila. jangan khawatir. Atau sebaliknya, secara kesejarahan Pancasila menetes antara lain dari wawu kecambah itu, di samping Amitabha Buddha, Kristus Penebus Dosa, dst.

Identifikasi itu tidak tepat benar, tentu saja, karena bentuk kotaknya memang berbeda. Di samping itu mafhumlah otak gondrong saya yang penuh serabut-serabut huruf Arab — sampai-sampai mau nyanyi My Bonny is Over the Ocean saja malah jadi qasidahan, atau paling tidak ndangdutan. Haji, misalnya, rukun Islam kelima itu, termasuk sila ke berapa? Sepanjang bersekolah di Madrasah, ngganjal sekali rasanya hal ini. Tetapi, lama-lama saya hibur diri saya: Ah, rukun Islam dan Pancasila itu pada prinsipnya sama, cuma bentuk ungkapannya beda. Juga umpamanya kalau ada Rukun Kristen, Rukun Katolik, Rukun Protestan, Rukun Buddha, Rukun Hindu Bali, atau katakanlah Rukun Aliran Kepercayaan; mestinya sama saja, enggak ada yang menyuruh umatnya bangsat-bangsatan, maling, korupsi. Semua pasti kemuliaan, keluhuran, kebaikan, dan kebahagiaan. Biarin kalau pikiran saya ini terlalu sederhana. Habis orang hidup ini mau apa sih? Kan disuruh baik-baik sama Tuhan, manusia lain, dan semesta alam. Atau terserah deh menurut jalan pikiran Ente. Saya sih pokoknya damai, baik, sentosa, rukun (meskipun dengan cara berkelahi). Kan ini Indonesia: majemuk, rancu, irasional, tetapi smooth….

Identifikasi semacam di atas itu sangat wajar. Kalau ada yang mempolitisasinya pasti saya tempeleng, kalau berani. Bahkan, ketika Pak Markilin guru favorit itu mengajari kami lagu wajib “Satu Nusa Satu Bangsa”, saya geli sendiri menyaksikan diri saya. Kami ambil suara: ‘Saaa….’. Hitungan kelima masuk: “Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita….”, tapi diam-diam benak saya nyelonong nyanyi sendiri: “Salatullah salamullah ‘ala thoha rasulillah….’. Habisnya sama-sama ‘saaa’ intronya. Sedangkan saya ini di desa terkenal suara merdu, dicalonkan jadi penyanyi qasidah, meskipun saya lari menghindar. Naluri musikal saya kan naluri Ummi Kultsum. Bukan naluri Pranajaya atau Eddy Silitonga.

Ketika memahami Islam, termasuk qurban, zakat, atau memahami apa pun dalam hidup yang utuh ini, saya pikir kita membutuhkan identifikasi semacam itu. Kemampuan merangkum, menemukan relasi, gathuk-nya, jluntrungannya, perlambang atau jabarannya. Dari menghubungkan ibadah dengah KKN misalnya, sampai antara Surat Al-Hujurat ayat 9 dengan soal-soal partai politik serta perang Iran-Irak.  Kita adalah angin: rumah boleh terkotak-kotak, tetapi kita merangkum dalam dan luarnya, kita berada pada seluruhnya sebagai satu yang utuh.

Ideologi kita, saudaraku, adalah Pancasila

Ingat Pancasila, ingat Idul Adha. Aneh, apakah karena pesta pengorbanan? Apakah karena di bumi Pancasila ini makin sedikit orang yang mau berkorban, makin banyak orang yang mengorbankan orang lain?

Ingat Pancasila. Ingat kambing-kambing. Ingat ratusan gelandangan berkerumun antre di rumah Amil atau di halaman masjid untuk menunggu sekerat daging. Ingat sapi-sapi. Ingat khotbah di alun-alun: “Saudara-saudara, dulu sepanjang Ramadlan kita diberi pelajaran dan pengalaman bagaimana merasakan lapar, merasakan salah satu derita orang miskin. Sekarang diminta pengorbanan kita untuk memberikan sebagian harta kita kepada mereka. Ini adalah salah satu fenomena cara yang bisa dipakai kalau kita selalu berbicara mengenai pemerataan, tentang keadilan sosial, tentang kemiskinan struktural. Kalau korban ini kita laksanakan lebih efektif dan lestari, maka pasti merupakan dukungan bagi tercapainya pemerataan dan keadilan itu….”

Khotbah itu diteruskan oleh beribu jiwa yang pulang kembali ke rumah: “Kata ‘lapar’ itu saja sudah cukup kuat untuk mengetuk pintu pengorbanan, apabila hasrat dan itikad terhadap keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan bersama memang ada. Tetapi, benarkah kita sungguh-sungguh menghendaki itu semua? Sedang caranya amatlah gampangnya. Jika bahan amalan ada, atau harta benda, dan kemauan beramal ada, maka langkah gampangnya mencari orang yang patut diberi amal. Tapi tidak hidup di wilayah itu. Kita adalah orang yang sadar dan sigap menggenggam hak, dan enggan menerjemahkan kewajiban. Kita sudah peras keringat dan rumah berhasil kita tingkat. Itu hak penuh. Tak menyisihkan sebagiannya kepada orang lain tak dosa. Kita cari-cari sendiri, kita makan-makan sendiri. Apa salahnya. Jadi yang sukar ialah menciptakan suatu sistem besar, makro dan mikro, yang bisa memekanisir keadilan, pemerataan, kebersamaan, yang sejahtera dan bahagia. Sebab pada dasarnya manusia kurang beritikad untuk itu. Mereka harus di-‘paksa’ oleh sistem….”

Sebab inikah, ketika memandang bumi Pancasila teringat oleh saya Idul Adha? Korban terhadap sesama?

Nabi Ibrahim men-cikal-bakali-nya. Ia harus menyembelih ‘harta’-nya yang begitu amat sangat dicintainya, bahkan yang dulu setengah mati didamba-damba. Ibrahim maupun Ismail sendiri ikhlas menerima perintah Tuhannya, sehingga akhirnya pedang Ibrahim itu tak menyentuh leher putranya, melainkan leher seekor domba. Isa Al Masih pun tak kalah pengorbanannya. Ia merelakan dirinya dipecundangi demi kemerdekaan umatnya. Ia disalib, menurut sahabat-sahabat Kristiani. Tetapi ia hanya lenyap ke langit, kata saudara kaum Muslimin. Lenyap ke sorot mata Tuhan, bagai Wisanggeni. Ia tetap hidup sampai kini, dan kabarnya hendak kembali lagi. Mana yang benar, tak akan saya persoalkan, sebab setiap orang hanya bisa hidup dengan keyakinannya sendiri, tidak dengan keyakinan orang lain.

Yang penting adalah esensi qurban

Sudah beli kambing dan sapi? Mari disembelih. Tetapi, kalau qurban kita hanyalah menyembelih sapi dan kambing, alangkah ringannya. Sedangkan pengorbanan Ibrahim dan Ismail pun masih tergolong ringan. Kalau tahu dan yakin persis bahwa itu kehendak Tuhan, maka kenapa keberatan kita bunuh anak kita, atau diri kita sendiri. Toh Tuhan itu Maha Segala-galanya, alangkah nikmatnya pasrah dalam kehendak-Nya. Tetapi, bagaimana bisa tahu persis sesuatu itu mau-Nya atau bukan, itulah soalnya. Sayang kita ini bukan Nabi. jadi kurang ‘komunikatif’ dengan Tuhan. Meskipun kita bisa latih, kita asah terus tiap detik percintaan kita dengan-Nya, hingga makin karib, makin kenal, makin tanggap.

Kalau Idul Qurban sekadar berurusan dengan lembu atau beberapa kilo beras, maka ia terlampau kecil untuk menjadi ‘sisa’ Islam. Ia harus lebih berbobot. Lebih kualitatif dan dengan begitu lebih produktif. Dalam rankingnya, sila qurban itu didahului oleh syahadatain, kemudian shalat, dan puasa. Qurban bukan sekadar wewenang seseorang yang sebagian hartanya bisa dizakatkan. Persis juga ibadah haji, esensial bukan hanya milik orang di Madura atau Timor Timur yang punya duit sejuta dua juta untuk bisa pergi ke Mekkah. Teknis formal memang begitu. Tetapi idul haji adalah milik orang yang empat rukun Islam sebelumnya sudah ia jalankan dan alami secara matang. Ia sudah baca syahadatain sampai emput-empute-sukmane. Sudah intens dan konsisten sembahyang. Sudah sublim puasanya. Sudah ia temukan dan langsungkan pengejawantahan makna individual dan sosial rukun zakatnya. Kalau zakat dan haji praktis hanya milik orang-orang kaya, maka terasa agak gampang rukun Islam yang dua ini. Saya percaya, zakat dan haji diletakkan pada ranking ke-4 dan ke-5 sesudah syahadat, salat, dan puasa, karena ia memang sangat berhubungan dengan tingkat yang lebih tinggi dari proses penyempurnaan rohani seorang muslim.

Syahadat adalah upacara kesadaran pertama seorang muslim. Shalat menguji disiplin dan kesetiaan kecintaan dan keibadahannya. Puasa itu peluang bagi penghayatan, sekaligus katarsis dan sublimasi. Zakat itu jabaran dan penerapan keislaman secara lebih luas dan konkret; secara langsung menyangkut masalah-masalah sosial manusia. Kemudian haji adalah rangkuman, kesatuan universal, kebulat-utuhan spiritual makhluk manusia di hadapan Tuhannya. Haji itu semacam puncak Borobudur, yang melambangkan puncak spiritual manusia. Haji tidak ada kaitan makna dengan status sosial atau prestise.

Qurban, dengan demikian, mesti memperoleh makna yang seluas-luasnya. Urut-urutan rukun Islam itu mengandung suatu stratifikasi kualitatf yang nampaknya disengaja oleh Allah. Syahadat itu pengakuan pemilikan tanah Clearence. Puasa itu lantai bening penghayatan kehidupan. Zakat adalah bangunan riilnya, tiang dinding pintu jendela. Sedang haji adalah pucuk wuwung, yang menuding ke arah langit. Bagai menggapai bayangan Tuhan.

Zakat, qurban, adalah ayat (pertanda) awal dari suatu prinsip muamalah, pergaulan kebersamaan manusia. Orang tak cukup hanya punya harta lebih dan ia zakatkan. Ia harus mengaitkan dirinya dengan proses pematangan dan penyempurnaan kemanusiaannya.

Apa gerangan prinsip muamalah itu?

Ialah prinsip memberi.

Memberikan diri kepada kehidupan, sebagai cara untuk mengembalikan segala-galanya kepada Yang Empunya. Kalau duit kita bawa ke kuburan, atau sebagian lain kita bagi-bagikan kepada anak cucu agar mereka samper ke kuburan juga, maka tak akan sampai ke Tuhan. Konsep distribusinya tidak demikian. Harta dan duit, iktikad dan jasa, juga segala macam yang kita punya, mesti disalurkan kepada kebutuhan kehidupan keumatan manusia, didayagunakan buat kepentingan sosial, diamalkan untuk sedikit banyak menyingkirkan kemelaratan. Dengan pelbagai macam cara. Langsung maupun tak langsung. Eksplisit maupun implisit. Sembunyi atau pameran.

Sila qurban itu memberikan kepada kita pertanyaan-pertanyaan: Berapa besar waktumu kau berikan kepada egomu dan berapa untuk lingkungan sosialmu. Berapa jam waktumu yang kau pergunakan untuk mencari duitmu, dan berapa jam untuk berupaya menemukan Tuhanmu. Kalau yang kita ucapkan dalam shalat inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil ‘alamin, sesungguhnya sembahyang, hidup dan matiku, aku persembahkan kepada Allah Raja sekalian alam, atau inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un, sesungguhnya kepunyaan Allah dan kembali kepada-Nya kita semua memang betul-betul merupakan kenyataan hidup kita, maka zakat dan qurban itu menemukan maknanya. Kalau tidak, kita hanyalah sekadar orang yang punya beras dan kambing yang lebih. Tetapi itu pun sudah alhamdulillah, daripada orang-orang lain yang dijadikan qurban, untuk mendirikan gunung dan pabrik-pabrik. Kalau begitu kan Pancasila bisa ngenes.

***

Robin Gibb, vokalis kelompok Bee Gees berdendang: ‘I started a joke, which started the whole world crying. I started to cry, which started the whole world Iaughing…‘ bagaikan menyindir para Guru Bangsa, pemimpin-pemimpin suci, para rohaniwan, seniman, ilmuwan, yang menangis jauh di ruang dalam jiwanya — sementara dunia sedang tertawa.

Di podium, sang Biksu, Pendeta, Kiai, berpetuah: “Carilah Tuhanmu, jangan cari dunia!” Tetapi, dunia sekelilingnya bagai mabuk kepayang, tenggelam dalam kenikmatan semu yang fana, terkesima oleh kemewahan dan mimpi-mimpi fatamorgana.

Atau para orator di panggung itu mencampakkan diri juga dalam gelombang laut yang dihardiknya.

Pancasila, sang Jimat, dalam ancaman. Ancaman itu datang juga dari mereka-mereka yang selalu memperingatkan bahwa Pancasila berada dalam ancaman.

Anak-anak muda, yang duduk di depan podium, bingung dan tegang. Seperti kena trauma, bibir jadi sinis dan pantat kepanasan: “Bangsat! Kalimat-kalimat suci dibikin mainan akrobat! Falsafah jadi karat, pedoman sakral jadi slogan kosong dan bendera pusaka tergeletak dalam almari dilipat-lipat! Kebenaran hanya sibuk diperkatakan, keluhuran dipermainkan. Penyelewengan dan pengingkaran mengongkang-ongkang!”

Tetapi, yang lain pada tertawa. Semula yang ditertawakan adalah tukang-tukang akrobat, tapi kemudian ketika sang jimat dimunculkan, mereka juga tertawa. Semuanya hanya bahan seloroh, dagelan, dan bercanda. Hal ini karena sukar dibedakan mana yang mengibarkan sang jimat sungguh-sungguh, mana yang karena topeng dan unggah-ungguh. Anak muda itu seakan-akan tak mampu lagi memandang bahwa ruang pementasan ini tidak sama sekali hitam. Para Guru Bangsa yang menangis dalam batinnya kini wajahnya pun tertawa. Bukan karena ketersesatan melainkan karena pemahaman atas karakter pementasan. Di dalam mengusahakan ketepatan membidik sasaran, mesti ditemukan sense dari dialognya secara jitu dan tajam. Karena itu mereka tertawa.

Semua tertawa. Semua tertawa.

Khotbah-khotbah di masjid penuh kelucuan. Kesegaran menjadi pedoman. Tentu saja dagelan hanya warna permukaan, bukan sifat masalah yang disodorkan. Kiai-Kiai mesti jenaka. Romo mesti pintar bercanda. Memberi petuah mesti tak terasa, jangan kayak malaikat yang naik pitam berang menyaksikan rusaknya hidup manusia. Mesti kayak pelawak yang menghanyutkan, tetapi taktis. Diskusi dan seminar pun jangan terlampau mengerutkan dahi, supaya tidak kelihatan kenes dan sok. Betapa seriusnya pun permasalahan, tetapi harus dibahas dengan penuh tawa. Para penyair juga mesti pandai memancing gelak. Pidato, pengajian, puisi, drama, mesti menggelitik, merangsang dan menceploskan gerr. Kalimat-kalimat harus jeli bagaimana membikin orang terpingkal. Pertunjukan sebaiknya komedis, betapa tragisnya pun temannya, supaya tak kering. Semua butuh tertawa. Semua butuh hiburan. Semua butuh kesegaran. Makin susah orang makin butuh hiburan. Makin banyak hiburan, karena makin banyak kesusahan yang harus diajak melupakan.

Kebutuhan akan humor makin terasa dan disadari. Humor dikukuhkan sebagai bagian atau dimensi dari kodrat manusia yang sejajar dengan aspek-sepak lainnya. Humor tidak lebih rendah dan sisi yang remeh dari kualitas manusia. Keadaan seolah-olah begitu menekan, mencekam, memepet, mengurung, menindih hingga pengap napas. Kita bagaikan sedang ditimpa penderitaan yang tak berkesudahan. Kita seakan-akan digenggam oleh hawa gerah sehingga selalu butuh waktu untuk melepaskan tertawa yang keras dan panjang.

Seakan-akan. Seakan-akan.

Tetapi, terkadang timbul pertanyaan: benarkah ini seakan-akan? Jangan-jangan seakan-akan saja ini seakan-akan.

Atau tidakkah kita ini justru begini nyaman, lapang dan bahagia, sehingga punya peluang yang luas untuk tertawa dan bercanda? “Demi pengabdian kepada Pancasila dong…hahahaha!”

Tertawa itu gampang. Siapa bilang sukar? Orang yang paling tertekan pun bisa mendadak tertawa. Pak Becak saja di Surabaya, memuat kami bertiga, menyongsong hujan deras dengan angin kencang. Ia tertawa keras dan berteriak: “Ayo angin! Lebih keras lagi! Datangkan topan dan badai! Saya tak keberatan ambruk seluruh kota ini!”

Ah, betapa enak menertawakan tertawa. Kita pasti bukan si Dalban yang terhimpit di dinding penjara yang tertawa-tawa keras sambil nyanyi-nyanyi tanpa nada, tanpa alasan jelas apa yang menyebabkannya tertawa. Kita bukan si Kentir yang kekurangan motivasi untuk tertawa, sehingga apapun yang terjadi di sekeliling kita, kita tertawa. Tertawa bisa berdiri sendiri, tak selalu harus didukung oleh faktor lainnya. Misalnya saja, korupsi raksasa tak diurus, karena kalau dikeluarkan dari peti es bisa bikin dingin pamong-pamong teras lainnya, kedinginan sampai menggigil tubuhnya. Kenapa ini tak membikin tertawa?

Lihat Pancasila berwajah kecut. Tertawakan, supaya dia ikut tertawa. Supaya urat-uratnya segar. Supaya mukanya kembali sumringah dan menyala. Sebab sang jimat kita itu tak pernah bersalah. Sama sekali tak pernah bersalah. Ia jangan sampai shock. Kalau toh kita tak bisa membikinnya tertawa dengan cara membereskan kenyataan-kenyataan, kita ajak saja tertawa. Pokoknya tertawa. Ada atau tak ada alasan. Pokoknya tertawa. Ada atau tak ada alasan. Pokoknya tertawa.

Mendadak terdengar suara: ”Anak muda, kau terlalu tegang. Kaulah yang harus belajar tertawa, supaya bisa kau pandang dunia ini sebening-beningnya. Sang jimat Pancasila tak perlu kau ajari tertawa. Kaulah yang keder menyaksikan sejarah. Tetapi Pancasila tidak. Ia berjiwa besar. Ia selalu sumringah dan tertawa segar….

Yogyakarta, 1979

Tulisan ini merupakan refleksi Cak Nun di akhir 1970-an yang kemudian diterbitkan dalam buku “Indonesia Bagian Sangat Penting Dari Desa Saya” oleh penerbit…