Daur-II • 113

Paduka Agen Al-Qur`an

“Mungkinkah kita menjadi Muslim sejati atau kaffah, tanpa menjadi Ulama? Mungkinkan Allah menerima seorang hamba dengan ridha-Nya tanpa ia mencapai kualitas ilmu dan kesalehan setingkat Ulama? Mungkinkah manusia yang Allah menunggunya dengan kerinduan di Sorga, akan sanggup memenuhi kerinduan itu, tanpa mutu rohani sebagaimana para Ulama yang hampir sempurna jam-terbang-Qur`annya, penguasaan nilainya, pendalaman penghayatannya, perluasaan pemaknaannya?”

“Sangat mudah diterima oleh akal sehat bahwa untuk menjadi Muslim yang saleh diperlukan persentuhan, pemahaman dan pendalaman atas keseluruhan Al-Qur`an, sebagaimana para Ulama, Kiai, Habaib, dan Asatidz berada di maqam itu. Setiap orang tak mungkin tidak menyepakati bahwa tidaklah baik untuk memahami Al-Qur`an secara sepotong-sepotong, sebagaimana yang terjadi padaku dan mungkin sangat banyak orang lainnya. Jadi bagaimana nasibku beserta siapapun lainnya yang berada jauh dari memahami Al-Qur`an secara menyeluruh dan dalam keseluruhan?”

“Al-Qur`an itu, ‘Tiada keraguan padanya berasal dari Tuhan alam semesta[1] (As-Sajdah: 2): mungkinkah kasus ‘berasal dari’ itu langsung sampai pada hamba awam bodoh seperti aku, ataukah harus melalui ‘agen’, transformator, penerjemah atau penafsir, yakni para Ulama, Mursyid, Syekh, Maulana, atau siapapun yang maqamnya sangat dekat dengan Allah, tidak seperti kita yang jauh jarak dari-Nya?”

“Atau Al-Qur`an itu ‘petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa’ [2] (Al-Baqarah: 2). Pada siapa hak verifikasi untuk menentukan yang mana yang bertaqwa? Di tangan siapa hak dan ekspertasi untuk mengidentifikasi taqwa? Tidak ada jalan lain kecuali mempercayakan kepada beliau-beliau Paduka Agen Al-Qur`an sebagaimana yang tersebut di atas. Tapi bagaimana keawaman kita mengerti mana Ulama mana bukan, mana Syekh mana bukan, mana Ustadz mana bukan?”.