Padhangmbulan Serba Berbahasa Arab

Liputan Khusus Padhangmbulan Fuadussab’ah, Jombang 8 Juli 2017-Bag. 1

Dalam waktu semalam, tiba-tiba Padhangmbulan disulap menjadi ‘kerajaan’ Bahasa Arab. Untuk sebagian Jamaah Maiyah mungkin pemandangan seperti ini masih menjadi suguhan yang pertama. Atau, bisa jadi ini memang masih kali pertamanya di lingkaran Maiyah kita. Bahwa semua serba disuguhkan dalam bahasa Arab. Pembawa acara, sambutan, lagu-lagu, semuanya berbahasa Arab.

KiaiKanjeng membuka Padhangmbulan Fuadus-Sab'ah dengan nomer Syukaro dari Ummi Kultsum.
KiaiKanjeng membuka Padhangmbulan Fuadus-Sab’ah dengan nomer Syukaro dari Ummi Kultsum. Foto: Adin.

Usut-usut punya usut, semua ini memang disengaja. Semua sengaja disetting berbahasa Arab. Tak lain karena untuk mensyukuri nikmat bertambahnya usia salah satu Marja’ Maiyah. Beliaulah Ustadz Ahmad Fuad Effendy atau Cak Fuad, sosok guru besar bahasa Arab yang peran dan kiprahnya sudah mendunia.

Jamaah Maiyah dari segala penjuru Nusantara pun sangat banyak hadir semalam. Semua berbondong-bondong mempersembahkan kado ulang tahun untuk Cak Fuad. Sebagai salah satu bentuk perwujudan syukur terima kasih dan takdzim kepada Beliau.

Hadir pula, Profesor Barbara Michalak-Pikulska, sahabat Cak Fuad dari Polandia. Meskipun dari benua Eropa, Profesor Barbara mampu menceritakan sosok Cak Fuad kepada jamaah dalam bahasa Arab dengan fasih karena memang dia adalah guru besar Sastra Arab.

Pada bagian awal, usai Kiai Muzammil membuka acara dalam bahasa Arab, jamaah diajak menyimak lantunan tilawah Al-Qur`an oleh Mbak Nia KiaiKanjeng yang membacakan surat al-Fatihah dan Surat Muhammad (47) ayat 7, disambung kemudian sambutan oleh Fahmi Agustian dari KC dan Putri Fahmiatul Hasni dari Relegi yang lagi-lagi juga dalam bahasa Arab.

Sementara Syaikh Nursamad Kamba, sebagai salah Marja’ Maiyah juga yang berhalangan hadir pun tetap menuliskan sambutannya dalam bahasa Arab dan malam itu dibacakan oleh Mbak Kiki, salah seorang murid Cak Fuad. Syaikh Kamba sendiri untuk menyambut Ultah ke-70 Cak Fuad ini juga turut menulis pada Buletin Maiyah Jatim edisi khusus 70 tahun Cak Fuad.

Pengajian Padhangmbulan sebagaimana forum Maiyahan lain yang merupakan “adik-adik” dan “anak-anak” Padhangmbulan yang biasanya jauh dari ciri simbolik seperti pakai gamis atau busana lain yang identik busana Timur Tengah dan sebaliknya lebih identik sebagai pengajian wong cilik dan bukan kelas menengah Islam kota, justru terasa beda karena ternyata di luar dugaan malah familiar dengan Bahasa Arab. Kategorisasi sosiologis bisa kacau jadinya kalau kita linier dan baku dalam menatap Padhangmbulan. (Hilwin Nisa’ dan Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image