Padhangmbulan Mendalami Ishlah

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan orang yang berbisik-bisik di medsos itu kecuali mereka yang mengajak shadaqah, atau melakukan ma’ruf, atau melakukan usaha mendamaikan.
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan orang yang berbisik-bisik di medsos itu kecuali mereka yang mengajak shadaqah, atau melakukan ma’ruf, atau melakukan usaha mendamaikan.

Malam ini malam Padhangmbulan, 15 Sya’ban 1438. Pelataran Pondok Padhangmbulan diwarnai tebaran anak-anak muda yang sejak usai isya mulai memadati lokasi. Jumlahnya lebih dari biasanya. Bukan hanya itu. Anak-anak muda dan seluruh jamaah itu duduk rapi bersila dan terpancar aura khas dari tatapan mata keseriusan mereka dalam menimba ilmu. Ekspresi wajah itu nantinya akan dinamis tatkala Mbah Nun, Cak Fuad, dan narasumber lain telah berbicara dan menyapa hati mereka. Ekspresi serius, bahagia, gembira, mantap, tertawa lebar, khusyuk, dan lain-lain ekspresi.

Tetapi, apa yang akan mereka simak sebagai tema utama? Malam ini Padhangmbulan bertema “Ishlah” atau mendamaikan. Cak Fuad sebagai marja’ yang selama ini menjadi penjaga gawang yang menunjukkan dan menguraikan rujukan nash-nash menyentuh rasa jamaah adakah atau tidakkah situasi di masyarakat tengah penuh konflik yang membutuhkan pendamaian.

Cak Fuad mengajak semua jamaah menyimak surat an-Nisa ayat 114: La khoira fi katsirin min najwahum illa man amaro bishodaqotin au ma’rufin au ishlahin bainan naas wa man yaf’al dzalikab tigho-a mardhotillahi fasaufa nu’tihi ajron adhiima. Cak Fuad menerjemahkan dalam bahasa kontekstual kekinian dengan mengindonesiakan najwahun dengan medsos. Tidak ada kebaikan pada kebanyakan manusia yang berbisik-bisik di medsos itu kecuali orang yang mengajak shadaqah, atau melakukan ma’ruf, atau melakukan usaha mendamaikan.

Jamaah segera mengerti ke arah mana kira-kira relevansi ayat ini dalam kehidupan kita saat ini. Orang-orang yang berkonflik, bertengkar, dan bersikukuh pada kebenarannya sendiri-sendiri. Tak mudah memang melakukan pendamaian. Itu sebabnya menurut Rasulullah, orang yang melakukan pendamaian (mushlih) itu derajatnya sama dengan orang yang puasa dan shalat. Tidak mudah memang, tetapi karena merupakan kewajiban agama, maka kita pun harus mengupayakannya. Minimal kita tidak menambah kekacauan situasi yang semestinya didamaikan pihak-pihaknya.

Cak Fuad lalu menyitir ayat lain dalam al-Quran yang mendeskripsikan tiga wilayah dikakukannya ishlah: pertama, hubungan suami-istri dan hubungan ortu dan anak; kedua, hubungan di antara saudara atau karib kerabat; ketiga hubungan di antara individu-individu dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. Cak Fuad menerangkan secara detail tiga wilayah ini, salah satunya dengan menengok sejarah masa lalu dari era sahabat Nabi.

Jamaah yang hadir benar-benar membludak. Tak hanya yang berada di wilayah pondok. Tetapi sampai ke titik-titik terjauh di sebelah barat Masjid dan di timur di komplek SMK Global. Padhangmbulan sebagai ibu ilmu Maiyah malam ini benar-benar terasa. Paparan Cak Fuad memulai majelis ilmu ini terasa otoritasnya. Di panggung — tidak tepat disebut demikian sebenarnya — Cak Fuad tidak sendirian. Cak Nun, Cak Yus, Kiai Muzammil, dan dua orang tamu: Pak Abu Dardak dan Pak Hudiyono dari Diknas Jatim yang mengurusi pendidikan kejuruan, juga sudah berada di panggung dan bersama-sama menyimak uraian tematik Cak Fuad.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image