Padhangmbulan Dalami Lagi Silmul Islam

Padhangmbulan April 2017 secara khusus meneruskan lagi mendalami Silmul Islam-Islamus Silmi yang berangkat dari ayat Allah Udkhuluu fis silmi kaaffah.
Padhangmbulan semalam meneruskan penyelaman Silmul-Islam Islamul-Silmi. Allah memerintahkan bertakwa, tetapi memaklumi pula keterbatasan manusia.
Padhangmbulan semalam meneruskan penyelaman Silmul-Islam Islamus-Silmi. Allah memerintahkan bertakwa, tetapi memaklumi pula keterbatasan manusia (Foto: Hariyadi).

Allah memerintahkan kita bertakwa dengan sesungguh-sungguhnya takwa (ittaqullaha haqqo tuqootihi) dan Allah juga memerintahkan kita bertakwa semampu kita (fattaqullaha mastatho’tum). Dua perintah ini tidaklah bertentangan. Memang Allah memerintahkan bertakwa, tetapi Allah pun memaklumi seandainya karena keterbatasan kita, kita belum maksimal dan sempurna. Prinsip ini disebut dengan Al-Maajal Al-Munasabah.

Al-Maajal Al-Munasabah adalah letak ibadah dan amal sholeh yang mampu dilaksanakan seseorang sesuai kemampuan dan kondisinya. Sebagai contoh, seorang pelajar akan bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu. Seorang “security” bersungguh dalam menjalankan pengamanan.

Jika Islam secara “kaaffah” diartikan menjalankan seluruh perintah Allah secara sempurna dan menyeluruh, sesungguhnya manusia terbatas kemampuan dan usianya sehingga tidak mungkin mencapai semua dan seluruhnya, sedangkan jumlah perintah dan nilai-nilai Islam itu sangat banyak. Maka, udkhuluu fis silmi kaaffah lebih menunjuk pada nilai dan isi ibadah yang dilakukan manusia sesuai kemampuannya itu. Secara teoretis, Allah memerintahkan Ittaqullaha haqqa tuqatihi, tetapi melihat penerapan dan keterbatasan manusia, Allah pun memakluminya sehingga mengatakan fattaqullaha mastatho’tum.

Itulah salah satu poin pemaparan Cak Fuad semalam di Padhangmbulan Selasa 11 April 2017 yang secara khusus meneruskan lagi mendalami “Silmul Islam-Islamus Silmi” yang berangkat dari ayat Allah Udkhuluu fis silmi kaaffah yang telah dibahas pada bulan sebelumnya dan kini dikaitkan dengan konteks yang lebih luas lagi.

Masih banyak tebaran ilmu yang disampaikan Cak Fuad. Demikian pula dari narasumber lainnya. Ada Kiai Muzammil, Cak Yus, dan lain-lain. Juga muatan dan suasana lainnya: kekhusyukan, kenikmatan menimba ilmu, silaturahmi, kerinduan selalu pada kebaikan, dan rasa-rasa yang lainnya. Secara ilmu, para jamaah Maiyah diajak memasuki semesta pemikiran keislaman yang benar-benar baru yang melihat manusia secara sesuai natur dan fitrahnya.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image