Otentik dan Berdaulat: Kemerdekaan Orang Maiyah

Ungkapan Maiyah adalah organisme telah saya dengar sejak beberapa tahun lalu. Setelah sekian tahun itu hingga tiba waktu mengikuti Majelis Ilmu Padhangmbulan, 8 Agustus lalu, saya mendengar Mbah Nun menyampaikan: “Maiyah tidak boleh merebut siapa-siapa. Kalau orang Muhammadiyah ikut Maiyahan, tujuannya adalah agar ia menjadi lebih Muhammadiyyin. Kalau Nahdliyyin ikut Maiyahan, tujuannya adalah agar ia menjadi orang NU yang lebih ngerti, lebih temenan, lebih khittah. Maiyah bukan tempat, bukan wadah, bukan organisasi, bukan ormas. Kita berkumpul Maiyahan untuk silaturahmi dan paseduluran—ikatan persaudaraan yang murni dan suci.”

Sikap Merdeka Orang Maiyah

Tidak ada ikatan struktural di Maiyah. Jamaah yang hadir membawa otentitas diri mereka masing-masing. Sebuah penghargaan khusus yang diberikan Maiyah kepada makhluk ciptaan Tuhan yang bernama manusia. Bukankah kode DNA setiap manusia selalu khas dan memiliki warna sendiri? Di dalam rahim ibu kita sendiri; menjalani hidup dengan kesadaran yang sunyi-sendiri walaupun sebagai makhluk sosial kita terlibat komunikasi dengan orang lain; menghadapi ajal sendiri; memasuki alam kubur sendiri; mempertanggung jawabkan di depan Sang Maha Hakim juga sendiri.

Justru karena serba sendiri itu kita berhimpun, berjamaah, mengikatkan tali paseduluran tidak terutama untuk menyeragamkan DNA atau mengusir kesendirian. Kita memiliki sabil dan shirath yang sama, walaupun pada konteks dan ruang lingkup yang lain syari’ dan thariq-nya bisa berbeda-beda. Tidak masalah dengan perbedaan itu selama output perilakunya adalah kebijaksanaan.

Maka, kita harus titis membaca otentitas takdir kita. Terminologi tasawuf memberi saran: man ‘arafa nafsahu, mengerti diri. Untuk apa? Agar kita memiliki kedaulatan mengabdi dan menjalani peran khalifah. Allah pasti punya maksud atas kelahiran kita di dunia, lengkap dengan sejumlah dialektika-fakta yang menyertainya.

Otentik dan berdaulat tidak dalam rangka menegakkan egoisme—mbegegeg ngutha wathon. Atau menjadi penghuni dunia lain yang shummun bukmun ‘umyun fahum laa ya’qiluun. Bukan pula menjadi sekumpulan manusia yang kebenaranku harus menjadi kebenaranmu; kebenaranmu bukan kebenaranku. Berkumpul dan melingkar di Majelis Ilmu Maiyah bukan dalam rangka memuaskan ambisi politik, nafsu ekonomi, pamrih karir.

Otentik dan berdaulat adalah refleksi sikap merdeka orang Maiyah. Otentik menjadi diri sendiri dan berdaulat memilih syari’ dan thariq, misalnya muhammadiyyin, nahdliyyin, pengamal ahlussunah wal jamaah atau apapun. Dalam konteks kebun-organisme Maiyah, jamaah tak ubahnya aneka pepohoan yang tidak saling merobohkan. Output buahnya juga gamblang: semakin dekat dengan Allah; semakin rendah hati dan menyayangi sesama.

Di tengah pusaran arus de-otentikasi yang menggiring manusia menuju satu visi: kaya dan berkuasa, orang-orang Maiyah justru menggarap diri, menghidupkan tanah mati tidak untuk mencapai eksistensisme karir atau untuk mencengkeramkan kuku-kuku kekuasaan. Memang ini pilihan yang aneh bahkan mungkin gila di tengah arus massal perburuan eksisistensisme dan pamer status. Juga bukan pilihan hidup yang mudah di tengah tetesan air liur mayoritas manusia yang memilih tanah basah, lahan basah, ruang basah untuk berhitung dan menghimpun pundi-pundi kekayaan.

Untuk itu, diperlukan pemetaan primer-sekunder. “Dengan bekal ilmu, pengetahuan dan pengalaman bermaiyah, Jamaah Maiyah memastikan penghidupan ekonomi diri dan keluarganya masing-masing. Mengambil keputusan tentang apa yang dipilih untuk dikerjakan dan diperjuangkannya, demi memastikan “wala tansa nashibaka minad-dunya“ (Bertanam Kesuburan di Kebun-kebun Maiyah).

Kita tetap memprimerkan tanggung jawab di lingkungan terdekat—keluarga, anak, suami atau istri. Dipastikan dahulu tegaknya martabat keluarga. Otentik dan berdaulat pilihan ekonomi, pendidikan atau proyeksi masa depannya.

Berperilaku Seperti Binatang

Manusia yang tegak dengan martabat dan identitas utama sebagai hamba dan khalifah Allah minimal tidak akan membinatangkan diri. Tidak berperilaku layaknya binatang—saling memangsa sesama manusia, menjilat atau melet-melet baik ketika diberi tulang atau diacuhkan Pak Bos, molah-malih warna seperti bunglon: bergantung warna suasana dan proyek kepentingan.

Berlaku hewan tanpa akal dan rasio memang berat konsekuensinya. “Dan sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A’raf: 179)

Jamaah Maiyah akan selalu waspada. Firman Allah itu tidak sedang ditujukan kepada pihak di luar diri mereka, tetapi langsung menancap di lubuk kewaspadaan hati setiap jamaah. Terngiang di telinga kita nasehat Cak Fuad: “Kita sering merasa ketika Al-Quran mengecam suatu golongan atau perilaku tertentu sasarannya adalah pihak yang selain kita. Padahal tidak mentutup kemungkinan kita melakukan kesalahan yang sama, dan kecaman Al-Quran ditujukan kepada kita juga.”

Kita menegakkan martabat dan kedaulatan tidak dengan merobohkan martabat dan kedaulatan orang lain. Kita mewaspadai kentalnya kandungan potensi ullaaika kal an’ami bal hum adlollu yang mengaliri darah kita sendiri. Tegaknya martabat dan kedaulatan per individu dan keluarga Jamaah Maiyah tidak ditempuh dengan cara mbagusi orang lain, melainkan dituntun oleh kesadaran ihdinash-shiraathal mustaqiim.

Binatang saja memiliki tingkat kewaspadaan terhadap bahaya yang mengintai. Kura-kura akan langsung memasukkan kepalanya. Tikus akan lari sipat kuping begitu mendengar langkah kaki manusia. Macan lebih memilih naik ke atas pohon sambil mengamati situasi di bawah. Adapun  perilaku nir-akal: yang salah pasti mereka, yang benar pasti kita, oleh manusia tidak dianggap bahaya yang mengancam organisasi-kebenaran. Yang dianggap bahaya dan sangat menakutkan adalah ketika jubah talbis yang dikenakan itu tiba-tiba mlorot.[]