Orang Maiyah “Tak Pernah Tidur”

Semenjak bersentuhan dengan Maiyah, kehidupan saya mendadak “kacau”. 180 derajat berbalik arah. Alias mubeng seser. Sekian lama memegang prinsip untuk selalu menjadi yang terdepan, unggul, dominan, diatas, egois tapi kini berubah drastis. Jadi alas atau sandal sekalipun sekarang tak masalah. “Kekacauan” dan perubahan radikal ini melanda hampir ke seluruh aktivitas saya sehari-hari.

Contoh paling gampang adalah soal tidur. Dulu, sebelum bersinggungan dengan Maiyah jadwal tidur saya lumayan teratur. Berkisar 7 hingga 8 jam setiap hari. Jika jam sepuluh malam sudah mapan turu, maka biasanya jam 5 pagi pasti terbangun. Tidur malam selama 7 jam itu termasuk lama. Wis marem pokoknya. Dan kebiasaan tersebut sudah berlangsung sejak saya kecil dulu hingga rampung sekolah SMA.

Ketidakteraturan jadwal tidur saya berawal ketika mulai mengikuti Maiyahan. Siapa yang sudah kambon ‘virus’ maiyah, bisa dipastikan mereka adalah para manusia malam. Tukang begadang yang betah melek dan mlerek berjam-jam. Duduk lesehan, bersila, bercengkrama, berdiskusi berteman udut dan kopi. Semua datang berkumpul atas niat dan kemauan sendiri. Tak diundang tak diantar. Tidak mengenal gender lagi. Semua sama, sama-sama rindu mengharap guyuran cinta dan kasih-sayang-Nya Allah SWT.

***

Pernah sekali pada kesempatan Mocopatan, sang maestro puisi ‘rusak’ yaitu yang terhormat Bapak Mustofa W Hasyim mengatakan: ”Orang maiyah itu tidak pernah tidur. Kalaupun tidur itu cuma mata-nya yang merem, badannya terbaring. Tetapi pikiran dan hatinya selalu ON”.

Dari sekian banyak pemaparan dan wejangan dari Pak Mustofa di forum Maiyah, pesan di atas terasa paling wah, begitu menggugah. Mendalam dan cukup mengganggu pikiran. Bagaimana caranya orang yang sedang tidur tetapi pikirannya tidak tidur. Opo iso? Berhari-hari kalimat itu saya resapi. Berminggu-minggu pernyataan itu saya ramu. Coba saya pahami memakai logika dan rasa. Dan benar adanya bahwa: “Ngelmu iku kelakone kanthi laku“. Pesan mendalam itu kemudian saya praktikkan. Tiap mata ini hendak memejam, segera tirai imaji saya buka lebar-lebar. Pikiran jangan ikut tidur. Harus ON terus.

Yang harus dilakukan adalah, pertama: me-reka ulang setiap kejadian yang terjadi hari ini. Apakah ada yang salah, kurang atau belum terlaksana semua agenda yang sebelumnya sudah direncanakan. Kedua, mengambil sari-sari positif, pelajaran dan juga hikmah atas peristiwa yang berlangsung hari ini. Semua yang terjadi tidak ada yang sia-sia (Robbana ma khalaqta hadza bathila), itu semua terjadi atas kehendak Tuhan Yang Kuasa. Kehendak Allah pasti yang terbaik untuk kita. Dan yang ketiga: menyusun kembali agenda kegiatan besok pagi, lusa hingga rencana-rencana besar esok hari. Mata memang terpejam tetapi pikiran tak boleh diam. Ia terus ‘bekerja’ di alam maya. Mungkin demikian yang dimaksudkan oleh Pak Mus.

Siapa juga yang bisa memastikan bahwa orang yang tidur adalah orang yang terputus hubungannya dengan suara dan peristiwa di sekitarnya? Apakah ada orang yang tidur total? Apakah jantung pernah tidur? Apakah darah pernah berbaring? Apa sesungguhnya yang terjadi pada hati seseorang tatkala tubuhnya tidur? Apa pula yang berlangsung pada pikirannya?” — Daur 28 – Tidur Sebagai Cara Membaca

Selain rumus tidur dari Pak Mus, ada ilmu lain mengenai tidur yang lebih ekstrem yang diajarkan oleh Mbah Nun. Dan menurut saya ini ilmu ‘gila’. Dan hanya orang ‘gila’ yang mampu melakukannya. Beliau pernah sampaikan bahwa tidur itu tidak termasuk dalam agenda hidup. Tidur itu tidak pernah diniatkan atau direncanakan. Mau tidur dulu ahh. Sepertinya kalimat tersebut tidak pernah terucap dari lisan Mbah Nun. Dan percayalah! Kalau ndak percaya, silakan saja lihat agenda acara Mbah Nun setiap harinya. Hari ini di Yogya, besok sudah ada di Surabaya. Lusa terbang ke Jakarta dan esoknya tahu-tahu sudah Maiyahan di Korea. Ya, seperti itulah kegiatan Mbah Nun. Hampir setiap hari, setiap saat senantiasa melayani umat dan menemani masyarakat. Wajar saja jika tidur tidak menjadi agenda dalam hidup seorang Emha.

***

“Tidur biarlah tidur dengan sendirinya. Kalau badan sudah lelah, mata ngantuk, maka tidur tidak perlu diniatkan. Ia akan tidur sendiri. Embuh dalam posisi lungguh, nyender kursi atau tembok, ndak peduli. Turu itu natural, ndak usah dijadwalkan”, ungkap Mbah Nun dalam suatu kesempatan Maiyahan.

Saya pun yakin bahwa tidurnya Mbah Nun bukan tidur ala kita. Kalau kita Alhamdulillah masih bisa tidur nyenyak di atas kasur, berselimut, pakai obat nyamuk, ada kipas angin/AC dan ditemani alunan musik jedag-jedug. Sedangkan tidurnya Mbah Nun mungkin sebatas memejamkan mata di atas kursi kendaraan dalam perjalanan dari satu kota menuju kota berikutnya. Itu pun tak seberapa. Paling banter satu-dua jam lamanya. Tidur versi Mbah Nun adalah tidur secara raga tetapi pikiran dan hati-nya tidak tidur.

Saya membayangkan di sela waktu istirahat/tidur itulah kesempatan satu-satunya bagi Simbah untuk menulis yang sangat banyak jumlahnya dan terbit setiap hari itu. Sungguh, akal-pikiran saya kadang tak sanggup untuk menjangkaunya. Kok bisa-bisa-nya ya begitu. Bisa-bisa saya jadi gila kalau saya yang disuruh menjalaninya. Tidurnya Mbah Nun adalah cara untuk menulis dan membaca.

Apakah pikiran pernah tidur? Apakah pikiran pernah tidak bekerja? Siapa yang pernah menyempatkan diri berwawancara dengan pikirannya masing-masing, tentang apa yang dilakukannya ketika tidur?” — Daur 28 – Tidur Sebagai Cara Membaca

Malu rasanya, jika kita yang muda-muda ini masih bisa tidur nyenyak dan lama dibanding Simbah kita. Lebih malu lagi sama yang lebih tua (Indonesia) yang kini genap berusia 72, apalagi sama Bangsa Indonesia yang sudah berabad-abad.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image