Daur-II • 236

Oligarki Keagamaan

Allah menggambarkan Tadabbur tidak dilakukan oleh orang yang “terkunci hatinya”. Berarti, sementara Tafsir hanya berkutat pada pemahaman pemaknaan, Tadabbur adalah proses yang sangat berdimensi moral dan spiritual, lebih dari sekedar intelektual. Tadabbur mempersyaratkan bahwa kesudahannya adalah lebih berkecenderungan terhadap Allah. Misalnya menjadi lebih dekat, lebih beriman, meningkat akhlaqul-karimahnya, lebih baik hidupnya, lebih saleh perilakunya.

Sebab kalau tidak demikian maka “ála qulubin aqfaluha”: hatinya terkunci, jiwanya tertutup, imannya tersembunyi dalam kegelapan, akhlaknya tidak terbimbing, akal dan ilmunya tanpa kompas tauhid.

Siapapun yang mengetahui betapa berat persyaratan Tafsir, akan muncul logika bahwa jika demikian maka Al-Qur`an hanya diperuntukkan bagi Ulama, Kaum Cendekiawan dan Ilmuwan. Maka karena Al-Qur`an dianugerahkan oleh Allah kepada semua manusia, maka jalur hubungan yang lebih logis di antara semua manusia dengan Al-Qur`an bukanlah Tafsir, melainkan Tadabbur.

Sekali lagi, tidak perlu dipaparkan contoh di sini kenyataan-kenyataan bahwa karena tradisi Tafsir, maka Al-Qur`an menjadi hanya “milik”, “hak”, dan “monopoli” para “Ulama”. Monopoli para Ulama dan kaum cerdik pandai terhadap Al-Qur`an dan di dalam budaya Kaum Muslimin ibarat kekuasaan Oligarki Keagamaan. Padahal Islam bukan hanya untuk semua manusia, tetapi “rahmatan lil’alamin” seluruhnya.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. [1] (Al-Anbiya: 107).

“Sungguh saya ingin mencatat bagaimana para penafsir menghamparkan betapa Rasulullah Muhammad, Islam dan Al-Qur`an adalah rahmat bagi jagung, burung puyuh, desa Jin, udara, lahar gunung, bahkan bagi Iblis itu sendiri, yang juga makhluk Allah dan berposisi sangat khusus”, kata Seger, “rahmat bagi masing-masing maupun bagi keseluruhannya”.