Ogah Salaman dengan Mbah Nun

Melintas saja saya sudah gugup dan berkeringat, entah tidak tahu kenapa.

Kalimat yang ditulis Barikur Rahman yang diberi judul “Mengenal Kenduri Cinta” ini tepat untuk memberi gambaran bagaimana saya ketika bertemu dengan Mbah Nun. Jauh hari sebelum terbentuk simpul Maiyah di Lampung yang diberi nama Dusun Ambengan itu, saya sudah merasakannya.

Beberapa teman sudah asik mengajak foto bersama di belakang panggung ketika Mbah Nun tampil dalam Skala Selampung di lapangan depan kantor gubernur. Saya malah mlipir, tidak mau salaman dengan beliau. Berusaha menghindar. Bahkan di area TIM tempat digelarnya KC, ketika teman-teman saya merangsek di dekat panggung dan punya kebanggaan ketika bisa foto bareng Mbah Nun, saya malah di ujung belakang panggung, mendengar dan melihat keriuhan jamaah.

Ternyata, perasaan itu tetap saya rasakan ketika ikut dalam pertemuan Silatnas 2016 lalu. Di Rumah Maiyah, Kadipiro, saya sangat nyaman dan merasakan tenteram.  Tetapi, ketika Cak Syamsul Arifien yang mengenalkan saya pada Maiyah, mengajak. “Yuk, salaman dulu sama Simbah.” Secara tegas dan mlipir, saya menjawab. “Aku tak ke toilet dulu, Cak.”

Di pojok belakang dekat dapur itu, saya berlama-lama di toilet. Mengulang-ulang wudhu agar tidak jadi salaman.

Barulah setelah di Lampung saya cerita. “Saya tidak mau salaman sama Mbah Nun, ndredek.” Sembari tertawa terpingkal-pingkal.

Namun demikian, perasaan tidak mau salaman ini, membuat saya justru semakin intens mengikuti setiap ceramah-ceramahnya. Di Mocopat Syafaat, meski duduk di bagian belakang, saya sangat khusuk mendengar uraian dan bagaimana cara Mbah Nun yang luar biasa ketika menjawab berbagai pertanyaan jamaah. Bahkan terlihat sangat mudah, bukan sekadar menjawab, tetapi juga sekaligus memberi solusi, meski pertanyaan itu sangat ngecipris, ruwet, dan aneh.

Surga itu ilusi, misalnya. Mbah Nun justru membuat kalimat-kalimat retorik yang dengan mudah membungkam penanya, penggugat surga, dan tentu saja, membuat jamaah lain tertawa terpingkal-pingkal. Termasuk ketika banyak penggiat simpul Maiyah melawan waralaba transnasional yang ternyata ada jamaah yang bertanya karena sedang di Yogya dan posisinya karyawan waralaba transnasional itu. Jawaban Mbah Nun sangat menyejukkan, membesarkan hati sekaligus menggetarkan. Sebab, di sana bukan sekadar melawan atau model ustazd di kampung saya yang sering justru membuat mutung penanya. Mbah Nun bisa masuk ke dalam perasaan penanya untuk kemudian semakin sadar, bahwa menjadi orang Islam yang kenal Maiyah, sangat penuh keberuntungan.

Mbah Nun bahkan dengan sangat rasional menjelaskan doktrin surga neraka tanpa sebuah cela untuk yang menganggapnya irasional. Bagaimana beriman pada Allah, punya sikap ikhlas dan posisi khalifah serta hamba, diajarkan Mbah Nun tanpa proses menggurui. Saya justru semakin ndredek dan takzim berlebih sama Mbah Nun. Merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari jamaah Maiyah yang bisa secara rutin membuka khotbah-khotbah beliau di youtube, di caknun.com dan semua laman simpul-simpul Maiyah yang lain meski kebanyakan tidak hadir secara fisik. Sebatas streamingan.

Di Reboan, kumpulnya para penggiat Maiyah Dusun Ambengan yang kata Cak Syamsul Arifien mencontoh metode KC untuk mencari tema agar sesuai dengan khidmat melayani warga desa, saya pernah menyatakan, tolong jangan didesak-desak agar mukadimah atau reportase itu cepat selesai. Meski sering dimarah. “Tulisan yang lain cepet dan terus muncul gitu, kok, reportase gak beres-beres.”

Ini persoalan serius bagi saya. Ketika redaktur opini atau teman yang jadi pimpinan koran minta tulisan dengan sebuah tema, tak butuh waktu lama pasti saya kirim. Namun kalau nulis reportase, mukadimah atau apa pun terkait Maiyah, saya merasakan betul bagaimana gobyos dan ndredek ketika akan salaman dengan Mbah Nun. Apalagi kalau yang minta dari grup literasi. Ampooonnn….

Jujur saja, saya merasakan keanehan dan bahkan, sering pakai metode Imam Bukhori ketika akan menuliskan hadist. Minimal wudhu dulu dan memastikan sudah shalat fardhu.

Perasaan aneh ini, baru saya temukan setelah di grup literasi ada posting link KC yang ditulis Kang Rahman dengan judul “Mengenal Kenduri Cinta”.

Mbah Nun itu saya anggap mursyid sekaligus guru meski kemudian, kembali saya ketakutan dengan pertanyaan. Apakah saya dianggap murid atau bukan?

Saya masih sangat ingat, Mbah Nun itu yang merusak masa muda kami. Tepatnya mungkin bukan merusak, membuat karakter saya dan teman-teman menjadi aneh dan asing. Soalnya, kata beliau “ba’daal islmu ghoriba” dan beruntunglah orang-orang yang terasing. Entah ini tulisan beliau yang judulnya apa, lupa. Namun itu ada di salah satu kitab hadist, walah lupa juga siapa perawinya.

Sekadar berbagi cerita, dulu masa SMA, saya punya lima orang teman akrab. Kemana-mana selalu bersama, mendadak, kami menemukan buku tebal yang sudah buluk, judulnya “Markesot Bertutur”.

Setiap malam kami baca itu bersama-sama, soalnya di kampung kami lagi ada tren Jamaah Tablig. Di mana setiap habis salat, baca buku Fadhilah Amal yang isinya matematika pahala. Entah ide konyol siapa ketika itu, kami malah membaca “Markesot Bertutur”. Judul demi judul, kisah Markesot yang kami anggap taklim muta’allim justru mendoktrin kami. Bahkan teman saya sekarang yang sudah punya anak dan tinggal nun jauh di daerah pedalaman Sumsel, yang sekarang jadi petani karet itu, benar-benar kami panggil Markesot. Dia sampai dimusuhi orang di kampung kami. Di sekolah, guru-guru membenci dia setengah mati. Beberapa kali kami disidang karena baju yang kami kenakan luar biasa dekil. Baju saya yang sudah disetrika pun, digulung-gulung agar terlihat kumal dan dekil, lalu kami ambil alih kultum-kultum di masjid sekolah setiap bakda salat duhur, dimana materinya “Markesot Bertutur”.

Pas Ramadan, kebetulan kami baru dapat buku “Tuhan Pun Berpuasa”. Jadi, selama Ramadan, materi itu yang kemudian jadi tema kajian. Soalnya, kami sudah merasa jadi kelompok ghuroba di kampung maupun di sekolah. Merasa jamaah terbaik dan paling benar sendiri.

Menariknya, saya masih sangat ingat, ada tulisan Mbah Nun yang judulnya “Estetika Ramadan” di dalam buku Tuhan Pun Berpuasa itu. Saya yang kebagian menyampaikan kultum dengan tema, Muhammadiyah yang lebai dalam memberi label bidah itu. Tentu saya tambah-tambah dengan berbagai tradisi desa yang kian punah dan sangat menyerang ajaran dan pribadi guru Kemuhammadiyahan, baik secara doktrin tarjih maupun tradisi.

Secara, sekolah kami dan semua sesepuh Muhammadiyah, jelas meradang. Disebutlah, Mbah Nun itu sesat. Kami justru tertawa terpingkal-pingkal. Guru Kemuhammadiyahan kami ajak debat, kami bantai secara sadis bahwa beliau tak paham agama dan oleh sebab itu, tak layak mengajar agama. Teman saya lima orang, dibagi ada yang bawa kitab-kitab bapaknya, yang saya ingat ada satu dus bekas mie instan bawaan saya. Ada kitab terjemahan Bulughularom, Riyadlus Sholihin 1 dan 2, kitab hadis A Hasan, tafsir Al Ibrizi yang tiga jilid tebal-tebal dan hadist Imam Bukhori. Teman yang lain ada yang aneh-aneh. Dari kitab Al Umm yang sama sekali tak ada huruf latinnya, tumpukan buku itu disodorkan ke guru kami tanpa sopan dan sangat kemlinthi.

Guru itu, yang belum lama saya sowan serta minta maaf atas kelancangan kami masa muda itu. Yang akibatnya, salah satu teman saya tidak lulus SMA karena soal ujian Kemuhammadiyahan disobek-sobeknya gara-gara membela substansi tulisan “Estetika Ramadan”. Tepatnya, membela pernyataan-pernyataan saya.

“Pak, saya ini dari SMP sudah di sekolah Muhammadiyah, setiap caturwulan sampai ujian Ebtanas Kemuhammadiyahan, soalnya sama. Saya sudah hapal dan tidak mau menjawabnya.” Kurang lebih begitu kalimat dia, lalu mengejutkan kami semua, merobek-robek soal itu. Melempar dan menyebarnya di depan kelas.

Kami sibuk kemudian mencarinya agar minta maaf dan mau mengerjakan ujian. Di masjid sekolah dia malah merokok. Tertangkap pula. Diputuskanlah, tak lulus dan dia secara mengejutkan juga menjawab santai. “Cak Nun juga gak lulus sekolah.”

Mengenang itu dan menuliskan ini, saya senyum-senyum sendiri. Cukup lama kemudian saya takut pada keberanian teman kami. Belum lagi, saya terpilih jadi pimpinan ortom Muhammadiyah tingkat provinsi, aktif di Muhammadiyah, sehingga mesti membawa doktrin-doktrin kitab tarjih.

Menariknya, lewat Muhammadiyah saya justru menemukan Mbah Nun dan bagaimana ajaran Maiyah itu mestinya menjadi organisme dalam semua lingkup organisasi keagamaan. Namun tentu saja hal itu bukan perkara mudah di tengah jumudnya berpikir dan fanatisme “waton bedo” kalangan agamawan yang terkungkung gumpalan Ormas di sekitar kita.

Malam ini, barulah saya tahu kenapa dredek dan ogah salaman dengan Mbah Nun tapi terus mengikuti dan takzim dengan beliau. Meski tak bisa nyanyi dan jarang wirid, diam-diam saya selalu greneng-greneng shalawat yang digubah KiaiKanjeng.

Tulisan ini saya khususkan untuk saudara Nurul Amin, yang ketika kesandung dan kuku jempolnya sobek mengeluarkan banyak darah, ikut cara Markesot. Tertawa terpingkal-pingkal sembari baca hamdalah. Membuat saya menyilangkan jari di kening dan semua teman kami tertawa. Lalu memegang keningnya. “Sudah gila bocah ini.”

Kembali pada rasa tidak nyaman dan mungkin tepatnya, tak berani salaman dengan Mbah Nun, apalagi sampai ikut antre dan berdesak-desakan, membuat saya berpikir, sebenarnya bukan takut, melainkan iri. Ya, saya sangat merasa iri dengki dengan Mbah Nun. Bagaimana mungkin ada orang model itu? Yang melompat dari satu tempat ke tempat lain, dari waktu ke waktu, jutaan jamaah dilayani dan diberi kasih sayang dengan ilmu-ilmu kesejatian oleh beliau.

Apakah tidak letih? Bagaimana caranya menjaga ketekunan dan pelayanan model di luar nalar itu? Sementara saya pribadi baru menemani Jamus Kalimasada sebagai tukang potret sekali tampil saja, tidak ngapa-ngapain lagi seharian. Sungguh kemampuan yang tidak terbayangkan, habis mengisi di KC, lalu Sinau Bareng, lanjut Maiyahan lagi di beda kota, ah benar-benar di luar kelaziman dan kemampuan orang biasa.

Semakin saya masuk ke semesta pikiran-pikiran Mbah Nun, mendengar banyak ceramahnya, membaca tulisan-tulisannya, membuat saya menyadari satu hal. Mbah Nun menjadikan hidupnya sebagai laku puasa. Penderitaan yang dialami semua orang, diajarkan agar dihadapi dengan gembira, bahkan Mbah Nun memberi tips agar tetap sombong dengan kesulitan dan aneka permasalahan hidup. Sehingga yang muncul kemudian adalah rasa syukur dan kenikmatan menjadi hamba Allah. Bukan hamba dunia yang memang membawa banyak masalah. Dari Mbah Nun saya belajar bagaimana cara bersyukur dan bagaimana kesabaran itu mesti dijadikan amal perbuatan. Lha ini baru Mbah Nun, bagaimana kalau kita hidup dan mengalami perjumpaan dengan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Jangan-jangan saya mau mengulang kisah Ukasyah bin Mukhsin yang dianggap kurang ajar itu.

Lebaran nanti, Markesot, teman kecil kami sudah memberi kabar akan pulang. Baru saya akan kembali bernostalgia, benar-benar menggali kenapa masa muda kami berlaku sedikit gila. Saya sudah menyiapkan kaos Orang Maiyah dan peci putih merah untuk dia sembari menepuk dada. “Ini saya beli di Mocopat Syafaat.” Sekaligus mengabarkan, di Lampung sudah ada simpul jamaah Maiyah. Siapa tahu dia berkenan pulang. Soalnya, dulu ilmu hadist dan cara ceramahnya paling hebat di kampung kami. Dia selalu jadi bintang kalau debat di Bahtsul Masaail atau ketika di beranda masjid kami sedang eyel-eyelan hukum khilafiyah.  Termasuk sering mempermalukan ustad atau kiai dalam soal-soal agama. Dan siapa tahu saya dan dia diberi kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan Mbah Nun sekaligus memberanikan diri untuk salaman.

Bandar Lampung, 22 Juni 2017 Pukul 02.45 WIB.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image