Nomorsatukan Kesiapan Kepada yang Betul-betul Terdesak

Catatan Sinau Bareng “Kebangkitan Zakat”, Yogyakarta 5 Mei 2017 (bagian 1)

Waktu yang tersedia tidak selonggar Sinau Bareng seperti pada biasanya, karena pukul 01.00 dinihari KiaiKanjeng harus segera bergerak ke Malang untuk dua acara selanjutnya. Meskipun demikian, muatan yang disampaikan Mbah Nun dan KiaiKanjeng cukup padat dan terbingkai kegembiraan, rasa syukur, dan kecerdasan.

Acara diselenggarakan oleh Baznas kota Yogyakarta dan bertempat di komplek Balaikota Yogyakarta dengan tema “Kebangkitan Zakat”. Dengan acara ini Baznas hendak lebih dekat dengan masyarakat sehingga dapat diketahui kegiatan-kegiatannya, dan masyarakat semakin tergugah kesadarannya akan kewajiban membayar zakat, sekaligus pada kesempatan itu juga Baznas meminta pandangan-pandangan Mbah Nun mengenai pengelolaan dan manajemen penyaluran zakat.

Dengan menggunakan analogi tiga jenis bidikan camera yaitu close up, medium shoot, dan long shoot, Mbah Nun coba secara bertahap membahas zakat dari skala paling dekat atau mikro sampai ke yang makro. Jika dirumuskan dalam bahasa yang berbeda, Mbah Nun mengulas zakat dari skala praktis sampai ke skala filosofis-konseptual. Ini semua dimaksudkan agar kita tetap mampu memahami zakat dalam konteks keutuhan dan gambar besarnya.

Setidaknya ada tiga hal praktis yang disarankan Mbah Nun kepada Baznas selaku badan amil zakat yang melakukan penghimpunan dan penyaluran dana zakat dari masyarakat. Pertama, zakat dengan keberadaan amil zakatnya perlu diukur berdasarkan kemampuan kontrol yang ada. Apalagi jika cakupan wilayah makin luas dan besaran dana yang terhimpun makin besar. Dengan kata lain dibutuhkan transparansi. Itu sebabnya, Mbah Nun menyarankan misalnya perlunya dibuat website yang di situ lalu lintas dana masuk dan penyalurannya dapat disimak oleh siapapun. Dan bila ini bisa diterapkan, bukan tidak kepercayaan orang untuk memberikan menyalurkan zakat ke Baznas semakin besar.

Kedua, perlu ada prosentase sekitar 10-30 persen dari dana yang terhimpun yang di-standby-kan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan darurat mendesak dari orang yang sangat membutuhkan. Artinya, tidak semua dana zakat terserap kepada program-program yang sudah dicanangkan. Kalau hanya berdasarkan program, belum tentu penyaluran dana tersebut mampu menyentuh kepada kebutuhan riil dan sehari-hari orang-orang atau masyarakat. Pasti ada orang yang datang karena memang butuh, dan Baznas hendaknya siap.

Tentu tantangannya adalah dibutuhkan sistem verifikasi yang dapat memastikan bahwa orang yang datang menyambatkan kebutuhan itu memang benar-benar butuh dan terdesak. Tidak dinafikan ada kemungkinan orang bohong, tetapi pasti ada yang benar-benar ter-pepet kebutuhan. Di sinilah dibutuhkan kedewasaan dan kematangan untuk mampu membedakan di antara keduanya. Dalam bahasa Mbah Nun, tidak semua pengemis itu profesional. Pasti ada yang benar-benar miskin.

Yang menjadi pemikiran dan concern Mbah Nun adalah bagaimana dana zakat itu tersalurkan kepada setepat mungkin orang yang membutuhkan. Intinya dalam hal penyaluran zakat fokusnya adalah kebutuhan orang, bukan pada program lembaga amil zakat. Untuk itu Mbah Nun menyarankan dana standby katakanlah 30 persen.

Sedangkan yang 70 persen tetap untuk program-program yang telah dirancang seperti pemberian beasiswa, pelatihan kewirausahaan, membangun kampung binaan, mendirikan apotek, dan lain-lain yang bersifat struktural-sistemik. Dan sesungguhnya, program-program tadi, bagi Mbah Nun, adalah program pembangunan biasa. Baznas perlu menjalankan “dokter yang pro aktif mencari orang yang perlu ditolong”. Dengan ungkapan lain, selama ini barangkali belum cukup terperhatikan kondisi dan jenis-jenis kebutuhan masyarakat bahkan per orang di luar yang tercakup oleh program-program lembaga amil zakat.

Ketiga, dengan prinsip memberikan dana kepada setepat mungkin orang, Mbah Nun hendak mengatakan bahwa memberi makan kepada orang yang lapar itu jauh lebih barokah daripada memberi makan kepada orang yang tidak lapar. Maka, merupakan urgensi untuk terus-menerus melakukan penelitian mengenai siapa-siapa yang berkondisi “butuh makan”.

Ini sekaligus dimaksudkan menyeimbangkan agar lembaga amil zakat semacam Baznas tidak “terjebak” pada jargon besar semata seperti pengentasan kemiskinan masyarakat atau pembangunan ekonomi umat, walaupun kesadaran itu tetap penting. Tetapi jangan sampai kesadaran itu maupun program yang dijalankan menjadikan Baznas tidak menyentuh kepada kebutuhan riil masyarakat yang ujud dan kondisinya sangat bermacam-macam.

Tambahan pula, apabila konsentrasinya adalah pengentasan kemiskinan, maka menurut Mbah Nun bukankah itu wilayah tugas negara, dan kalau memang itu yang dituju, mungkin sebaiknya kolaborasi saja dengan pemerintah. Tetapi kembali ke pokok soalnya, dalam hal ini lembaga amil zakat perlu, dalam bahasa Mbah Nun, menomorsatukan kesiapan kepada orang yang betul-betul miskin, terdesak, dan sangat membutuhkan. Karena itu diperlukan tim penelitian.

Satu hal yang mungkin perlu disebutkan di sini, walaupun tak diungkapkan oleh Mbah Nun secara langsung, saran-saran Mbah Nun di atas sebagian bermula dari pengalaman langsung dari masyarakat di Mbah Nun sering ditabrak oleh bermacam-macam sambatan orang. Ada yang terlilit utang, ada yang butuh buat makan sehari-hari, ada yang usahanya lagi jatuh, ada yang perlu kontan saat itu juga buat bayar biaya melahirkan istri, dan lain-lain yang sifatnya mendesak. Dan Mbah Nun membayangkan semestinya lembaga amil zakat tak jauh-jauh dari mereka sehingga dapat membantu mengulurkan solusi saat itu, dan ke depannya dapat diproyeksikan dengan sejumlah langkah mereka tidak terus-menerus dalam keadaan seperti itu.

Baik Prof. Muhammad selaku Ketua Baznas kota Yogyakarta, Walikota Yogyakarta terpilih Pak Hariadi Suyuti, Duta Baznas kota Yogyakarta Ibu Tri Kirana Muslidatun, dan narasumber lain menyimak dengan baik pandangan-pandangan Mbah Nun dari jaraknya. Pun jamaah juga mendengarkan dengan penuh perhatian pembahasan Mbah Nun pada tema spesifik mengenai zakat ini. Beberapa nomor lagu KiaiKanjeng bergulir di sela-sela pemaparan membuat suasana beralaskan hati yang terbuka. Pada beberapa nomor itu, tatkala KiaiKanjeng mengeksposisikan kepiawiannya dalam memainkan peranti musikalnya, terlihat Prof. Muhammad setengah membalikkan bada untuk menikmati langsung bagaimana KiaiKanjeng menghadirkan lagu. (Helmi Mustofa)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image