NKRI Patigeni

(1). Manunggaling Kawula lan Gusti.

Bermacam cara dan bentuk manusia meng-“inovasi” konsep puasa. Ada yang dengan tujuan “putih”: mengintensifikasi hubungan privatnya dengan Allah, mencari presisi cinta dan tauhidnya.

Ada juga tujuan “hitam”: menguasai sesama manusia. Ada yang dengan membangun kekuatan, kadigdayan dan “dugdeng”. Ada yang dengan mendayagunakan kekuasaan politik dan birokrasi. Atau ada juga yang memperalat pengetahuan keAgamaan, “kuasa akademik” atas AlQur`an dan wacana-wacana langit lainnya, demi meneguhkan “kepemilikan” atas ummat, santri, rakyat atau anak buah.

Yang “putih” memerdekakan manusia, dengan syarat “meniadakan diri” dalam proses tauhid kepada Allah. Karena di dalam hakiki dan rasio Tauhid: tiada yang sejati ada kecuali Allah. Seseorang rela berposisi tidak ada, menempuh “de-eksisten”, bersembunyi dari jasa dan citra, puasa dari pahala dan pamrih.

Yang “hitam” mengikat manusia, menyandera ummat, memperdaya rakyat. Konsep “Manunggaling Kawula lan Gusti” direkrut untuk melegitimasi bahwa sebagai Penguasa ia adalah pengejawantahan dari kuasa Tuhan.

Sementara jika yang “putih” diamanati pegang kendali manajemen sosial, “Manunggaling Kawula lan Gusti” dimaknai “Kalau engkau memimpin, maka dalam jiwamu terdapat penyatuan dan kesatuan antara Tuhan dengan rakyat. Kalau engkau menyakiti rakyat, Tuhan juga tersakiti sehingga Ia murka. Kalau engkau khianati Tuhan, maka engkau terlepas dari tali cinta dan kepercayaan rakyat kepadamu”.

(2). Patigeni.

Salah satu bentuk pendayagunaan konsep puasa misalnya adalah “Patigeni”. Tolong bersabar jangan berprasangka atau marah dulu.

Patigeni itu Anda memasuki kegelapan total. Bisa ruangan tertutup rapat. Atau kalau hanya satu malam, bisa di luar, utamanya di perempatan jalan di malam buta. Anda tidak makan minum, tidak melakukan kegiatan apapun, termasuk melaksanakan hajat kecil atau besar. Hanya duduk bersila. Berpejam mata. Mematikan segala unsur api dan cahaya. Silakan semalaman, sehari semalam, tiga hari tiga malam.

Atau 40 hari 40 malam, seperti yang dilakukan Ken Arok sebelum merebut Keris prematur Empu Gandring, kemudian memulai sejarah ekstrem sampai tujuh turunan. Atau Empu Supo Anom, sebelum melakukan penyamaran di tlatah Blambangan, untuk menempuh strategi merebut kembali Keris Kiai Sangkelat dari bilik pribadi Raja Menakjinggo untuk dikembalikan ke Majapahit.

Patigeni adalah semacam pengembangan atau kreativisasi puasa di luar urusan Syariat Mahdloh dalam Rukun Islam. Keperluan atau tujuannya juga tidak sebagaimana perintah puasa Ramadlan yang hilirnya ditentukan Allah “la’allakum tattaqun” : yakni peningkatan kewaspadaan hidup terhadap apapun saja yang menghalangi perjalanan kita ke rumah inti Allah, yang kita semua ditawari untuk menjadi penghuninya.

Patigeni adalah satu bentuk lelaku, tirakat, mesu-diri atau pendisiplinan diri secara ekstrem, yang dalam sejarahnya dilakukan oleh mereka yang tujuannya “putih” maupun “hitam”. Bagi yang “putih” , Patigeni adalah mematikan atau memadamkan api di dalam diri, menumpas dan mengubur nafsu. Bagi yang “hitam”, karena Patigeni adalah semacam “hard-reset” jiwa sukma nyawa, maka terbuka peluang untuk bikin partisi baru dan setup OS atau IOS baru pula dengan segala kemungkinan aplikasinya, termasuk bikin GWA dengan teman-teman Jin.

(3). Ilmu Kebal.

Patigeni merupakan bagian dari prosedur yang harus ditempuh ketika seseorang ingin memperoleh jenis kesaktian-diri yang ekstrem, misalnya Ilmu Kebal, Menghilang, Terbang, atau Tenung Santet pada level Batikmadrim-Anglingdarma. Tidak sekadar memasukkan keranjang ke dalam perut, memasukkan ratusan jarum ke dalam usus, merasukkan kekacauan psikologis dan emosional sehingga seisi rumah bertengkar, atau yang kemarin memakan korban seusai putaran pertama Pilkada Jakarta: sungsum dirusak, lever didesak naik, ruas-ruas tenggorokan terutama yang ke-11 di-disfungsi-kan.

Sewaktu-waktu seseorang berubah menjadi harimau, api, air bah, pasukan lebah, kabut, naga, atau apapun yang diperlukan dalam suatu pertarungan.

Marja’ atau rujukan (imaginatif) pelakunya bisa Guru Putih Jibril yang hadir kepada Rasulullah saw dengan berbagai wujud, besar atau kecil, kasar atau lembut, konvensional atau tak lazim, serta berbagai formula penyamaran yang lain. Sedangkan Guru Hitam (halusinatif) para penempuh yang sebaliknya adalah Fenomena “Talbis”: yakni  Iblis yang berkostum Malaikat, menghampiri Bapak Adam dan Ibu Hawa, anjurannya ditaati oleh beliau berdua, karena menyangka yang bertamu adalah Baginda Jibril atau stafnya entah Malaikat siapa.

Tapi ini bukan tulisan tentang Patigeni dan Santet. Patigeni ini nongol mungkin sekedar karena kegagalan saya yang bertubui-tubi untuk memahami segala komplikasi kehidupan yang berlangsung di Indonesia. Begitu dahsyatnya fenomenologi kehidupan makhluk yang bernama NKRI dan manusia Indonesia, sehingga semua ilmu pemetaan tidak pernah lengkap mempetakannya. Bermacam ilmu masa silam, masa kini maupun masa depan, tidak sanggup merumuskannya. Segala hamparan dan tumpukan pengetahuan, gagal memahaminya. Para pendekar “ngelmu” tradisional maupun para pakar ilmu-ilmu modern hanya mampu menyentuh bagian-bagiannya, tanpa pernah bisa merangkum keseluruhan dan kemenyeluruhannya.

(4). Tidak Mempan.

Manusia atau bangsa Indonesia ini seakan-akan sedang menjalankan lelaku untuk memperoleh Ilmu Kebal, dan dalam banyak hal sudah menguasainya. NKRI itu seperti penempuh Patigeni, di mana matahari tidak meneranginya, tetapi kegelapan juga tak mampu melenyapkannya.

NKRI adalah seorang Pertapa Patigeni, yang sangat tangguh menjalani pola kehidupan tidak sebagaimana lazimnya kehidupan manusia. Ketersiksaan, penderitaan, kesengsaraan, kebingungan, kehampaan, kesepian dan ketidakmenentuan, tidak menghancurkan mereka.

Separah apapun ketidak-tertataan Negara, sesemrawut apapun dismanajemen pembangunan, setimpang apapun perikehidupan ekonomi mereka serta secacat apapun kepemimpinan atas mereka: tidak mampu mengurangi senyum dan tawa mereka. Korupsi setak-tahu-diri apapun dan struktur tipudaya dengan kaliber sebesar apapun, tidak membuat mereka lumpuh kehidupannya. Seberapapun tak masuk akal perlakuan Penguasa atas mereka, tidak membuat jiwa mereka terpuruk sebagaimana semestinya makhluk hidup.

Sesakit apapun yang mereka derita, tidak membuat ekspresi wajah dan perilaku mereka tampil sebagai orang sakit. Komplikasi penyakit-penyakit seruwet apapun, tidak membuat mereka merasa sakit, kemudian berpikir melakukan diagnosis, dan mencari obatnya. Kalau ada yang menyatakan bahwa mereka sakit, mereka malah marah. Kalau dikasih obat, mereka tersinggung. Kalau disuntik, mereka merasa disakiti. Disuntik dengan cairan ilmu, tidak mempan. Disuntik dengan kasih sayang dan kebijaksanaan, tidak mempan. Kalau dilakukan operasi serius, mereka menuduh para Dokter melakukan anarki, destruksi dan intoleransi.

NKRI tidak hanya merasa, tapi bahkan meyakini, bahwa mereka sehat walafiat. Mereka sangat mantap dengan hidup yang dijalaninya. Pikirannya, hatinya, budayanya, politiknya, demokrasinya, pandangan terhadap Agamanya, mentalitasnya, semua baik-baik saja. Kalaupun mati, ternyata rangkap nyawanya. NKRI adalah Pertapa Patigeni yang telah berhasil memperoleh dan menguasai Ilmu Kebal yang sangat tangguh dibanding yang pernah dicapai oleh Peradaban Manusia di zaman apapun sepanjang sejarah sejak Adam diturunkan ke Bumi. ***

Yogya 28 Mei 2017.

(1). Manunggaling Kawula lan Gusti. Bermacam cara dan bentuk manusia meng-“inovasi” konsep puasa. Ada yang dengan tujuan “putih”: mengintensifikasi…