Daur-II • 039

Nikmat dalam Kekufuran

“Saya menuding diri saya sendiri. Bukan masyarakat. Kalau ingat lagi bab Kilabunnar, saya sebenarnya juga terus mencari saya ini tergolong macan, kayu bakar ataukah anjingnya neraka”

“Kita semua juga mencari itu, Cak”, respon Brakodin, “sepertinya baik juga kalau semua manusia melakukan hal yang sama”

“Yang pasti saya bukan api neraka”, kata Mbah Sot.

“Maksudnya bagaimana Cak?”

“Saya bagian yang dibakar, bukan yang membakar”

Kepada anak-anak itu Brakodin menjelaskan, bahwa apapun, beragam pandangan, saling-silang tematik dan semua yang dikemukakan oleh Mbah Sot itu bukan ajaran Agama, ataupun bagian dari syariat Islam. “Jangan tanya benar salahnya atau ada tidak adanya. Mbah Sot itu hanya berupaya untuk memaksimalkan kengeriannya sendiri kepada neraka. Itu bagian yang tajam dari Iqra` panjangnya.”

“Untuk apa memaksimalkan kengerian kepada neraka, Pakde?”, Jitul bertanya.

Sundusin yang menjawab: “Karena Allah Maha Sabar, menunda balasan-balasanNya kepada orang-orang dhalim. Dan karena para pembuat kejahatan di Negeri ini seperti tak mendapat resiko apa-apa dari Tuhan, maka banyak orang menjadi merasa nikmat dalam kekufuran”

Siapa yang mau menjadi “…orang yang menjadi lapang dadanya karena kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar”. [1] (An-Nahl: 106). “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat”. [2] (An-Nahl: 107). Mbah Sot ngeri.