Sinau Bareng Membangun Manusia Indonesia di Eropa

Ngopi Kesehatan

Bagian 5 dari 8

24 Desember 2016. Satu jam sebelum sampai kota Amsterdaam, kita sempat berhenti di SPBU. Istirahat sebentar sambil minum kopi atau cokelat hangat. Pas banget dengan cuaca yang cukup dingin berangin. Setelah masing-masing mendapat pesanan minumnya, Cak Nun bercerita tentang bagaimana beliau dulu telah divonis meninggal dalam waktu 3,5 bulan. Tentang hasil cek darah beliau yang membuat dokter kebingungan karena menurut ilmu medis, Cak Nun sudah tergeletak koma dan bukan malah berdiri di hadapan dokter tersebut. Mbak Via, yang menemani Cak Nun kala itu diminta melakukan tes darah ulang yang hasilnya berujung sama. Akhirnya sampai pada ketika Cak Nun diminta untuk scan radiasi nuklir di tubuhnya. Ditemukan bahwa tyroid sudah tidak berfungsi dan sistem tubuh Cak Nun memakan lemak-lemak dalam tubuhnya yang menyebabkan berat badan beliau turun drastis.

Melintasi kota tua Ghent sebelum mampir ngopi
Melintasi kota tua Ghent sebelum mampir ngopi. Foto: Gandhie.

Suatu malam, dalam kepasrahan beliau kepada yang Maha Mengatur, beliau duduk di bawah shower kamar mandi dan membiarkan air yang keluar dari shower tersebut membasahi seluruh tubuh beliau dan sembari merapal doa. Beberapa hari setelah itu, tubuh Cak Nun membaik. Berat badannya kembali seperti semula dan bahkan terlihat lebih gemuk dari sebelum beliau sakit. Secara medis, sangat sulit untuk memformulasikan bagaimana shower bisa menyembuhkan penyakit beliau yang notabene parah itu.

Dunia medis barat sangat menitikberatkan obat sebagai pusat kesembuhan. Sedang dunia timur, selain dengan racikan alami dan teknik pengobatan, ada juga sering dikenal suwuk atau yang lain semisalnya. Suwuk, ruqyah, dan yang mirip-mirip dengan itu, tidak menempatkan obat sebagai faktor kesembuhan utama. Obat adalah wasilah logis. Tapi kesembuhan adalah bukan semata benda logis. Kesembuhan adalah urusan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Di mana yang berhak memberikan atau menahannya hanyalah semata Gusti Allah saja.

Lantas apakah bukan rahmat dan kasih sayang Tuhan jika tidak bermuara pada kesembuhan. Oh itu, hanya cara pandang saja. Bukankah dalam kematian pun ada momentum kasih sayang Allah. Allah juga berfirman, “Ya ayyuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatam mardhiyyah” (Al Fajr 27-28). Terkadang sakit membuat kita gelisah, dan setelah sembuh kita menjadi tenang, tetapi kadang juga sebalikya. Ketika kita sehat, betapa banyak kita diributkan dan dipusingkan dengan urusan dunia yang serasa tidak ada berujung. Oleh karena itu, Gusti Allah yang Maha Menimbang dan Maha Adil tahu benar di mana letak kebaikan manusia. Maka dalam ayat tersebut, disampaikanlah kematian sebagai bentuk kembalinya jiwa-jiwa manusia dalam ketenangan, dalam cinta kasih, dalam ridho Tuhan.

Karena kesembuhan adalah perkara kasih sayang Tuhan semata, maka saya juga mulai berpikir bagaimana mengakrabi lever saya yang terkadang mengalami inflamasi sehingga dokter menyarankan untuk mengambil empedu saya. Entah bagaimana kelak akhirnya, ditempuh dengan cara medis yang seperti apa, tapi paling tidak ada bekal dari ngaso dan ngopi bersama Cak Nun kali ini. Bahwa bekal dan obat senyatanya adalah keridhoan terhadap kasih sayang dan skenario Allah, apapun bentuknya.

24 Desember 2016. Satu jam sebelum sampai kota Amsterdaam, kita sempat berhenti di SPBU. Istirahat sebentar sambil minum kopi atau cokelat hangat.