Ngaji Bareng untuk NKRI (Negeri Klitih Republik Indonesia)

Catatan Ngaji Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, Balai Desa Bangunharjo, 23 November 2017

Ngaji Bareng, Jurus Peremuk Mitos

Kenapa harus ngaji bareng atau Sinau Bareng? Kenapa Mbah Nun dan Kiai Kanjeng tidak mengambil posisi sebagai kiai pada mainstreamnya saja, pakai kata mujahadah, pengajian, istighotsah atau apalah yang sudah populer di masyarakat. Toh masyarakat kita ini cenderung menunggu dawuh, menanti fatwa, juknis atau sekalian saja petunjuk praktis hidup, kalau perlu detak jantung juga menunggu dawuh para aristokrat agamawan. Kita ini kan sedang pada kesadaran budaya peradaban resèp memang.

Pola macam ini (relasi satu arah dari otoritas ilmu kepada penerima ilmu) sebenarnya diimpor dari masa ketika Islam sebagai rezim mulai mengadopsi sistem pola tolok ukur dan cita rasa kemegahan kependetaan agama Romawi, petapa Buddhism, asketik Yunani dan sistem nasab keilmuan ala institusi Yeshiva-nya Yahudi. Kombinasi inilah yang melahirkan gerakan-gerakan spiritual sufistik pada masanya. Ratusan tahun pasca Khulafaur Rasyidin. Tapi masyarakat kita ratusan tahun menikmati ini. Tapi bahasan kita tidak sedang di situ.

Iya, kenapa sih harus Ngaji Bareng? Mbah Nun punya segala instrumen baik dari dalam maupun di luar dirinya untuk segera dimitoskan, dijunjung dan dikultuskan. Jadi kiai banyak untungnya, jamaah patuh tanpa mikir panjang, sang tokoh dianggap wakil tuhan, bisa datang dan pergi kapan saja di acara sesuka hati, batal datang ke acara yang sudah dipersiapkan susah payah oleh panitia juga santai. Namanya juga wali pasti urusannya jauh lebih rumit daripada sekadar ngurusin urusan kehidupan ummat jelata wal sudra; miskin di dunia, nanti mati belum tentu masuk surga. Kalau ada reinkarnasi paling banter terlahir kembali jadi amuba.

Ada kisah dari para bijak bestari yang saya suka tapi sekaligus saya agak sebal mendengarnya, mungkin karena kurang komplit versi kisah yang saya dapat. Kalau pembaca yang budiman punya detail lengkapnya, harap sudilah berbagi. Kisahnya tentang seorang ulama yang muridnya ulama lain yang lebih senior. Satu kali, datang seseorang mengadukan permasalahan kepada ulama junior. Berkata ulama junior itu, “Aku masih muda, aku masih punya guru yang masih hidup, bertanyalah padanya”. Maka orang ini lantas mendatangi ulama senior, menjawablah ulama senior, “Aku ini sudah tua, sudah ndak update perkembangan zaman. Muridku yang masih muda di sana itu lebih maju pikirannya. Bertanyalah padanya”. Kisah ini bertabur hikmah, menunjukkan ketawadluan seorang murid dan menunjukkan kebesaran hati seorang sepuh.

Hanya satu pertanyaan sih, terus itu orang yang bermasalah apa kabar? Penyelesaian persoalannya gimana? Masa hanya karena dia orang tidak penting, remah peradaban yang tak tercatat zaman lantas persoalannya bisa diabaikan? Kayaknya memang bukan orang Bugis sih si penanya itu, karena kalau kami to Ugi dibegitukan. Ya sudah tidak peduli ulama besar dianggap wali kutub utara apa kutub selatanlah. Maju saja dulu, masalah sirri’ itu. Harga diri. Apa iya kita ummat jelata ini selamanya hanyalah alat legitimasi kebesaran nama para tokoh?

Tapi kalau mau jadi tokoh juga kita ini siapa sih? Tak layak juga asal gugat-gugat, gebrak hantam sekadar memuaskan nafsu gelora usia belia. Ini sekadar menjaga rasio dari kepungan mitos zaman now, warisan zaman old. Tokoh-tokoh kita yang terlanjur berselamur mitos adalah tokoh yang putih suci hatinya, namun berhadapan dengan pola pikir mitos memang butuh memilah lipatan persoalan, ketajaman rasio, kepekaan batin yang tidak ada panduannya di buku-buku, naskah dan kitab-kitab.

Besar kemungkinan pola pengkisahan dan (kemudian) pencatatan hadits, pewarisan kisah sunnah-sunnah kanjeng Nabi bukan sekadar soal ajaran. Hadits kemungkinan adalah usaha pembentengan diri Sang Rasul dari mitologisasi, pengkultusan sosok. Dengan dikisahkan detail hidup manusia Muhammad, kita akan selalu mengenang beliau sebagai nabi yang manusiawi.

Hadits mungkin adalah usaha pertama dalam sejarah peradaban manusia, di mana seorang manusia membentengi dirinya dari mitologisasi, bukannya menunggangi mitos demi kemapanan posisi. Ratusan tahun berlalu, tidak tampak lagi ada usaha manusia untuk membongkar mitos. Apalagi yang berkaitan dengan kelas sosialnya. Sementara mitos makin canggih. Dari awalnya mitos Raja Anak Dewa, sekarang jadi mitos presiden sederhana merakyat. Belum tentu salah, tapi masih kesadaran mitos mekanisme politik kita.

Ngaji bareng, yang saya pahami adalah cara yang sangat efektif menangkal mitos dan mitologisasi, karena akal ditegakkan segagah mungkin. Dan memang Ngaji Bareng yang dipakai oleh Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Ya ngaji, nggolek aji dan bareng, bukan sekadar duduk sama-sama mendengarkan tausiyah, khutbah, orasi atau apa-apa kalimat-kalimat yang tentu jauh dari keburukan, hanya saja entah apa hubungannya dengan persoalan yang sedang faktual dalam hidup masyarakat.

Rumekso ing Wengi, Pambuko Ngaji Bareng

Memang Ngaji Bareng yang terjadi malam itu di Pendopo Bangunharjo, Sewon, Bantul pada Kamis, 23 November 2017 M.

Bakda Isya, masyarakat berduyun-duyun, mengalir, memenuhi lokasi acara Ngaji Bareng. Sekali lagi, memang Ngaji Bareng. Masyarakat diajak untuk ikut urun, mengutarakan persoalan dan kalau bisa bersama-sama menemukan akar persoalan dan mencari ajuan solusi juga bareng-bareng.

Mbah Nun ketika telah berada di panggung mengawali dengan membaca beberapa ayat awal dari surah Al-Fath. Allah berjanji, akan memberikan kemenangan yang sejati, kemenangan yang sejati versi Allah swt tentu bisa sangat berbeda tolok ukurnya dengan menang-kalah versi manusia. Maka kemudian Mbah Nun menyampaikan bahwa malam itu adalah kegiatan bersih-bersih hati dan pikiran, bukan sekedar transfer ilmu semata.

Setelah menyapa jamaah, menegakkan pancang patok logika awal, KiaiKanjeng pun melantunkan nomer Pambuko. Seorang sesepuh desa yang ternyata penembang (sudah) tidak muda tapi tetap berbakat, atas permintaan Mbah Nun pun menyumbangkan suara merdunya melantunkan Kidung Rumekso Ing Wengi, tembang ini pernah sangat hits pada zamannya, kira-kira yah beberapa abad yang lalu.

Lagu dan tembang Jawa serta berbagai varian musik tradisional Nusantara memang selalu adalah pembuka sarana sosial. Dalam seni tradisional Nusantara, interaksi dibuka selebar dan seluas mungkin. Kadang penonton yang menyaksikan tembang dilantunkan (sebenarnya tidak ada klasifikasi penampil dan penonton dalam seni tradisi Nusantara) bisa melakukan interaksi bunyi dengan melakukan tepukan tangan ritmis yang diusahakan seirama dengan arus denting gamelan yang sedang mengalun dan tepukan tangan dari sesama penonton.

Ini juga secara psikologis membawa nuansa interaksi yang cair, sehingga ketika rembug musyawarah dibutuhkan komunikasi lebih mudah terjalin. Itulah pula yang terjadi saat Kidung Rumekso Ing Wengi melantun pada acara Ngaji Bareng malam itu.

Aktivasi Kesaktian Akal dan Batin

Masyarakat Bangunharjo ini rupanya sedang resah gelisah dengan fenomena klitih di wilayah mereka. Kata “klitih” dalam Ngaji Bareng malam itu kemudian ditegaskan maknanya. Seorang sesepuh desa pun mengadukan bahwa kata “klitih” jauh berbeda maknanya dengan yang dipahaminya dulu di mana klitih artinya adalah kegiatan jalan-jalan tanpa tujuan. Sekarang klitih mengalami pemaknaan ulang sebagai tindakan kenakalan anak-anak muda, peristiwa pembacokan random tanpa alasan yang jelas. Beda dengan begal yang jelas motivasi ekonominya.

Maka memang dalam acara Ngaji Bareng, semua pihak akan tertuntut tanpa dituntut untuk–meminjam istilah terkenalnya Poirot, tokoh detektif rekaan Agatha Christie–“mengaktifkan sel-sel kelabu”. Semua terlibat, semua kegelisahan tumpah, dari masyarakat yang mengamati perkembangan, korban klitih hingga yang terindikasi mantan pelaku klitih sendiri ikut berperan aktif. Pun, Mbah Nun sebagai sesepuh di mata masyarakat tetap sebagaimana biasanya menemukan cara-cara kreatif untuk menyambung hati, pikiran dan perasaan para jamaah. Jamaah, memang bukan massa. Islam bukan sekadar agama petapa asketik.

Mbah Nun mengajak kemudian masyarakat desa Bangunharjo untuk menyadari apa yang hilang pada masyarakat. Di mana jiwa desa sebagai “deso mowo coro, negoro mowo toto“? Kemudian bagaimana kondisi keluarga, masihkah peran keluarga sebagai pemberi bekal ajian prinsip hidup pada para pemuda berjalan sebagaimana semestinya? Dan dengan kreatifnya Mbah Nun pula menggunakan terminologi patok dan tali. Bahwa kambing yang digembalakan perlu ada patok pancangnya, dan kemudian dipresisikan ukuran panjang-pendek talinya, itulah ukuran kebebasan dan tanggung jawab. Penggunaan term yang lekat dengan masyarakat pedesaan ini rasanya sangat efektif karena dengan mudah diterima oleh para jamaah.

Artinya memang, baik yang di panggung maupun jamaah tetap diajak berpikir, mengaktivasi dan mengasah kesakten rasio dan batin. Ngaji bareng, memang bukan untuk kaum pemalas. Dan di manakah semangat hidup paling menggelora selain daripada masyarakat pedesaan?

Klitih, Hilangnya Keksatriaan dan Kegembiraan

Mendengar beberapa jamaah yang ikut urun rembug soal klitih, ingatan saya sedikit melayang kepada tradisi suku Tolaki, suku Mamak saya, ya berarti suku saya juga. Anak-anak pria Tolaki yang sudah cukup dewasa biasanya mengajukan diri untuk menjadi Tamalaki, semacam prajurit kerajaan. Syarat utama menjadk Tamalaki adalah monggae (potong kepala orang); calon Tamalaki akan pergi sendirian ke desa musuh, kemudian mencari orang untuk dibunuh dan kepalanya diserahkan pada Otadu (panglima perang). Otadu sendiri konon setiap menginisiasi anggota Tamalaki, setelah ritual dan doa akan jatuh sakit dan hanya akan sembuh ketika sudah menyentuh kepala yang diserahkan padanya.

Tradisi macam ini sepertinya berkembang ketika suku Tolaki terbagi menjadi tiga kerajaan yang saling berperang yakni Padangguni, Wawolesea dan Besulutu. Sampai kemudian tiga kerajaan ini disatukan oleh seorang Mokole More (Raja Perempuan) bernama dan bergelar Wekoila Anaway Inuanggino Sangia.

Cukup dulu sekilas pandang mengenai tradisi monggae di suku Tolaki. Mesti diakui, tradisi ini tentu sudah tidak sesuai dengan cita rasa manusia modern. Tapi mendengar soal klitih, entah kenapa tradisi monggae terasa jauh lebih mending. Para calon Tamalaki itu kan ada cirinya, ada petanda yang membuat orang tahu bahwa dia calon Tamalaki yang sedang mencari mangsa. Kalau desa kita didatangi orang semacam ini, kita bisa punya persiapan dulu. Masih ada jiwa berhadapan, masih tersisa keksatriaan dalam budaya yang oleh manusia modern dianggap penuh kekerasan itu. Tapi klitih? Ya ampun, ini benar-benar kedunguan berdarah, minus sifat ksatria.

Tapi sekadar mengutuk tidak akan menyelesaikan masalah. Mbah Nun mengajak jamaah untuk berpikir lebih holistik. Bahwa selalu ada sebab-akibat dari segala sesuatu.

Bila kita kerap mengeluhkan perilaku anak zaman now, kita juga perlu menyadari bahwa anak zaman now tidak muncul makbedhundhuk dari bebatuan. Mereka lahir dari generasi sebelumnya juga. Ada degradasi nilai yang dialami masyarakat. Ada penurunan kualitas titik-titik kegembiraan. Langgar dan musholla tidak lagi menjadi tempat yang ramah dan nyaman untuk berkumpulnya anak-anak dan remaja karena selalu urusannya soal salah-benar melulu. Keindahan menjadi asing.

Ulama-ulama mereka sibuk menebar sabda penuh pesona. Resep-resep wirid dan bacaan supaya cepat jadi wali, petunjuk praktis tentang tata-cara dan sopan santun penduduk sorga tapi tak menurunkan ajian-ajian menghadapi dunia nyata. Seolah dunia dan akhirat terpisah rentang jarak yang sangat jauh dan bukannya manunggal dalam keseharian dan kewajaran. Hay, manunggaling kawula gusti apa kabar?

Aristokrat agamawan yang sangat baik hatinya, polos-polos saja berselimut kabut mitos dijadikan alat legitimasi para politisi. Sekadar kunjugan ke perguruan spiritual sesaat, difoto dan dibagikan ke mana-mana jadilah seolah ulama dan umaro` telah bersatu padu dalam kerja sama yang ciamik. Bahwa setelah itu aset negara dijual belikan, harga diri bangsa digadai? Aduh, kitab-kitab para aristokrat agamawan tidak membahas mekanisme investasi, pembangunan infrastruktur ala kolonialis, iklim politik global atau perkembangan ekonomi dunia. Kenapa Resolusi Jihad tidak keluar di era pendudukan Nippon?

Sehari-hari kita melihat orang tua yang merasa baik-baik saja menyediakan kendaraan bermotor untuk anaknya yang masih sekolah menengah. Orang tua kehilangan wibawa di hadapan anak-anaknya.

Sedang perpolitikan nasional kita juga memang kondisinya penuh aroma klitih. Antar parpol saling klitih, antar tokoh dalam satu parpol saling mencari kesempatan untuk melenyapkan. Pemerintah meng-klitih-UU Ormas-kan yang tak sejalan dengannya. Sedang yang di-klitih oleh pemerintah juga belum tentu bersih dari niat untuk meng-klitih bila ada kesempatan.

Aroma busuk per-klitih-an (baca: perpolitikan) nasional juga mulai meruap sejak tahun ini, dan makin anyir saja. Tahun 2018-2019 adalah tahun klitih. Tahun politik. Di mana rakyat disuruh memilih tukang klitih yang akan mereka puja-puja dan hujat-hujat sendiri.

Dan mereka, para pemuda, mencari kegembiraan ke mana? Ke geng-geng liar sesama domba tersesat yang tidak dipatok dan diikat? Ke social media? Wah ini juga sama parahnya. Bahkan masih marak pada netizen kita kebiasaan yang belakangan disebut callout culture; kebiasaan men-share ulang atau screenshoot postingan pihak lain yang dianggap bodoh, konyol dan dangkal untuk kemudian diolok-olok bersama kawan yang sepemahaman. Entah dengan alasan membela kebenaran, membendung intoleran, atau apapun, ini juga mental klitih.

Industri hiburan juga tidak menyediakan apa-apa. Entah berapa kali Mbah Nun menyampaikan “Jangankan negarawan atau ulama, di negeri ini sekarang, pelawak saja kita tidak punya”. Tivi-tivi nasional hanya menayangkan orang yang cengengesan, bukan benar-benar pelawak. Akhirnya kita hanya seperti menonton orang cari duit. Titik kegembiraan selalu dicabut dari generasi muda kita. Betapa celaka.

Artinya, secara alam bawah sadar pemuda-pemuda klitih ini juga hanya meniru atmosfer orang-orang tua mereka. Maka memang benar jayalah NKRI, Negeri Klitih Republik Indonesia.

“Tidak usah menunggu siapa-siapa. Tidak usah menunggu negara, menunggu masyarakat… Setiap komunitas memastikan anggota komunitasnya agar tidak klitih!”, ujar Mbah Nun.

Betapapun watak kolonialis NKRI selalu merongrong, Maiyah tidak putus asa. Ngaji Bareng kemudian bukan justru jadi ajang penghujatan pada pihak ini-itu seberapa pun Negeri Klitih ini belum nampak akan melahirkan pemimpin dalam jangka waktu yang mulai tampak. Sekadar pilpres dua tahun lagi itu, tampaknya masih akan sama saja dengan sebelumnya; sekadar nyari presiden, bukan mencari pemimpin sejati.

Pendopo yang berada pada halaman kantor desa Bangunharjo, malam jadi seperti dilingkari oleh manusia yang sedang tawaf karena jamaah tidak hanya memadati bagian panggung. Bagian belakang pendopo pun ramai, walau tidak sepadat pekarangan yang langsung menghadap panggung. Berbagai macam jenis manusia ada di sana. Dari mbah-mbah uti dan salafi yang belia. Mulai yang gondrong sampai cepak, dari yang tidak berjilbab, berjilbab, sampai yang bercadar. Sarungan, celana pendek, celana panjang, jeans atau kain. Intinya banyak dan beragam, kalau saya teruskan kok rasanya kayak saya lagi obral pakaian?

KiaiKanjeng mengajak mereka kembali ceria. Ada harta karun berupa kebahagiaan penuh hikmah dari permainan-permainan tradisional yang diajarkan pendahulu-pendahulu, sesepuh, toono motuo (tetua yang dihormati dalam bahasa Tolaki) kepada generasi kita. Asal. kita mau menggali sedikit saja, harta itu ada di situ. Belum jauh dia terpendam. KiaiKanjeng malam itu menggali kembali permainan tradisional itu. Jamaah berpartisipasi, tawa menggema tapi terdengar seperti lantunan dzikir.

Dan bukankah dengan memperbanyak jumlah tawa, kualitas kegembiraan dan kebahagiaan, patok pancang logika akal sehat serta kejernihan batin itulah yang merupakan doa yang mengetuk-ngetuk pintu langit. Yang membelai para generasi muda dengan kemesraan, menghormati kasepuhan. Klitih hanya terjadi pada mereka yang kurang jangkep, negara ini misalnya.

Maka Ngaji Bareng juga adalah usaha sak iso-isone untuk men-jangkep-kan, dan menyempurnakan kembali diri kita yang sedang porak poranda ini. (MZ Fadil)

Tidak usah menunggu siapa-siapa. Tidak usah menunggu negara, menunggu masyarakat. Setiap komunitas memastikan anggota komunitasnya agar tidak klitih!