Negara Dihimpit Gelembung-Gelembung Kecil

Catatan Kenduri Cinta, Jakarta 14 April 2017

Hiruk pikuk nan ramai nasional yang bermuara pada Pilkada DKI Jakarta terasa menyesakkan sejak enam bulan lalu. Tampilan suasana keterpecahan bangsa menjadi suguhan hari demi hari media sosial ke penjuru tanah air bahkan hingga mencapai diaspora warga Indonesia di mancanegara. Manusia Indonesia terperangkap dalam gelembung kecil menang-kalah. Dalam gelembung itu mereka saling menjatuhkan satu sama lain dan bisa berujung pada perpecahan bangsa. Untuk itu diperlukan sebuah ‘kenduri’ yang menyatukan kembali keretakan itu.

Mohamad Sobary dalam epilog berjudul “Kenduri Cinta” di buku Jalan Sunyi Emha yang juga dikutip Sumasno Hadi dalam penelitian Tesis yang kemudian dibukukan Mizan menjadi Semesta Emha Ainun Nadjib: Bentangan Pengembaraan Pemikiran, mengatakan konsep kenduri adalah sebuah mekanisme sosial yang berasal dari penduduk desa dalam menjaga dan merawat keutuhan masyarakat. Forum Kenduri Cinta sejak 16 tahun lalu yang rutin diadakan setiap bulan adalah perwujudan pemulihan keretakan sosial, terlebih lagi di tengah ‘geger’ ibu kota hari-hari ini.

***

Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Pelataran Taman Ismail Marzuki mulai dipadati oleh warga Jakarta yang telah berdatangan. Tampaknya, libur akhir pekan  panjang kali ini justru menambah animo masyarakat buat hadir di Kenduri Cinta. Ini terlihat dari kehadiran mereka yang lebih awal dari biasanya. Bahkan terlihat banyak juga orang tua yang membawa serta anak-anaknya yang masih kecil untuk ikut Maiyahan di Kenduri Cinta ini.

Kenduri Cinta April 2017

Wirid Ta’ziiz dan Tadzlil, serta Wirid Wabal, menjadi ritual rutin yang sudah dilaksanakan di Kenduri Cinta sebagai “sesaji” kepada Allah untuk membuka Maiyahan. Dipandu  beberapa penggiat Kenduri Cinta di panggung utama, para jamaah yang hadir pun khusyuk mengikuti ritual awal ini. Sekitar satu jam lamanya ritual sesaji awal ini dilaksanakan.

Sigit Hariyanto kemudian mengambil tempat dan bertindak sebagai moderator sesi Prolog untuk menggali sejumlah wacana awal dari beberapa penggiat Kenduri Cinta mengenai tema “Negara Dalam Gelembung” ini. Sudah lazim adanya, bahwa judul atau tema yang diangkat di Kenduri Cinta sebelumnya diolah di dapur Kenduri Cinta yaitu Forum Reboan yang dilaksanakan setiap hari Rabu. Dan memang, Cak Nun seringkali diminta sarannya berkaitan usulan-usulan tema atau judul yang akan diangkat di Kenduri Cinta, tidak terkecuali pada Kenduri Cinta kali ini. Tema ini merupakan salah satu dari enam tema yang diusulkan oleh Cak Nun kepada teman-teman penggiat Kenduri Cinta.

Pada sesi prolog ini, para penggiat Kenduri Cinta memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi jamaah untuk terlibat dalam penggalian awal tema. Metode diskusi seperti ini memang sudah dilakukan di Kenduri Cinta setiap bulannya agar partisipasi jamaah dalam jalannya forum sudah muncul sejak awal. Tentu saja, interpretasi apapun bebas diungkapkan oleh siapa saja yang merasa ingin berpendapat, toh pada akhirnya memang sudah terbangun suasana  tidak ada pemaksaan untuk memliki kesamaan pendapat di Maiyah.

Sebelum memberikan kesempatan kepada jamaah untuk merespons tema yang diangkat, secara bergiliran Adi Pudjo, Nashir, dan Ali Hasbullah yang merupakan para penggiat Kenduri Cinta menyampaikan paparan-paparan mereka. Tentu saja berdasarkan  naskah Mukadimah yang dirilis sebelumnya di website Kenduri Cinta.

Melihat Dunia Lewat “Gelembung”

Adi Pudjo mengambil titik berat pada kata Negara. Menurutnya, Negara sendiri mengandung isi di dalamnya berupa penduduk, pemerintahan, dan peraturan-peraturan yang ada di dalamnya. Tetapi, dalam tema ini digambarkan, Negara berada di dalam Gelembung. Polarisasi bentuk Negara hari ini pada umumnya merupakan salah satu bentuk dari Gelembung yang dimaksud itu. Dalam kehidupan bernegara hari-hari ini, terdapat banyak sekali faksi atau kelompok yang bersaing satu sama lain, tetapi persaingan itu bukan dalam rangka untuk mewujudkan kesejahteraan rakyatnya negara, melainkan untuk mencapai kesejahteraan bagi kelompoknya.

Lain lagi dengan Nashir. Ia melontarkan pertanyaan, sejak Negara ini merdeka hingga detik ini, apakah Negara ini telah menjalankan dan mewujudkan prinsip keadilan kepada pada rakyatnya. Kita acap kali tergelembung pada pilihan spesifik. Misalnya saat ini dalam suasana pilkada Jakarta, kita tergelembung di pilihan nomor 2 atau nomor 3. Pikiran kita tergelembung, terjebak, dan habis di situ padahal banyak hal mendasar yang lebih penting untuk kita cari hakikatnya.

Ali Hasbulloh melanjutkan pembahasan tema ini. Ia menguraikan, sifat fisik gelembung itu rapuh, mudah pecah. Gelembung atau bubble dibuat untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat sementara, cepat muncul secara massive tapi lekas pula hilang riaknya. Jika dikaitkan dengan terminologi atau konsep “Negara dalam gelembung”, Ali menafsirkan bahwa Negara kita sekarang dalam kondisi bubble karena kerakusan dan kegilaan yang terus berlanjut dari para penguasa Negara untuk memenangkan pihaknya masing-masing. Tapi pada saatnya kerakusan dan kegilaan tersebut akan hancur dengan sendirinya karena bertentangan dengan kehendak Allah.

Sigit kemudian menambahkan,  salah satu bentuk gelembung yang ada saat ini adalah gelembung atau bubble yang diaplikasikan dalam media sosial facebook, yaitu filter bubble. Filter bubble menggunakan algoritma dari para komentator dan like dari postingan status dan bacaan tertentu. Dari situ algoritma filter bubble akan secara otomatis memfilter kecenderungan keberpihakan atau penentangan (pro atau kontra) akan postingan seseorang tersebut. Sehingga, cenderung orang di internet hari ini pun sudah dimasukkan kedalam gelembung-gelembung secara otomatis oleh media sosial.

Forum Kenduri Cinta merupakan forum dialogis, saling belajar satu sama lain, dan semua terlibat.  Furqon, salah seorang jamaah, berkomentar menanggapi tema ini, bahwa awalnya kita harus memahami betul ihwal Negara. Dahulu zaman Majapahit adidaya pun pernah terjadi gelembung yang melatarbelakangi zaman kehancurannya. Gelembung-gelembung itu menyempitkan, memecah-mecah, dan pada akhirnya mengadu domba sampai titik tertentu mampu menghancurkan Negara Majapahit.

Seorang jamaah lain, Zulkarnain dari Surabaya, menanggapi filter bubble yang dilontarkan Sigit sebelumnya. Algoritma menggelembungkan dan mengumpulkan dalam gudang data-data. Sebenarnya tidak hanya di facebook, di sistem media sosial lain selalu ada algoritma serupa filter bubble, di mana data-data mudah sekali terkumpul saat kita searching atau input data tertentu, lalu secara otomatis dari hasil searching itu akan mengarahkan kita ke hal-hal yang sama dengan yang paling sering kita searching.

Kenduri Cinta April 2017

Brainstorming sudah cukup tinggi di sesi awal ini dalam memberi asupan pikiran. Maiyahan adalah tempat berlatih keseimbangan.  Latihan itu melibatkan seluruh elemen yang hadir. Selain akal, hati atau roso juga perlu diberi asupan. Tampillah Restu dengan pembacaan puisinya berjudul “Negara” karya Cak Nun. Lalu dilanjutkan pembacaan esai pendek Daur oleh Wahyu, berjudul “Fa-aslihu Presiden”. Hadir pula Farid, putra  alm. Mbah Surip yang sudah lama tidak mengikuti Kenduri Cinta, yang turut membawakan beberapa nomor-nomor karya mbah Surip. Sementara jamaah secara perlahan mengatur posisi duduknya masing-masing.

Berjalan ke dialog sesi pertama, tugas memoderatori berpindah ke Tri Mulyana. Bang Mathar juga turut bergabung bersama Fahmi Agustian dan Ali Hasbullah. Mengawali dialog, Fahmi menyampaikan mukadimah Kenduri Cinta bulan April ini. Ia berangkat dari pertanyaan apa maksud “Negara dalam Gelembung”. Kemudian ia tarik dari Negara. Bagaimana Negara bisa ada, bisa berdaulat. Fahmi menguraikan, pada awalnya Negara didirikan karena adanya wilayah dan sumber daya alam yang dimilikinya, dan ada rakyat yang menjadi subjek yang harus disejahterakan dengan sumber daya tersebut. Tetapi lalu muncullah kapitalisme yang mengalihkan tujuan utama itu menjadi hanya untuk menyejahterakan pihak-pihak tertentu. Sehingga sumber daya yang diolah saat ini bukanlah untuk menyejahterakan rakyat tapi hanya untuk menyejahterakan pihak-pihak tertentu itu saja.

Lain Fahmi, lain lagi Bang Mathar. Ia melontarkan, patut kita cari tahu seberapa besar gelembung Indonesia ini, dan berapa lama gelembung ini bertahan. Jangan-jangan ada pihak-pihak tertentu yang sengaja mempercepat proses pemecahan gelembung tersebut. Bang Mathar menyitir penjelasan Ustad Nursamad, Islam Kaffah adalah minus politik, karena “Islam” itu sendiri awalnya merupakan penafsiran-penafsiran para ulama dari generasi ke generasi sejak wafadnya Rasululloh. Bahwa penafsiran Islam akan terus berubah dari generasi ini ke generasi selanjutnya. Karenanya, Islam yang hakiki, kaffah, harusnya ialah Islam yang minus politik.

Di tengah jalannya diskusi sesi pertama ini, Cak Nun bergabung dan duduk di sayap kanan panggung. Tampak hadir pula Ian L Bets, salah satu sahabat Cak Nun yang pernah menyusun buku  “Jalan Sunyi Emha”. Dan, memberi jeda memasuki diskusi sesi kedua, grup musik San Jose membawakan beberapa nomor-nomor Jazz akustik. San Jose sendiri adalah salah satu anak didik Beben Jazz di Kemonitas Jazz Kemayoran.

Seperti sudah kita ketahui bersama, kedekatan Beben Jazz dan Maiyah sudah terbangun sejak beberapa tahun lalu, sehingga seringkali Beben mengajak beberapa anak didiknya tampil di Kenduri Cinta. Lagu L-O-V-E,  Satu Nusa, Satu Bangsa dan bengawan Solo dipersembahkan San Jose menghangatkan suasana Kenduri Cinta.

Hidup Bukan Multiple Choice

Seusai penampilan San Jose, dimulailah diskusi sesi kedua Kenduri Cinta. Cak Nun langsung mengawali. Beliau menjelaskan bahwa sebelum beliau menemukan tema Negara dalam gelembung, Beliau terpikir akan berbagai persoalan negeri ini. Cak Nun melemparkan pancingan-pancingan awal kepada jamaah dengan beberapa pertanyaan ringan. Manakah yang lebih dahulu mana gula atau manis. Bila Islam adalah gulanya, berarti manisnya apa, dan sejak kapan ada. Jamaah diajak berpikir.

Seperti disampaikan Bang Mathar sebelumnya, menurut Cak Nun yang terpenting yang ada dalam setiap individu adalah As Silmi, seperti disebutkan dalam Al Qur’an; Udkhuluu fi-s-silmi kaffah. Cak Nun menambahkan, jangan terlalu fanatik dengan ide-ide dan ilham-ilham. Kita saat ini dibiasakan dengan jawaban multiple choice. Ini membuat kita hanya terpaku pada pilihan-pilihan padahal sebenarnya ada banyak hal di luar itu yang bisa dijadikan rujukan jawaban. Maiyah tidak melihat bahwa hidup ini multiple choice. Hidup ini jawabannya adalah esai. Anda ialah manusia esai. Di situlah, jawaban diungkapkan secara akademis, ilmiah, fakta, dan agama.

Kenduri Cinta April 2017

Di sini kita berlatih betul menjadi generasi baru yang lebih cerdas dari generasi-generasi sebelumnya. “Di Maiyah Anda mendapat ilmu yang membuat Anda tidak mudah terbawa arus, karena Anda sudah punya sikap dalam mengambil keputusan. Anda tidak akan terbawa arus tapi Andalah yang akan menciptakan arus”, tegas Cak Nun.

“Mari kita asah cinta, kita asuh cinta, hingga Anda temukan silmi pada diri Anda. Allah sebenarnya tidak membutuhkan sholatmu, tapi membutuhkan cintamu,” demikian beliau menjelaskan pentingnya cinta pada Allah.

Cak Nun lalu mempersilakan Pak Ian L. Betts memaparkan apa-apa yang dirasakan dan dilihatnya mengenai Kenduri Cinta secara umum. Pak Ian Bets meminta izin kepada jamaah untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Tampaknya Pak Ian juga ingin merasakan kemerdekaan yang terbangun di Kenduri Cinta. Setiap orang berhak berbicara dalam bahasa daerahnya masing-masing. Meskipun berbicara dalam bahasa inggris, tampaknya jamaah Kenduri Cinta pun tetap memahami apa yang disampaikan Pak Ian L Bets.

Ian L Bets sendiri terhitung sudah sejak tahun 1992 tinggal di Indonesia. Ketertarikannya kepada Islam diawali dengan seringnya ia mendengar beberapa wirid dan sholawatan yang ia dengar saat itu. Hingga akhirnya kemudian Ian L. Bets bertemu dengan Nurcholish Madjid, atau yang biasa kita kenal Cak Nur di Universitas Paramadina. Saat bertemu dengan Cak Nur, Pak Ian mengutarakan keinginannya untuk mempelajari Sufi dalam Islam. Yang terjadi kemudian, Pak Ian diminta Cak Nur ikut dalam kelas-kelas Kajian Al Qur’an, Filosofi Al Qur’an, Filsafat Islam, dan Fiqih Islam. Dalam kurun waktu satu tahun itu, Cak Nur mengajak pemuda asli Inggris ini mendalami Sufi Islam lebih mendalam melalui kelas-kelas yang ia ikuti setiap akhir pekan, hingga akhirnya Ian menyadari bahwa ia sudah memahami apa itu Sufi dalam Islam. Hingga akhirnya pada 1994, Ian L. Betts memutuskan masuk Islam atas saran Cak Nur saat itu.

Pertemuan pertama kali Pak Ian L. Betts dengan Cak Nun terjadi pada tahun 1998, pada saat Indonesia bergejolak dengan krisis moneter dan kemudian lengsernya Soeharto dari kursi Presiden saat itu.Kedekatan kedua sosok ini kemudian berlanjut hingga akhirnya Pak Ian turut serta dalam beberapa tur KiaiKanjeng di Australia dan Belanda. Pak Ian mengenal nama Cak Nun melalui beberapa tulisan di surat kabar dan beberapa album awal KiaiKanjeng; Raja diraja dan Wirid Padhangmbulan. Kesan mendalam yang begitu membekas dirasakannya tatkala mengikuti tur ke Belanda. Ketika itu Islam sedang diserang melalui film Fitna yang dibuat oleh Geert Wilders, salah satu politikus di Belanda. Pak Ian sangat terkesan dengan metode yang digunakan  Cak Nun pada saat tur KiaiKanjeng itu yaitu mendatangi beberapa Gereja dan Sinagog.

Congratulations Pak Ian Buat Maiyah

“I want to tell you somethings tonight. I want to give you a message, I want give you a reminder and I want to give you congratulations”, ungkap Pak Ian. Pak Ian ingin membesarkan hati jamaah Kenduri Cinta, bahwa forum seperti Kenduri Cinta ini tidak akan pernah ditemukan di belahan dunia lain, selain Indonesia. Kebanggaan ini diharapkannya bisa terbangun secara kuat dalam diri masing-masing jamaah. Pak Ian menjelaskan setiap orang yang hadir di Kenduri Cinta atau Maiyah memiliki alasannya masing-masing, dan setiap orang di Maiyah menjadi saksi atas berkembangnya pergerakan Maiyah hingga hari ini. Di Maiyah, segala bidang ilmu dibicarakan dan didiskusikan bersama-sama; Politik, Budaya, Pendidikan, Agama, Sosial, Hukum dan sebagainya.

Pada medio 2004-2014, Pak Ian hampir setiap bulan hadir di Kenduri Cinta, dan pada periode itu dirinya melahirkan karya “Jalan Sunyi Emha”. Pak Ian sangat tidak menyangka perkembangan pergerakan Maiyah terlihat sedemikian rupa hari ini. Tidak terbayangkan bahkan pada saat 10 tahun lalu bahwa Maiyah akan seperti ini. Pak Ian secara khusus mengucapkan apresiasi yang tinggi kepada seluruh jamaah dan mengucapkan congratulation, karena mereka semua menjadi pihak yang terlibat dan menjadi saksi dalam perkembangan pergerakan Maiyah hari ini.

Pak Ian mengungkapkan kekhawatirannya akan tidak disadarinya berkembangnya pergerakan Maiyah hari ini oleh jamaah Maiyah sendiri. Beliau  berharap hal ini tidak terjadi. Sebab, Maiyah hari ini memiliki kekayaan ilmu sangat beragam. Pak Ian menyatakan, Maiyah adalah sebuah fenomena yang unik dan spesial, yang tidak akan pernah ditemui di Negara manapun selain Indonesia.

Dua tahun terakhir, Pak Ian tinggal di Thailand karena pekerjaan yang harus dilakukan di sana. Dalam kurun waktu dua tahun tersebut, Pak Ian tidak mengikuti secara langsung forum Kenduri Cinta di Jakarta. Tapi, kali ini Pak  Ian punya kesempatan hadir di Kenduri Cinta. Sebelumnya malahan sudah sempat berkunjung ke Rumah Maiyah di Yogyakarta beberapa waktu yang lalu dan bertemu Cak Nun.

Pak Ian mengungkapkan kekagumannya terhadap proses perkembangan pergerakan Maiyah belakangan ini, baik dalam wilayah intelektual, sosial, kultural, filosofi, maupun politik. Tema-tema yang diangkat di Kenduri Cinta diakui oleh Pak Ian tidak mungkin bisa dibawa ke kampus-kampus di manapun di dunia ini, karena keunikan forum Kenduri Cinta dan Maiyah hanya akan ditemukan di Maiyah sendiri, dan metode diskusi yang lebih baik dari yang ia lihat di Kenduri Cinta ini diakuinya tidak akan ditemukan di universitas manapun di dunia.

Atas dasar inilah Pak Ian mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan Maiyah saat ini. Kembali memberi jeda di Kenduri Cinta, Beben Jazz menghadirkan beberapa nomor Jazz akustik.

“Anda itu di Maiyah nomor satu bukan ilmunya, tetapi keseimbangan yang Anda alami. Itulah yang utama”, Cak Nun merespons dan mengelaporasi apa yang disampaikan Pak Ian L Bets. Kalau Anda terbiasa seimbang, Anda tidak akan mungkin miring ke kanan maupun ke kiri. Seperti terjadi dalam Pilkada Jakarta kali ini, mayoritas orang tidak berada pada titik seimbang. Bahwa dalam Pilkada ada dua pilihan antara Ahok dan Anies, itu merupakan pilihan yang akan dipilih, tetapi orang Maiyah akan menemukan titik keseimbangan bahwa untuk memilih di antara pilihan yang ada tidak perlu berteriak kepada khalayak ramai tentang pilihan yang ia pilih. Itulah yang kita pelajari di Maiyah. Jamaah mampu bertahan sampai 8 jam di Maiyahan, karena memiliki kesadaran dalam keseimbangan berpikir.

Kenduri Cinta April 2017

Berpikir jujur, berhati tulus itulah ridhlo. Cak Nun menggarisbawahi bahwa ridhlo satu sama lain yang terbangun di Maiyah ini kemudian menghasilkan output berupa ketidakinginan setiap individu untuk berpikir curang. Untuk berpikir curang saja enggan, apalagi berlaku curang. Suasana seperti ini selalu muncul di setiap Maiyahan.

Cak Nun sendiri melihat dengan mata kepala. Ketika pulang dari Maiyahan di Mocopat Syafaat, di perempatan Ring Road Kasihan, ketika lampu merah traffict light menyala, anak-anak Maiyah tidak sedikit pun memiliki niat untuk melanggar lampu merah, meskipun saat itu jam 4 pagi hari, dan situasi jalan raya tidak banyak kendaraan yang melintas.

“Di Maiyah ini orang ridhlo terhadap dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya”, Cak Nun melanjutkan. Kecenderungan yang berlangsung hari ini adalah orang hidup dalam pengkotakan-pengkotakan yang bersifat multiple choice. Padahal tidak semua hal dalam kehidupan berlaku pilihan-pilihan yang terbatas, meskipun ada beberapa hal yang memang harus bersifat pilihan, dan wajib memilih, tetapi lebih banyak hal yang tidak harus disikapi dengan sistem multiple choice seperti saat ini.

Manusia Sebagai Gelembung Besar

Manusia saat ini menjadi gelembung-gelembung kecil yang dimasukkan dalam sebuah kotak besar, padahal seharusnya manusia adalah gelembung yang lebih besar yang mampu menampung segala macam pilihan yang ada dalam kehidupan. Satu contoh yang didapat diambil dari Cak Nun adalah kenyataan bahwa Cak Nun kerap “dipaksa” untuk berposisi dan berperan sebagai gelembung besar dari Indonesia. Jauh sebelum itu, pikiran-pikiran Cak Nun sudah meletakkan dasar gelembung besar itu dalam melelihat Indonesia seperti terangkum dalam judul buku Beliau: “Indonesia Bagian dari Desa Saya.”

Prinsip hidup mengasuh yang sering dijelaskan oleh Cak Nun melalui penjelasan ayat pertama surat An Naas, seperti diuraikan dalam berbagai Maiyahan, inilah yang menjadi prinsip hidup yang utama, sehingga yang berlaku kemudian adalah seperti seorang Ibu yang mengasuh anaknya. Meskipun anaknya mengencingi ibunya ketika digendong, Ibunya tidak akan marah. Karena Ibu memiliki sifat dan daya asuh yang tinggi kepada anaknya.

Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Cak Nun harus segera menuju Bandara karena harus menghadiri pernikahan anak bungsu Gus Mus di Rembang. Kenduri Cinta pun dipuncaki dengan bersholawat bersama-sama dan berdo’a bersama yang dipimpin oleh Kyai Syauqi. (Tim Kenduri Cinta)

Manusia saat ini menjadi gelembung kecil. Seharusnya manusia adalah gelembung yang lebih besar yang mampu menampung segala macam pilihan dalam kehidupan.

Bagikan

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image