Nayuh Cincin Nusantara

Zaman saya kecil dulu, tren untuk ikut gabung dalam perguruan-perguruan silat menjadi top list di kalangan remaja dan pemuda. Masa-masa ketika kanak-kanak belum direnggut oleh nyamannya duduk di depan monitor bermain Nintendo atau Playstation. 

Berbagai jurus dikuasai. Kedigdayaan seringkali berakhir dengan sentimen antar perguruan, atau perselisihan kecil-kecilan sesama murid. Pertengkaran tidak dapat dihindarkan. Lalu pertarungan pun meledak. Kejadian seperti ini akhirnya membuat suasana antar perguruan menjadi tegang. Biasanya akan berujung dengan bertemunya “sesepuh perguruan” di berbagai tingkat dari ranting sampai pusat, tergantung besar tidaknya pertengkaran yang terjadi. Terwujudlah Islah.

Lalu siapa yang menjadi Sesepuh Perguruan ini? Mereka bisa jadi orang-orang yang mendirikan, merintis perguruan, atau yang terlebih dulu belajar ilmu di perguruan tersebut. Bagaimanapun juga tradisi untuk tunduk pada guru ini dijaga dan dijalani oleh semua murid. Mereka menaruh kepercayaan penuh, bahwa keputusan sesepuh inilah yang terbaik untuk kebersamaan mereka satu sama lain, diwaktu-waktu mendatang. Demikian tanpa sadar murid akan menurunkan egonya, untuk tidak perlu adu kedigdayaan.

Mekanisme seperti ini tidak hanya berlaku di dunia persilatan. Tetapi juga di rumah, sekolah, kalangan supporter sepakbola, suku, keyakinan, dll. Secara tidak sadar setiap orang dalam hatinya “seperti punya software” untuk tunduk pada siapa yang mereka segani, hormati, dan teladani. Hingga bagaimanapun perselisihan yang terjadi asalkan mereka, Para Sesepuh yang mereka junjung ini sudah bersikap perdamaian bisa terjadi tanpa siapapun yang membantah. Nganut, ngawula.

Simbah dalam beberapa kesempatan juga berbicara mengenai konsep “Pawang”. Asalkan sang pawang ini hadir, masalah pasti teratasi.

“Mana Wali Qutub Negeri Khatulistiwa?”

“Wabah penyakit tiada tara. Maut tak bisa ditunda, tetapi kehancuran mungkin bisa dilompati…” Daur 55 – Wali Negeri Khatulistiwa

Indonesia negeri yang beraneka ragam ini tentu saja punya sesepuh-sesepuh, yang kini keberadaannya mulai disingkirkan, dan diganti oleh mereka produk dari pencitraan-pencitraan sistematis media massa. Dan akibatnya bisa kita lihat sendiri sekarang, perselisihan satu belum selesai muncul perselisihan lagi seperti tumpukan jerami. Kita harusnya mulai bertanya lagi siapa yang benar-benar sesepuh bangsa ini, Wali Qutub yang menyangga Nusantara ini, bertanyalah dan temukan jawabannya dalam perenungan batinmu sendiri. Kita harus Nayuh Cincin Nusantara.

Nayuh, kosakata Jawa ini mungkin juga asing bagi orang Jawa sekarang, yang juga sudah tidak mau mempelajari Jawa-nya. Kitab Bausastra Jawa, karangan Poerwadarminta, tahun 1939 mencatat nayuh berarti: (1) Ngudi supaya diprimpèni (ing wêsi aji, jago kang arêp diêdu lsp)Berusaha supaya mendapatkan pusaka, wesi aji, atau isyarat tentang sesuatu hal. (2) Mrimpèni, nayuhi; Didatangi lewat mimpi.

“Kita bikin lingkaran keakraban dan kejujuran. Kalau Indonesia yang besar belum bisa ber-maiyah atau melingkar menjadi satu Cincin Nusantara” – Cincin Nusantara dan Lingkaran Dhadu

Akrab dan Jujur itu kunci awal, keakraban bisa dimulai dengan pertemuan, ngumpul berdamai dengan segala perselisihan, atau melibatkan sesepuh-sesepuh tadi, Islah untuk bersama-sama menyelesaikan pertengkaran yang ada di sekeliling kita sampai tingkat nasional.

Supaya nanti terjalin persatuan dan kesatuan Indonesia, dalam Satu pusaka “Cincin Nusantara”. Sebagai lambang janji, untuk terus bersama menjaga kebersamaan, seperti cincin kawin di pernikahan, tentu akan banyak perbedaan antara suami dan istri, dari background keluarga, sifat dan karakter, kebiasaan, dll. Tetapi ego perbedaan itu dikalahkan oleh semangat kebersamaan, dalam jalinan rumah tangga. Demikian di rumah tangga, demikian pula dalam bernegara.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image