Nasib Badan Apa Perlu Direnungkan

Kalau bicara nasib seakan-akan kita bisa mengatur nasib. Apa ada hubungan antara nasib dan nasab. Apa “beliau-beliau” ini adalah saudara kembar, yang perlu diselamatkan? Atau bahkan menyelamatkannya perlu serangkaian kata atau langkah konkret di tengah derasnya fitnah di zaman ini. Melihat Daur 31 Allah Bertajalli Kepadamu dan Daur 51 Apa yang Perlu Direnungi dari Nasib? sangat unik dan berhubungan. Dalam Daur 31, bahwa ukuran sukses itu sebenarnya bukan terlihat dari sukses gagalnya, kaya miskinnya, pejabat bukannya di Universitas Patangpuluhan. Sangat menarik karena ini melawan mainstream orang kebanyakan. Lha apa itu benar atau tidak sih, dan bagaimana kok bisa begitu, apa enggak gila?

Di Daur 31, kita belajar bahwa untuk janjian saling bertemu saja sekarang ini bisa sulit walaupun enggak sulit-sulit amat. Karena bisa saja enggak mau, enggak level, atau ketemu tapi basa-basi saja. Untuk mendapatkan bertemu yang “bukan basa-basi” menjadi sesuatu yang “langka”. Di Maiyah ini bisa bertemu yang bukan basa-basi, shar-share-shor ilmu ngelmu sangat unik dan menarik. Di Universitas Petangpuluhan bisa dipelajari cara manajemen perasaan geram, marah, nggetih, sampai ngawruh berdasarkan cinta sejati pada diri lillah, menyelamatkan diri yang bertempat tinggal kok ndilalah enggak bisa memilih pas lahir yaitu di bumi pertiwi.

Untuk menyelamatkan diri ternyata perlu mengetahui Ilmu Peta Diri, Daur 30. Sedangkan untuk menyelamatkan bumi pertiwi diperlukan pengenalan terhadap bumi pertiwi. Punya apa, bisa apa, asetnya berapa, hutangnya berapa, cashflow-nya, non cashflow-nya apa saja, investasinya apa saja, dst. O iya, duitnya si bumi pertiwi oleh pengelolanya ini bisa menaungi sampai berapa keturunan atau malah kebangkrutannya si bumi pertiwi oleh pengelola harus ditanggung berapa keturunan atau dinasti, dst.

Kembali ke Daur 31, ternyata untuk membentuk diri cuma diperlukan disiplin yang bagusnya kelihatannya kok semakin dini semakin baik. Ini ya tidak semudah menggoreng tempe katanya, tapi ya enggak sulit-sulit amat.

Di Universitas Patangpuluhan kata ‘orang’ disebut dengan disiplin yang tinggi untuk secara dinamis dan irama cepat tempo tinggi menyetiai batas-batas yang tak terkira antara orang benar atau orang-orangan, manusia sejati atau kepalsuan dan pemalsuan, antara denotasi yang didera oleh konotasi, hingga ke konotasi yang justru memproses pematangan denotasi berikutnya.

Sedangkan di Daur 51, ternyata bila sudah melaksanakan Daur 31, menurut saya sih otomatis manajemen nasib — bukan mengatur lho ya — atau tepatnya manajemen perasaan atas nasib akan lebih mudah.

Padahal untuk apa nasib direnungi? Apa yang perlu direnungi dari nasib?

Tuhan bekerja menjalankan takdir-Nya, memproduksi nasib manusia dan apa saja ciptaan-Nya. Takdir atas angin, menghasilkan nasib angin. Pun nasib ayam, sehelai bulu, setetes embun, segundukan kecil gunung, hamparan ruang yang menggendong masyarakat galaksi, apa saja.

Yang perlu direnungi adalah perkembangan kerja kerasmu, ketekunan atau kemalasanmu, ketangguhan atau kerapuhan mentalmu, ketenangan atau kegalauan hatimu, pengolahan kecerdasan atau pembodohan akal pikiranmu.

Yang perlu direnungi adalah naik turunnya kesabaranmu selama menunggu waktu di bumi sebelum dipindahkan ke tempat yang lain. Keteguhan jiwamu menjalani jarak dari awal hingga akhir tugasmu yang ini, supaya kualitas penugasan atasmu meningkat pada era berikutnya sesudah kepastian yang untuk sementara disebut kematian.

Ciamik dan jenius soro taiye, dan itu cuma kita lho, insyaAllah.[]

Muhammad Ramdhan Al Faruqy

search cart twitter facebook gplus youtube