Daur-II • 038

Najis Komprehensif

“Kok najis?”, tanya Brakodin.

“Tidak hanya najis”, jawab Markesot, “mungkin bisa disebut najis komprehensif, meskipun mudah-mudahan bukan najis total”, Markesot menjawab.

Markesot bercerita bahwa Kiai yang menelponnya, yang Syekh dari Mekkah kalah suci darinya di pandangan Rasulullah, adalah orang yang hampir tidak pernah putus wudlu. Kapan saja ia berhadats, selalu langsung bersuci lagi. Demikian juga seluruh unsur dalam hidupnya, makanan minumannya, asal usul keuangannya, pakaian dan silaturahminya, ucapan dan kehati-hatian pendengarannya, selalu diupayakan untuk suci, setidaknya menjauh dari hadats, dari najis, dan segala macam kotoran.

Bukan hanya kotoran jasad dan ruhani. Juga kotoran sosial, kotoran politik, kotoran kebudayaan dan peradaban, kotoran setiap petak ruang dan jengkal waktu. Kotoran jahr maupun sirr. Kotoran apapun yang menurut Allah adalah kotoran.

“Lha saya?”, Markesot melanjutkan, tapi kemudian tertawa habis-habisan sampai hendak keluar tenggorokan dari lehernya.

“Saya tidak pernah heran kenapa para makhluk suci, utamanya Kanjeng Nabi, hampir mustahil mau berdekatan denganku. Tetapi aku menangis karena tidak ada alasan bahwa saya tidak tergolong di dalam yang Allah maksudkan dalam firman-Nya ini: “Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun yang datang dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. [1] (Al-Maidah: 41)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra