Mundur Selangkah Belajar Kepada Binatang

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan, Jombang 8 Agustus 2017

Tidak heran kalau dialog yang berlangsung di setiap maiyahan diwataki oleh suasana yang egaliter, terbuka dan nyemanak. Hal itu dirasakan benar oleh Bapak Rachmat Zulkarnaen, pelaku pemberdayaan bagi para petani, yang menikmati majelis ilmu Padhangmbulan hingga pukul tiga dinihari. Dengan logat Jawa Timuran yang khas Pak Rachmad menyapa dan merespons pertanyaan dari jamaah.

Masih dalam bingkai nyinauni organisme alam, Pak Rachmat melakukan gugatan-gugatan terutama kepada egoisme manusia yang memperlakukan tanaman tidak sebagai makhluk hidup. Penggunaan pupuk kimia yang melebihi takaran mencerminkan ketidaksabaran manusia saat melakukani interaksi dengan organisme alam. Instan dan serba terburu-buru ingin menuai hasil adalah penyakit mental yang justru menyeret manusia menjadi bagian dari “hama” itu sendiri.

“Mengapa ada surat bernama Al-Baqarah? Apa yang terjadi dengan seekor sapi sehingga ia dijadikan nama surat?” tanya Cak Fuad.
Foto: Hariadi.

Cak Fuad melengkapi tema binatang dalam Al-Quran. Wal-khayla wal-bighola wal hamira litarkabuuha merupakan serangkaian nama binatang: kuda, bighol dan keledai. Semua ada 28 nama binatang yang disebut oleh Al-Quran. Yang menarik, Cak Fuad menyinggung nama binatang dan pohon kadang dijadikan legitimasi oleh beberapa partai politik. Ada partai bersimbol sapi, pohon (beringin) dan ka’bah. Mereka merasa tenteram kalau simbol partainya disebut secara eksplisit oleh Al-Quran.

“Mengapa ada surat bernama Al-Baqarah? Apa yang terjadi dengan seekor sapi sehingga ia dijadikan nama surat?” tanya Cak Fuad. Tidak dalam rangka memaparkan ilmu hayati tentang sapi — Al-Quran menceritakan rangkaian peristiwa pembunuhan yang cara mengungkap siapa pembunuhnya adalah dengan menyembelih seekor sapi.

Juga disampaikan oleh Cak Fuad nama hewan yang lain, yakni ba’udloh alias nyamuk. Allah tidak malu menciptakan seekor nyamuk atau makhluk yang lebih kecil darinya sebagai perumpamaan. Kekuasaan Allah tidak hanya ditunjukkan dengan kemampuan mencipta dalam skala besar: gunung, samudera, galaksi; kekuasaan dan kemahabesaran Allah juga ditunjukkan dalam skala penciptaan yang lebih kecil dan lembut.

Bapak Rachmat Zulkarnaen, pelaku pemberdayaan bagi para petani, yang menikmati majelis ilmu Padhangmbulan hingga pukul tiga dinihari.
Foto: Jamal Jufree.

Semua pemaknaan itu dapat diselami melalui samudera ilmu dan hikmah apabila kita menyadari identitas utama kita adalah hamba dan khalifah Allah.

Kyai Muzammil dengan logat Madura yang medok dan khas melanjutkan cerita Cak Fuad tentang peristiwa penyembelihan sapi. Mundur lagi jauh ke belakang pada peristiwa Habil dan Qabil, menurut Kyai Muzammil, mengandung hikmah bahwa manusia perlu belajar kepada binatang bagaimana menguburkan mayat.

Khusus untuk pembahasan sapi, Kyai Muzammil memiliki kebanggaan tersendiri dengan tanah Madura terkait sejarah yang melatarbelakangi surat Al-Baqarah. Sikap Bani Israil yang metheng-kelek saat menerima perintah agar mencari sapi: jenis sapi apa, warnanya bagaimana, usianya berapa, serta kenyataan sosiologis bahwa orang Madura cukup dekat dengan kehidupan sapi — menjadi dugaan untuk melegitimasi jangan-jangan Nabi Musa itu orang Madura. Namun, legitimasi Kyai Muzammil langsung tertolak setelah Mbah Nun melakukan konfirmasi kepada Malaikat Jibril selaku Koordinator Utama para malaikat.

Itulah Padhangmbulan. Itulah Maiyah. Sarat nuansa egaliter dan kebersamaan namun tetap dalam konteks keperluan dialogis menggali ilmu dan menyapa cakrawala masa depan.

“Manusia diamanahi Allah agar menjadi khalifah, menata dunia, melakukan penataan-penataan organisme yang menghasilkan organisasi,” ungkap Mbah Nun. “Negara, pemerintah, ormas, partai politik adalah organisasi ciptaan manusia. Namun, untuk melangsungkan organisasi itu manusia perlu belajar dan meniru cara Allah mengelola organisme.”

Maka, manusia tidak bisa sewenang-wenang menyatakan hukum rimba itu salah. Kehidupan organisme binatang dan pepohonan terjalin secara seimbang dalam naungan hukum rimba. Justru campur tangan manusia menjadi penyebab hilangnya keseimbangan ekosistem lingkungan. Hama tikus tak terkendali. Rekayasa gen pada ayam potong mengancam kesehatan manusia. Yang salah adalah ketika manusia menerapkan logika hukum rimba secara sepihak.

Anjing sebagai anjing dengan watak perilakunya yang anjing tidak bisa disalahkan. Demikian pula cacing, babi, burung akan tetap otentik menjadi diri mereka. Yang salah adalah ketika manusia berperilaku seperti anjing atau serigala — memangsa saudaranya sendiri untuk memenuhi nafsu perutnya.

Manusia diamanahi Allah agar menjadi khalifah, menata dunia, melakukan penataan-penataan organisme yang menghasilkan organisasi.
Foto: Hariadi.

Sebelum membaca doa penutup, Cak Fuad menyampaikan sikap kunci yang layak dijadikan kesimpulan atas pembahasan tema binatang dalam Al-Quran. “Isi Al-Quran merupakan pelajaran bagi kita. Ketika Al-Quran mengecam orang-orang Yahudi yang tidak bersyukur dan berterima kasih, bukan dalam rangka mengecam Yahudi saja, tapi juga memperingatkan kita semua. Jangan-jangan kita berperilaku seperti mereka. Sebab, kita sering merasa ketika Al-Quran mengecam suatu golongan atau perilaku tertentu sasarannya adalah pihak yang selain kita. Padahal tidak mentutup kemungkinan kita juga melakukan kesalahan yang sama,” kata Cak Fuad.

Merasuk dalam nuansa damai dan jernih membuat saya “lengah” tidak mencatat beberapa poin penting. Satu lontaran kalimat yang sarat makna dari Cak Fuad, Mbah Nun, Kyai Muzammil, Cak Dil serta para marja’ Maiyah lainnya menerbangkan asosiasi pikiran saya, menuju zona cakrawala pemikiran berikutnya. Sungguh nikmat.

Kenikmatan itu dipungkasi oleh nasihat Mbah Nun: “Ojo melang-melang. Ojo cilik ati, yo ojo kegedhen ati. Jangan kecil hati, (tapi ya) jangan berbesar hati!” Arek Maiyah pasti mengerti maksudnya. (Achmad Saifullah Syahid)

Buku dan Merchandise