Mundur Selangkah Belajar Kepada Binatang

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan, Jombang 8 Agustus 2017

Tema pengajian Padhangmbulan kali ini tergolong unik, baik dari sisi pilihan konten yang hendak dipelajari maupun struktur kalimatnya. Temanya adalah Binatang dalam Al-Quran: Posisi dan Fungsinya. Dari sisi konten saya merasa musykil — kita diajak belajar dari “perilaku” binatang. Padahal manusia adalah ahsanu taqwim, makhluk berdarah daging dan berakal. Ada apa ini? Apakah perilaku kita sudah sedemikian menyedihkan, bahkan berada di lembah kesesatan yang tidak dihuni oleh para binatang? Kal an’aami bal hum adlol?

Tidak perlu diseram-seramkan. Mosok binatang disuruh belajar kepada manusia? Tukas saya dalam hati. Makhluk berdarah daging dan berakal ini tentu bisa belajar dari apa saja di sekitarnya: belajar dari semut, angin, tanah, api, daun atau bahkan — maaf — tinja peradaban yang kita keluarkan setiap pagi. Pikiran saya mencari gathukan tema dengan realitas hidup sehari-hari serta kaitan maknanya. Yang membuat saya belum bisa fokus di menit-menit awal adalah mengapa Mbah Nun mengangkat tema seputar binatang, posisi dan fungsinya?

Majelis Masyarakat Maiyah Padhangmbulan Agustus 2017
Foto: Hariadi.

Surat Al-Qashash ayat 5 yang dibaca Mbah Nun setelah uluk salam menolong kegelisahan saya. Ayat ini menjadi tonggak untuk gondhelan agar tidak terombang-ambing oleh pikiran yang menebak-nebak. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi.”

Konteks sejarah ayat tersebut menceritakan kekuasaan Firaun yang sopo siro sopo ingsun. Di tengah situasi represif Firuan yang membunuh setiap bayi laki-laki, Allah menurunkan karunia-Nya dengan menjadikan kaum yang tertindas sebagai pemimpin dan pewaris bumi. Gamblang sudah — Mbah Nun menjadikan ayat tersebut sebagai hulu-hilir terminologi untuk mendalami peran dan fungsi manusia di muka bumi. Namun, apakah kita sudah menyiapkan segala kebutuhan perangkat, software dan hardware, hingga pantas dan layak menjadi pewaris bumi?

Tema binatang dalam Al-Quran menawarkan perspektif yang menarik dan mendesak untuk dipelajari karena manusia makin terkurung oleh egoisme dirinya sendiri. Manusia merasa dirinya adalah pusat segalanya. Ia menyerap apa saja untuk memuaskan egoisme kekuasaan. Tuhan pun kalau harus manut dan tunduk kepada setiap regulasi duniawi ciptaan manusia.

Untuk itu salah satu sikap kunci yang kembali diingatkan Mbah Nun adalah bijaksana. “Kepandaian, kekayaan, kekuasaan semoga dipuncaki oleh kebijaksanaan. Apapun yang kita kerjakan output-nya harus kebijaksanaan,” tegas Mbah Nun.

Mengapa sikap kunci ini diulang-tegaskan kembali? Tengah berlangsung keterpelesetan massal yang nyaris menimpa semua lini kehidupan. Orang berdebat soal warna dengan sesama buta warna. Orang mempertengkarkan siang dengan malam, tinggi dengan rendah, kiri dengan kanan. Sikap yang akurat atau titis sebagai acuan kualitatif sikap bijaksana sulit ditemukan. Semua serba miring-miring.

Apabila sikap yang jernih-bijaksana adalah setoran kepada Allah, maka kita harus mulai sregep dan sungguh-sungguh menggarap diri dan menangani sesuatu. Pewaris masa depan bumi diberikan kepada mereka yang titis, jernih dan bijaksana. Tidak tersesat di pusaran arus polemik yang terpolarisasi, misalnya oleh framing api itu lawannya air, siang lawannya malam, tinggi lawannya rendah.

Mbah Nun juga melengkapi pengantar awal dengan mengingat kembali proses penciptaan fii sittati ayyamin. Enam tahap evolusi ini sengaja diurai kembali untuk meneguhkan kenyataan bahwa kita tengah berada di tahap evolusi keempat, di mana manusia beranggapan dirinya adalah juragan. Apabila dikaitkan dengan tema pengajian malam itu, berada di evolusi tahap keempat tidak otomotatis dimuati oleh kandungan substantif sifat kebijaksanaan pada evolusi sebelumnya. Manusia bahkan cenderung menghewankan diri. Fakta bahwa proses evolusi telah terpenggal dan tidak diwataki oleh kontinuasi tahap sebelumnya untuk melangkah ke tahap evolusi selanjutnya adalah tabungan bencana yang menimpa peradaban saat ini.

Diperlukan presisi dan kejujuran menatap itu semua. Kenyataan bahwa organisme alam dan dunia binatang itu yusabbihu lahu maa fissamaawati wa ma fil ardl — mereka bertasbih kepada Allah — menempatkan manusia tidak terutama sebagai pusat, melainkan menjadi bagian dari rangkaian “butiran-mata” tasbih. Manusia bukan pusat pengendali, melainkan dikendalikan oleh Perputaran Agung Butiran Tasbih. Manusia adalah abdullah, hamba Allah, buruh, pelayan. Pada batas kesanggupan itu manusia harus sujud kepada Tuhan sebagai pemegang otoritas mutlak pencipta alam semesta.

Untuk memasuki tahap evolusi selanjutnya kita memerlukan kuda-kuda kontinuasi sekaligus proyeksi terminologi ke depan. Mempelajari binatang dalam Al-Quran tidak terutama untuk menambah pengetahuan pelajaran Biologi, melainkan untuk menyadari sepenuhnya bahwa kita adalah bagian dari organisme yang diciptakan Allah.

“Maiyah tidak boleh merebut siapa-siapa,” tegas Mbah Nun.
Foto: Hariadi.

Tidak sekadar atau semata-mata menjadi salah satu penduduk alam semesta, manusia dipinjami kemampuan mengelola alam tanpa perlu menyakiti atau merusaknya. Mbah Nun lantas merefleksikan kepemimpinan Rasulullah selama sepuluh tahun di Madinah. Konstitusi Madinah adalah hasil rembug bareng warga kota. Kehadiran Rasulullah menemani penduduk Madinah tak ubahnya seperti kehadiran seorang pawang.

Lontaran terminologi kepemimpinan yang disampaikan Mbah Nun mungkin terkesan acak, melompat-lompat dan melingkar-lingkar, namun akan segera kita temukan benang merahnya ketika kita ingat kembali model Kepemimpinan Lebah yang pernah Beliau sampaikan di pengajian Padhangmbulan bulan sebelumnya. Kesimpulan saya pun menguat — tidak masalah manusia menjalani laku kepemimpinan selama produk yang dihasilkan adalah kebijaksanaan.

Demikian pula kehadiran “pawang” bernama Maiyah yang dipastikan tidak akan mengancam siapa-siapa. “Maiyah tidak boleh merebut siapa-siapa,” tegas Mbah Nun. “Kalau ada orang Muhammadiyah ikut Maiyahan, tujuannya adalah agar ia menjadi lebih Muhammadiyyin. Kalau ada Nahdliyyin ikut Maiyahan, tujuannya adalah agar ia menjadi orang NU yang lebih ngerti, lebih temenan, lebih khittah. Maiyah bukan tempat, bukan wadah, bukan organisasi, bukan ormas. Kita berkumpul Maiyahan untuk silaturahmi dan paseduluran — ikatan persaudaraan yang murni dan suci.”

Asosiasi saya bergerak dan menemukan rujukan simbol: Maiyah adalah “katalisator” untuk menemukan kembali peran dan fungsi kita yang otentik. Di majelis ilmu Maiyah kita mencari kembali keotentikan dan keutuhan manusia. Maiyah seperti tanah yang apabila ditanami benih jagung akan tumbuh jagung. Ketika ditanami padi akan tumbuh padi. Tanah Maiyah tidak akan mengubah jagung agar berbuah semangka — apalagi men-jagung-kan padi dan mem-padi-kan jagung. Di tanah Maiyah jagung dan padi tetap otentik tumbuh sebagai jagung dan padi. Maiyah adalah organisme bukan organisasi.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image