Mulailah Menyebut Rumah Sakit dengan Rumah Sehat

Catatan Sinau Bareng Ultah RS Fatma Medika, Gresik 11 Maret 2017

Pukul sembilan malam Cak Nun dan KiaiKanjeng beserta jajaran pembicara lengkap hadir di panggung. Jamaah penuh dan padat seperti di berbagai kesempatan Maiyah. Meskipun judul acara adalah malam Ulang Tahun ke-3 Rumah Sakit Fatma Medika Gresik, yang hadir bukan hanya para pekerja rumah sakit berikut suster dan dokternya saja. Tetapi juga warga sekitar dan banyak anak-anak muda usia sekolah.

Lokasi Sinau Bareng 11 Maret 2017 berada kurang lebih 19 km dari pusat Kota Gresik. Tepatnya Lapangan Stock Pile Bungah Gresik. Perjalanan menuju lokasi jika dari arah Surabaya maka harus menyusuri jalur pesisir pantai utara Jawa yang keadaannya tidak terlalu mulus ketika musim hujan.

Sinau Bareng Gresik 11 Maret 2017

Sekitar dua kilometer sebelum lokasi jalan rusak dan hampir berlubang sepanjang ruas. Tidak jarang pada kondisi hujan deras dan air pasang sebagian jalan raya menyatu ketinggian airnya dengan tambak garam di kanan-kiri jalan. Keadaan itu diperparah dengan pembangunan kawasan industri yang semakin pesat dan menyulap banyak tambak beralih fungsi menjadi pergudangan atau pabrik. Gambaran seperti itu, banjir dan jalan rusak, menjadi salah satu keluhan yang disampaikan beberapa jamaah kepada Cak Nun saat pertama kali memberikan kesempatan berdiskusi bersama.

Fardlu Kifayah Mengobati Orang Sakit

Manusia harus senantiasa memacu dirinya untuk berpikir. Allah menganjurkan manusia untuk berpikir sebab dari sanalah ia temukan dinamika berdzikir, yakni mengingat Allah melalui segala ciptaan-Nya. Ada tiga hal yang menjadi pembuka pintu jamaah untuk Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng tadi malam.

Dimulai dengan pemahaman mengenai istilah ‘Rumah Sakit’ yang lazim dipakai hingga sekarang. Di hadapan Mas Alif (Dr. H. Asluchul Alief Maslikhan) selaku direktur Rumah Sakit Fatma Medika, Cak Nun menyatakan bahwa perlu ada yang menginisiasi penggunaan istilah ‘Rumah Sehat’ sebagai pengganti ‘Rumah Sakit’. Orang yang datang berobat ke Rumah Sakit bukan lantaran ingin dinyatakan sebagai orang sakit, akan tetapi supaya dirinya sembuh dari penyakit yang diderita.

Hal kedua yang disampaikan sebagai dasar pemahaman adalah mengenai istilah ‘Pemerintah’.  Sebagaimana ‘Rumah Sakit’ yang sejatinya adalah ‘Rumah Sehat’, kekeliruan berpikir pada kata Pemerintah adalah justru sebutan itu diberikan kepada mereka yang dibiayai dan dimandatkan oleh rakyat untuk mengurusi suatu wilayah pekerjaan negara. Sehingga prinsip dan atmosfer proses kerjanya bukan melayani, namun merasa superior memerintah ke rakyatnya. Sengaja dikaitkan demikian agar prinsip melayani dalam melakukan pekerjaan  selalu diterapkan.

Melengkapi kedua landasan berpikir di atas, Cak Nun menekankan pentingnya peranan Rumah Sakit dalam masyarakat. Seluruh komponen yang terlibat di Rumah Sakit hukumnya wajib untuk menyembuhkan pasien. Fardlu Kifayah hukumnya menolong orang sakit. Maka orang-orang yang berdedikasi membangun rumah sakit pahalanya setingkat dengan mengerjakan ibadah yang hukumnya fardlu kifayah. Ketika menemui orang dengan keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan, yang harus diprioritaskan pertama kali adalah memberinya bantuan sebisa mungkin. Wajib Kifayah mengobati orang yang sakit. Bukan kemudian menanyai terlebih dahulu siapa dan bagaimana latar belakangnya.

Sinau Bareng Gresik 11 Maret 2017

Bolehkah mencari rezeki dari orang yang sedang sakit? Pertanyaan Cak Nun tersebut memicu reaksi ekspresif sebagian jamaah yang mungkin pernah menghadapi mahalnya biaya kesehatan. Berangkat dari pertanyaan itu, Cak Nun menarik sudut pandang yang ditujukan ke sisi konsumen jasa rumah sakit. Pasien, sebagai pihak yang telah diberikan pertolongan juga berkewajiban  bersyukur dengan takaran terstandar. Ukuran rasa syukur pasien yang tidak sama per orangnya kemudian memunculkan bilangan tetap jumlah yang mesti dibayarkan kepada dokter. Tarif yang dikenakan kepada pasien adalah perwujudan tingkat rasa syukur dan kebijaksanaan dalam berbagi rezeki.

Tidak boleh kemudian pasien dan dokter saling menuntut kepentingan melampaui batas. Dengan demikian proses yang terjadi adalah timbal-balik yang baik, bukan dengan alasan kapitalis atau pengambilan keuntungan sebesar-besarnya dalam memanfaatkan orang yang sedang sakit.

Membuka Pintu Gerbang Zaman Baru

Setelah memberikan selasar pengetahuan di mula acara, Cak Nun lantas memberi kesempatan kepada jamaah untuk mengungkapkan apa saja permasalahan yang ingin diurai bersama. Beberapa jamaah langsung menuju ke panggung, sebagian besar penanya saat itu dari generasi muda. Ini adalah energi tersendiri, karena para pemuda yang terlibat aktif bersinau bareng memberi gambaran cerahnya masa depan Indonesia. Salah satu penanya yang menarik perhatian bernama Habib Yahya. Kegelisahan dari monolog dirinya selama ini bukan hanya mengenai pertanyaan seperti ‘Bagaimana cara seluruh manusia pada saat hari kiamat dikumpulkan di padang mahsyar?’ – tetapi sampai pada keinginan agar setiap kecamatan di Kabupaten Gresik difasilitasi untuk punya alat musik tradisional. Harapan Habib berusia 17 tahun tersebut disampaikan pada Bapak Sambari selaku Bupati Gresik yang saat itu turut mendampingi Cak Nun di atas panggung. Dari pernyataan tersebut Bapak Sambari menanggapi dengan antusias serta mengapresiasi keberaniannya.

Sebagai kota pintu gerbang sejarah dan pintu gerbang Islam, Gresik oleh Cak Nun diharapkan menjadi pintu gerbang zaman baru dengan generasi-generasi mudanya. Melalui semangat  mengakrabi kembali kebudayaan, pemuda Gresik harus mampu menemukan apa saja potensi yang bisa dikembangkan di masing-masing wilayah.

Semangat generasi muda harus diperkuat dengan mental yang tidak mudah dipecah belah. Melalui contoh-contoh irama musik dari beragam tempat asalnya, KiaiKanjeng menunjukkan perbedaan karakteristik nada yang dimainkan untuk sholawatan.

Sinau Bareng Gresik 11 Maret 2017

Mas Islamiyanto KiaiKanjeng bahkan sempat mengubah suasana mendadak magis tatkala membacakan ayat kedua surat Al-Baqarah dengan khas nada Arab. Cak Nun mencoba mengenakan irama yang sama namun dengan lirik sholawat. Dilanjutkan dengan sholawat yang hanya diiringi dengan terbangan atau rebana. Semua cuplikan komposisi tersebut menunjukkan bahwa setiap perbedaan sesungguhnya tidak melulu menimbulkan perpecahan.

Sholawat sendiri bisa “dimainkan” dengan berbagai macam cara. Bahkan, sebutan musik religi sebenarnya tidak hanya dilekatkan pada shalawatan, jenis musik berlirik Islami, atau yang ke-arab-araban. Segala musik yang muaranya mendekatkan diri dengan Tuhan lebih tepat mendefinisikan apa itu Musik Religi.

Tut Wuri Handayani: Posisi Kepemimpinan Tertinggi

Kegelisahan akan isu perpecahan dan rapuhnya kedaulatan karena semakin banyak sumber daya alam yang tidak dikuasai oleh pribumi disampaikan oleh Mas Ipung (H. Syaiful Arif Maslichan). Beliau menyampaikan keresahan akan lemahnya pribumi di hadapan orang asing dan persaudaraan sesama muslim yang kurang kuat.

Bagi Cak Nun sendiri, pribumi harus punya pertahanan batin yang kuat. Tidak mudah sakit hati melihat pencapaian orang lain dan menghilangkan kebencian kepada nonpribumi. Apa yang sedang kita hadapi bersama adalah ketidakpercayaan akut di antara masyarakat. Warga negara memerlukan Kartu Tanda Pengenal sebab semacam ada asumsi dasar bahwa setiap manusia pada dasarnya tidak bisa dipercaya. Manusia dianggap perlu diatur agar bisa hidup sesuai aturan. Akan tetapi pembangunan manusia sendiri tidak pernah benar-benar serius dilakukan. Para pendidik tidak memberikan pemahaman esensi pengetahuan, tetapi hanya mengajarkan agar muridnya bisa lulus dan bisa mengajar. Dakwah mengajari, bukan berdakwah agar yang didakwahi menemukan kenikmatan batin dirinya sendiri.

Sinau Bareng Gresik 11 Maret 2017

Dalam Maiyahan, kenikmatan batin yang dimaksud adalah ketika jamaah melakukan baik tidak karena dia diatur. Tetapi berbuat baik karena keinginan berbuat baik itu. Karena dalam diri sudah menemukan nikmatnya berbuat kebaikan. Misalnya ketika Maiyahan seluruh jamaah tertib dari datang, duduk, sampai dengan pulang dengan tertib. Tanpa diaba-aba harus lewat mana dan antri seperti apa.

Dalam ilustrasi yang menarik, Cak Nun menggambarkan bagaimana gaya kepemimpinan para pengayom. “Di mana-mana, orang ‘angon’ itu posisinya di belakang. Bebek, Kerbau, Kambing, Sapi, posisinya di depan penggembalanya. Tetapi justru itulah posisi kepemimpinan tertinggi: Tut Wuri Handayani. Bersedia mengayomi.”

Naluri posisi pengayom yang cinta damai dan toleran telah dimiliki oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Karena itu pribumi harus mampu menampung dan merangkul banyak perbedaan dalam kasih-sayang. Tidak boleh membenci sesama hamba Allah. Kepada selain pribumi Cak Nun juga mengingatkan agar kita banyak belajar dari sikap hidup dan ketekunan yang mereka miliki. Agar suatu saat ketika hidup sudah lebih dari cukup secara materiil tetap loman pada sesama.

Pukul 00.26 dini hari, gerimis kecil ikut mengiringi komposisi One More Night – Maroon Five oleh  KiaiKanjeng. Musik yang rancak menarik salah satu jamaah untuk bergoyang di atas panggung dan diikuti oleh keceriaan jamaah lain dari tempat duduknya masing-masing. Beberapa bahkan berposisi agak menegakkan badan untuk menangkap momen di panggung dengan gawai masing-masing. Suasana semakin bersemangat lagi ketika Mas Doni jeda bernyanyi untuk mengajak Mas Jijit dan Pak Nevi bercengkrama membawa jamaah berinteraksi. Mas Imam mengantarkan jamaah pada irama dangdut dengan lagu Beban Kasih Asmara, masih bersemangat para jamaah untuk bergoyang dangdut dari posisinya masing-masing. Tak ketinggalan nomor Perahu Layar yang dinyanyikan bersama oleh tamu yang hadir di atas panggung.

Membangun Kota Santri di Dalam Diri

“Barangsiapa meremehkan lima perkara, maka dia akan merugi atas lima perkara. Barangsiapa meremehkan ulama, maka dia akan merugi dalam hal agamanya. Barangsiapa meremehkan pemegang kekuasaan (pemerintah), maka dia akan merugi dalam hal keduniaannya. Barangsiapa merehkan tetangga, maka dia akan merugi dalam hal kemanfaatan. Barangsiapa meremehkan kerabat, maka dia akan merugi dalam hal kasih sayang. Barangsiapa meremehkan keluarganya, maka dia akan merugi dalam hal penghidupan yang baik.” Hadits Nabi Muhammad ini dibacakan oleh salah seorang narasumber yang menemani Cak Nun di panggung. Beliau mengingatkan agar kita tidak mudah saling membenci kepada sesama. Senada dengan Beliau, Kapolres Gresik menambahkan bahwa tindak kejahatan yang terjadi sesungguhnya adalah cerminan dari kondisi komunitas masyarakatnya. Maka masing-masing harus bersama menjaga kerukunan agar tidak mudah diadu domba.

Sinau Bareng Gresik 11 Maret 2017

Melalui Pohon Jati, Cak Nun memberi contoh bagaimana kisah Orang Jawa memberikan penamaan pohon. Jawa sangat memperhatikan kesejatian (Jati) hidup. Oleh karena itu Pohon Jati dinamai demikian karena karakternya yang kuat, tahan lama, dan bisa diandalkan. Jati juga banyak menjadi awalan nama jalan di Jawa, begitu pula Tanjung, Mojo, dan selanjutnya. Bahkan sejak dahulu nenek moyang kita melibatkan nilai-nilai keluhuran dalam memberikan identitas.

Dalam epilog Pak Bupati yang menyampaikan bahwa Beliau berencana membangun kawasan-kawasan religi di beberapa tempat di Gresik, Cak Nun menyarankan agar kawasan tersebut tidak hanya bangunan fisik saja. Tetapi juga membangun Islamic centre dalam diri sendiri. Dengan demikian Gresik tetap bangga pada marwahnya sebagai Kota Wali dan Kota Santri.

Selain ragam tema dan kekayaan musik KiaiKanjeng, para jamaah menikmati Sinau Bareng ini dengan penuh kenikmatan dan kejenakan. Bahkan, penyelenggara menyiapkan makan dan minum buat para Jamaah. Namunn mereka diminta untuk tidak makan pas berlangusung sesi-sesi Sinau Bareng. Mas Alief dalam sambutannya mengajak semua jamaah khusyuk menikmati persembahan KiaiKanjeng dan dhawuh Cak Nun. Mas Alief sangat menekankan agar jamaah benar-benar menyimak uraian dan wawasan dari Cak Nun. Hingga akhir acara, harapan itu tampaknya sangat terpenuhi. (D. RatuViha).

Pukul sembilan malam Cak Nun dan KiaiKanjeng beserta jajaran pembicara lengkap hadir di panggung. Jamaah penuh dan padat seperti di berbagai kesempatan…