Mudik Ke Keluarga Indonesia

Ceritanya ini juga tentang Idul Fitri, lebaran, dan mudik. Saya membayangkan tidak semua orang yang meninggalkan kampung halaman atau tanah kelahiran untuk bekerja di kota-kota urban atau perantauan punya waktu untuk sering-sering menengok tempat asal yang telah ditinggalkannya baik untuk sementara waktu maupun telah menetap di tempat baru.

Itu sebabnya, boleh dipahami kalau orang sangat merlokke pulang ke kampung halaman saat lebaran tiba. Biarpun teknologi komunikasi telah begitu rupa–sampai kita tak merasakan lagi harga sebuah kecanggihan–menyediakan kemudahan buat ngobrol jarak jauh, dari yang hanya suara hingga suara sekaligus rupa, minal voice call ilal video call, pulang bertatap muka, menghirup langsung udara, dan merasakan suasana lingkungan yang telah lama ditinggalkan tak bisa sepenuhnya digantikan oleh kemudahan teknologi itu. Maka setidaknya mudik itu memang ada artinya.

Walaupun tidak termasuk pemudik dari Ibukota, saya pun turut mengalirkan diri dalam pergerakan orang-orang yang sedang otw menuju kampung halaman masing-masing. Alhamdulillah saya juga punya kampung halaman. (Hehe). Sebagaimana orang-orang punya rasa, refleksi, dan makna akan Idul Fitri dan Mudik, jelek-jelek saya pun juga punya.

Bagi saya mudik membuat saya lebih dekat pada deretan “dunia kecil”. Dengan intensi yang sedikit lebih tinggi. Dunia kecil itu mungkin adalah kampung halaman, keluarga-keluarga tetangga atau saudara kita, desa atau kota kecil tempat kita dilahirkan, atau satuan-satuan sosial yang ada di dalamnya. Dunia yang barangkali selama ini sudah bukan lagi dunia utama kita, karena dunia utama kita adalah dunia kerja kita saat ini, meskipun kita sadar dunia kecil itu selalu menempati sudut sunyi di lubuk hati kita.

Karenanya, mudik beberapa hari ini mengantarkan saya menyaksikan, dengan mata kepala dan rasa, berlangsungnya pergerakan (perubahan, pergeseran, dan atau perkembangan) pada dunia-dunia kecil itu. Pergerakan itu adakalanya memprihatinkan, mencemaskan, atau setidak-tidaknya tidak seperti yang kita harapkan sejak dulu, namun tetap tak sedikit yang bersifat menggembirakan.

Sebagai contoh yang paling utama, pada waktu berkunjung ke tetangga, saya melihat anggota keluarga tetangga ini pada berkumpul. Orangtua mereka, kadang tinggal salah satu saja, sudah sepuh, dan anak-anaknya yang tersebar di berbagai kota itu pulang kampung semuanya lengkap dengan suami-istri dan anak-anaknya. Saya melihat (gerak) mereka memuliakan orangtua yang selama ini telah membesarkan mereka. Mereka sungkem satu per satu. Kemudian bersama-sama mereka menerima tamu-tamu atau sebaliknya berombongan bertamu ke tetangga utamanya tetangga yang lebih tua. Pada titik ini saya mencerap suasana keluarga yang indah dan bahagia.

Menariknya, secara umum fenomena itu berlaku tak pandang bulu latar belakang sosial-ekonomi mereka. Entah dalam keadaan seperti apapun tetap tampak pada mereka semangat dan kegembiraan berkumpul bersama anggota keluarga di hari raya. Pada saat seperti itulah dapat dirasakan per keluarga adalah keluarga yang indah, guyub, dan solid oleh sebuah ikatan nilai yang amat lembut tetapi kuat.

Tatkala berjalan kaki dalam rangkaian unjung-unjung di Hari Raya itu tanpa sengaja kepala saya menoleh ke rumah seseorang atau ketika saya baru uluk salam buat bersilaturahmi ke rumah tetangga, sesaat ketika itu terlihat seluruh anggota keluarga rumah sedang komplet duduk semua di ruang tamu dengan pancaran wajah gembira, meja ruang tamu dilengkapi hidangan, sekali lagi saya merasakan sesuatu yang mengisyaratkan adanya satuan bernama keluarga.

Saya lalu teringat dan membenarkan keterangan Mbah Nun, bahwa kesungguhan dan penghargaan yang tinggi pada nilai-nilai keluarga (satuan sosial terkecil di dalam masyarakat) adalah benteng pertahanan terakhir yang membuat Allah menunda murka-Nya pada kita ketika alasan untuk itu barangkali tersedia secara politik pada tingkat elit. Kalau masyarakat sebagai grassroot kehidupan tidak lagi mengindahkan nilai keluarga, entah kayak apa nasib yang menimpa bangsa kita.

Selain berkunjung ke tetangga, saya juga menerima kunjungan saudara-saudara dari kakek-nenek. Ada yang datang dalam rombongan besar, yang saya tak mampu mengenali satu per satu sebagian dari mereka selain sang ayah-ibu yang saya memanggilnya Lek atau Bulek. Anak-anak mereka sudah pada besar-besar dan sebagian telah menikah. Yang sudah punya anak pun mereka bawa anak-anaknya. Saya bergumam, masyaAllah, Maha Besar Allah, dari sepasang suami-istri yang hanya dua orang bisa lahir anak-cucu yang sebegitu banyak. Tidakkah ini sebuah kekuatan? Dan lagi, kalau tidak pas lebaran, bisa saja kesempatan bertemu dalam kelengkapan seperti ini sulit terjadi.

Bertumbuh, berkembang, dan berjalannya kehidupan sebuah keluarga dapat terlihat rasa atau titik-titik indikatornya pada interval waktu tahunan. Saat mudik dan lebaran sebagian dari aliran dan getaran perkembangan keluarga-keluarga itu muncul dan tampak oleh kita. Sadar atau tidak, setiap kali bertemu, orang atau di antara sesama saudara dekat atau jauh, kerabat dan teman lama akan saling berkabar serta bertukar informasi. Saling menanyakan ini dan itu. Saling berbagi berita dan apa-apa yang selayaknya perlu diketahui.

Persis pada momen itulah, saya mendapatkan kesempatan mendengarkan kabar atau informasi yang barangkali terlewatkan selama ini, semisal ada anggota keluarga jauh yang sudah meninggal dunia, sedang sakit, atau mengalami apa. Ragam informasi itu cukup banyak. Saya misalnya juga tahu si dia yang kemarin masih remaja atau masih kuliah sebentar lagi akan menikah atau sudah bekerja di perusahaan apa atau di mana.

Ada yang rasanya belum lama kemarin masih unyu-unyu dan kurcaci, sekarang sudah tumbuh menjadi remaja atau sebentar lagi menapak dewasa. Perubahan-perubahan fisik pun tampak menyertai dan dapat dilihat pada diri mereka. Kemarin ada yang masih jomblo cukup lama dan kini sudah mulai sold out. Yang kemarin-kemarin saya tak sempat ketemu, sekarang ketemu sudah nggembol anak dua atau lebih.

Selalu ada info-info terbaru dari keluarga-keluarga (Indonesia) itu dalam siklus satu tahunan yang kita peroleh pada saat kita mudik dan lebaran. Sebenarnya, dari sudut ini para mahasiswa yang sedang mendalami Sosiologi Keluarga layak mencermati momen-momen keluarga pada saat berlebaran seperti saat ini. Ada banyak hal layak dicatat dari situ.

Tidak hanya pada skala keluarga. Saya juga mendengarkan dan melihat aliran kehidupan pada skala lebih besar lagi. Jika beberapa tahun lalu, saya mendengar, misalnya, keluhan akan menurunnya kegiatan keagamaan di kampung ini karena minimnya SDM yang dibutuhkan, kini alhamdulillah keadaan itu telah berubah. Anak-anak kecil sudah pada rajin belajar membaca al-Qur`an, bahkan selama Ramadhan kemarin mereka sudah aktif tadarus al-Qur`an di Mushalla usai shalat Tarawih. Penyampai-penyampai kultum pun bagus-bagus dan relatif masih muda semua. Masyarakat senang kembali karena kehidupan keagamaan di kampung dapat berlangsung dengan baik lagi.

Itu beberapa contoh saja dari yang saya alami. Bahwa di dalam aliran waktu, ada tangan-tangan yang bekerja sehingga sejarah terus berjalan pada satuan-satuan dunia kecil itu. Mudik memberi kesempatan kita merasakan bahwa ada aliran yang berjalan di bawah maupun di atas permukaan. Hidup bukan hitam putih melainkan getaran yang mengalir dan aliran yang bergetar. Demikian kata Mbah Nun.

Ini pun masih dapat diperluas. Pada lingkup kota, saya merasakan hal yang sama. Perubahan-perubahan kota bisa kita amati atau rasakan. Apakah suasana lalu lintasnya, jalan-jalannya, tempat-tempat lama yang telah menjelma tempat baru (menjadi toko atau minimarket), atau detail-detail kontras yang dapat kita cermati di berbagai sudut kota.

Walau sejenak, pulang kampung pada saat libur Hari Raya, memberi kita kesempatan mengendus rohani keluarga-keluarga, kehidupan kota, desa, kampung, atau tanah kelahiran yang menjadi akar sejarah hidup kita itu dalam perspektif pergerakan waktu. Di dalam waktu itulah, begitu banyak hal berlangsung.

Ketika keluar rumah dan berjalan menyusuri kota itu, kita pun menjumpai sesuatu yang masih bertahan dari masa silam, dan sesuatu yang baru yang sedang berlangsung. Bahkan kita menemui orang-orang yang masih ada dari sewaktu kita masih kecil atau remaja, atau kita tak lagi menjumpai sebagian orang-orang yang dahulu atau pada tahun-tahun lalu masih kita lihat. Ada orang-orang yang masih hidup dan ada sebagian yang telah mendahului kita menghadap Allah. Di situ, terasa bahwa ada pergerakan formasi dan re-formasi dalam kehidupan yang tak bisa dielakkan.

Dengan mudik pun, kerap saya menyadari dan merasakan bahwa waktu terus berjalan. Setiap kali saya sowan ke rumah orang yang sudah sepuh, sesekali saya melihat beberapa perabot rumah (apakah lemari, kursi, atau televisi) yang masih dipelihara dan dipertahankan sedari dulu. Itu barang lama yang umurnya sudah puluhan tahun yang masih bertengger. Dan itu menjadi penanda bahwa umur saya merambat terus.

Saya menikmati segala yang saya jumpai dalam perspektif aliran dan getaran pada setiap fragmen lebaran atau Idul Fitri. Aliran dan getaran kehidupan dalam lorong waktu dan sejarah pada keluarga-keluarga, masyarakat, kampung halaman atau kota kelahiran. Dalam semua itu, diam-diam saya lebih banyak mendengar, entah saat saya bertamu ke tetangga sembari dipersilakan menikmati jajanan lebaran atau saat saya mendampingi ibu atau kakak adik menerima tamu-tamu.

Demikianlah, dunia-dunia kecil bernama keluarga (Indonesia) menghadirkan potret dirinya pada momentum Idul Fitri dan silaturahmi tatap muka hadir sebagai sarana terkuatnya. Tentu tak hitam putih kita merasakan dan memotret potret keluarga Indonesia. Ada detail-detail yang tak ter-cover seluruhnya. Tetapi secara keseluruhan, keluarga-keluarga yang saya temui, dalam perspektif getaran dan aliran ini, menempuh perjalanan waktu dengan kecenderungan sangat kuat menjunjung nilai-nilai keluarga. Keluarga tetap yang utama dan diutamakan.

Keluarga yang seperti itulah yang kiranya layak menjadi tujuan mudik, dan biasanya memang ngangeni.

Cepu, 26 Juni 2017

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image