Momentum Kholidina Fiiha Abada

Salah satu yang saya syukuri pada lebaran Tahun ini adalah saya masih aktif bermaiyah baik dengan cara menghadiri acara Maiyahan, membaca tulisan di website Lingkar Maiyah yang ibu informasinya ada di caknun.com, membaca buku-bukunya Mbah Nun, atau melihat video-video pada channel YouTube caknun.com. Tentunya tidak semua acara, tulisan, buku dan video saya hadiri, baca dan lihat. Hanya semampu saya saja.

Saya hitung, tahun ini adalah tahun ketiga saya aktif bermaiyah. Masih semester awal. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Mbah Nun bahwa sebenarnya ikut Maiyahan satu kali saja sudah cukup, dan saya merasakan bahwa dalam tiga tahun ini saya merasa lebih dari cukup. Perasaan lebih dari cukup itu segera saya hilangkan supaya saya bisa aktif terus bermaiyah.

Saya mengatakan lebih dari cukup bukan karena lebay, hiperbola, supaya terdengar wah. Saya mengatakannya karena semenjak ikut Maiyahan benar-benar merasakan banyak perubahan dalam hidup. Saya ikut maiyahan tidak pernah berharap apa-apa. Pokoknya ikut saja. Mendengarkan, berpikir, menikmati indahnya alunan musik KiaiKanjeng, kadang-kadang tertawa. Lengkap.

Mungkin tidak bisa saya ceritakan secara detail apa bentuk perubahannya. Karena takut tergelincir dan terpeleset menjadi riya, takabur. Yang pasti, perubahan tersebut tolok ukurnya bukan ilmu katon, apalagi materialisme. Perubahan yang mendasar, substansif yang output-nya suatu kebermanfaatan, baik untuk diri saya atau orang lain.

Salah satu yang saya rasakan di Maiyahan adalah saya benar-benar merasa belajar. Saya bisa berpikir tanpa beban, loading banyak hal dari berbagai pancingan-pancingan yang dihadirkan banyak narasumber di acara-acara maiyahan, juga yang dihadirkan Mbah Nun melalui tulisan-tulisan ataupun video-video, serta melalui berbagai puzzle lain yang tersebar di lingkar Maiyah ataupun efek dari adanya Maiyah.

Hal tersebut bukan hanya bersifat teoritis akademik yang kaku seperti di sekolah-sekolah atau universitas yang seringkali hanya ngambang di awang-awang. Ada sesuatu yang berbeda di Maiyah. Tidak bermaksud GR, tetapi saya merasa bahwa beriringan dengan ilmu yang terus loading di pikiran karena bermaiyah Allah mengarahkan kehidupan saya untuk mempraktikkan (tidak secara teknis, pragmatis seperti petunjuk manual perakitan kipas angin) ilmu-ilmu tersebut dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Inilah yang saya sebut perubahan. Selama saya bersekolah dari TK sampai lulus kuliah, saya belum pernah merasakan suatu pola di mana saya mempelajari sesuatu kemudian Allah seperti mengarahkan sesuai dengan apa yang saya pelajari. Baru setelah aktif Maiyahan saya mengalaminya.

Dengan berbagai karya yang tercipta dengan proses, cara, bentuk, kreativitas yang bermacam-macam yang menyentuh seluruh bidang kehidupan karena hidayah Allah melalui melalui Maiyah yang tersebar seperti puzzle di seluruh dunia. Sebagaimana yang pernah diutarakan di acara Maiyahan baik melalui Mbah Nun atau narasumber yang lain, saya yakin bahwa Maiyah adalah Goa Ashabul Kahfi dan Kapal Nuh bagi orang-orang yang dilindungi Allah, juga perwujudan Al-Maidah ayat 54. Yang tinggal menunggu momentum saja untuk menjadi aktor dalam kehidupan hari ke 6-nya Allah.

Menunggu momentum bukanlah hal yang mudah. Perlu kesabaran ekstra luar biasa untuk terus ber-iqra’ tanpa henti. Untuk terus memelihara keintiman dan kemesraan dengan Sang Sejati. Untuk terus tidak menghianati Sang Kekasih. Untuk selalu waspada supaya Sang Kekasih tidak sakit hati kepada kita, karena kalau Sang Kekasih marah hidup kita tidak selamat. Dan harus lila legawa jika sampai akhir hayat kita, momentum yang kita tunggu-tunggu itu tidak kunjung datang. Karena sebenarnya tidak penting-penting amat momentum dalam ukuran duniawi. Momentum yang sebenarnya adalah sepanjang hidup itu sendiri yang bersifat kholidina fiiha abada.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image