Misquoting Mbah Nun dan Tata Krama Pengakuan

Entah apa gerangan yang membuat para anak manusia seringkali salah paham, terlebih akhir-akhir ini. Mulai dari persoalan yang sangat runyam, sampai hal yang teramat sederhana pun, tak luput dari kesalahpahaman. Bahkan sesuatu yang tampak sudah sangat jelas, nyatanya masih saja bisa terlihat kabur di pandangan orang.

Mungkin karena terlalu banyak informasi yang masuk, hingga otak kita gopoh-gopoh menerjemahkan maksudnya. Atau mungkin karena definisi kejelasan di antara kita yang tak lagi sama. Hingga ketika sang penyampai pesan sudah jelas bermaksud menyampaikan ‘putih’, misalnya. Nyatanya, yang ditangkap pendengar pun tak hanya ‘putih’ sahaja. Ada yang menangkap ‘hitam’, ‘hijau’, dan yang lainnya. Sebenarnya tak masalah, karena ini sangatlah manusiawi. Mengingat daya tangkap masing-masing orang yang tak sama. Asalkan, sudah ada usaha untuk menangkap informasi yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

Yang menjadi permasalahan adalah ketika kita berpuas diri. Kita sudah merasa benar dengan apa yang kita tangkap, tanpa ada usaha mencari yang lebih lagi. Atau, kita tahu bahwa informasi yang kita dapatkan tadi memang mengarah pada ‘putih’. Akan tetapi, karena kepentingan kita sendiri, dengan sengaja kita membelokkan pada warna yang bukan ‘putih’, yang bukan dikehendaki sang penyampai.

Bermodalkan Keseimbangan

Seperti halnya ketika kita mendengar pernyataan Mbah Nun tentang keberanian mengaku muslim. “Aku menyebut diriku muslim saja tidak berani.  Karena itu hak prerogatif Allah untuk menilai aku ini muslim atau bukan.” Kurang lebih begitulah quote Mbah Nun yang beredar di khalayak ramai. Dan mungkin masing-masing kita pun akan mempunyai penangkapan yang berbeda. Ada yang langsung paham dengan apa yang dimaksudkan, ada pula yang salah mengartikan.

Berbicara quote Mbah Nun, beberapa waktu lalu ada yang mengunggah sebuah foto kurang sopan disertai caption kutipan pernyataan Mbah Nun tersebut. Sebenarnya, sah-sah saja jika seseorang tersebut menyertakan sebuah foto perempuan dengan pakaian terbuka bersamaan dengan pernyataan Mbah Nun itu. Toh itu juga hak mereka. Hanya saja, kalau boleh berpendapat dan menilai, bukan ke arah sana sebenarnya yang dimaksud Mbah Nun melalui pernyataan itu. Memang hak prerogatif Allah untuk menilai kita ini muslim atau bukan, hingga tak ada keberanian dari kita untuk mengaku muslim. Akan tetapi, ini juga bukan berarti kita bisa semena-mena dalam bertingkah laku, lalu berlindung di balik pernyataan Mbah Nun.

Dalam memahami sesuatu, mungkin ada baiknya kita melihat beberapa sisi yang meliputi sesuatu itu. Termasuk terhadap pernyataan seseorang. Siapa yang mengatakan, dalam kondisi apa dikatakan, kepada siapa dikatakan, dan masih banyak lagi sisi-sisi lainnya.

Pernyataan Mbah Nun tadi, misalnya. Coba kita lihat, siapa yang mengatakan. Mbah Nun. Meskipun secara teks Beliau menyatakan demikian, tapi toh nyatanya Beliau juga tidak semena-mena dalam berperilaku. Tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang diajarkan Tuhan, menjaga kesopanan, menjaga hubungan Beliau dengan Tuhan dan juga dengan sesama.

Lagi-lagi, kalau boleh menarik analisis, apa yang telah disampaikan Mbah Nun tersebut bukanlah tanpa sebab. Pernyataan itu bukanlah pernyataan yang tiba-tiba saja ada tanpa ada yang melatarbelakanginya. Ibaratkan pernyataan Mbah Nun adalah persamaan fungsi kuadrat. Tentu ada variabel-variabel yang memengaruhinya. Dan kalau variabel tersebut tidak terpenuhi, tentu akan sangat memengaruhi keseimbangannya. Bisa-bisa, bukan keseimbangan yang akan didapatkannya.

Masih dalam pembacaan dan pemahaman sementara saya, variabel-variabel tersebut tak lain adalah kesungguhan kita dalam menjaga hubungan kita dengan Tuhan dan juga dengan sesama makhluk-Nya. Dengan kata lain, kita boleh-boleh saja meniru berucap sebagaimana yang telah dinyatakan Mbah Nun itu. Asalkan, kita pun juga telah berusaha semaksimal mungkin menjaga akhlak kita, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama.

Sekali lagi, kalau boleh berpendapat, ungkapan tersebut hanya wujud kesadaran kita. Bahwa sebaik apapun kita berupaya memperbaiki akhlaq kita, kita tetaplah bukan siapa-siapa. Kita tetap tidak punya hak untuk menilai diri kita. Apalagi sampai menganggap diri kita sudah baik. Karena bagaimanapun, kita tetap tidak tahu bahwa apa yang kita lakukan, apa yang kita upayakan memang sudah benar-benar memenuhi standar kebenaran-Nya. Kita juga tidak bisa memastikan, apakah kebenaran-kebenaran yang kita upayakan, benar-benar bisa sampai pada-Nya. Yang jelas, kita hanya bisa mengupayakan. Tentu dengan tetap mengharapkan petunjuk dan kasih sayang-Nya, sebagai penerang jalan dalam setiap pencarian kita. Kita juga hanya bisa membahasakan syukur terima kasih kita atas segala rahman rahim-Nya dengan terus berusaha mencari dan melakukan kebenaran, kebaikan, juga keindahan. Tanpa ada sedikit pun celah untuk kita menilai semuanya.

Dari sini, mungkin akan jauh lebih baik jika kita mau mencerna quote yang kita dapatkan dengan sebaik-baiknya. Kita coba rasakan lebih dalam lagi apa kiranya maksud dari informasi yang kita dapatkan itu dan bagaimana sangkan parannya. Dengan cara begitu kita pun bisa lebih meminimalisasi kesalahpahaman serta tidak akan memicu munculnya permasalahan. Sebab, menempatkan quote pada tempat atau konteks yang tidak tepat adalah juga sebentuk misquoting itu sendiri yang tidak patut dan kurang diperkenankan.  Wallahu a’lam bish-shawab.

Entah apa gerangan yang membuat para anak manusia seringkali salah paham, terlebih akhir-akhir ini. Mulai dari persoalan yang sangat runyam, sampai hal…