Mesu Diri, Mencari Tirta Pawitra Sari dan Kayu Gung Susuhing Angin

Kalau mau mengurusi politik ya terjun dong ke dunia politik. Kalau mau jadi Negarwan ya tampil dong di panggung nasional Negara yang kamu huni. Kok malah masuk hutan, bengong di tepi sungai, berlagak seperti pertapa, melanglang desa-desa, menjauh dari pusat masalah yang kamu pikirkan sampai hampir pecah kepalamu. Daur 184 – Einsten Nyuwuk, Socrates Selawatan

Teori Etis, Awal Dikotomi Ilmu Pengetahuan

Sejak penerapan Politik Etis oleh Van Deventer si Belanda itu, Pola pendidikan kita mulai berubah dari ngangsu kawruh ala kesatriyan bergeser ke model kurikulum sekolah. Tanpa sadar kita mulai meninggalkan jati diri kita sebagai bangsa yang kaya secara metode intelektual, menuju apa yang “orang barat” tawarkan sebagai permen manis setelah mereka merampok ladang tebu kita.

Kita meng-iyakan bahwa yang modern itu adalah apa yang orang Belanda lakukan, kita menjadi tidak percaya diri kepada diri sendiri sebagai bangsa yang punya peradaban tinggi dan mengamininya sebagai sebuah kebenaran, Lalu penilaian masyarakat akan seseorang yang bisa mrantasi masalah adalah mereka yang pernah sekolah di fakultas terkait, dan orang selain dari disiplin ilmu tersebut diyakini tidak bisa menyelesaikan.

Mungkin dalam pengaplikasiannya bisa untuk masalah-masalah yang detail dalam skala kecil, namun kerap kali dalam skala yang lebih kompleks yang terjadi tidak seperti itu, satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri ternyata tidak bisa menjadi solusi atas suatu masalah.

Ilmu-ilmu akhirnya berkaitan satu dengan yang lain, menjadi jalinan yang memang harus dielaborasi lebih mendalam bukan hanya fokus pada satu bidang. Seperti yang pernah diuraikan oleh Mbah Nun, Universitas adalah sebuah ruangan besar yang di dalamnya terdapat berbagai ilmu, bukan kamar-kamar ilmu yang dibatasi dinding satu dengan yang lain.

Sisa-sisa Kesatriyan

Sebenarnya di zaman ketika Teori Etis dijalankan, kita sudah punya sistem pendidikan yang sangat bagus, hanya karena “cap Kuno” yang dilontarkan kalangan feodal dan penjajah, indeks kepercayaan diri kita sebagai bangsa terus menurun, kebanggaan akan Nusantara luntur seiring arus zaman.

Semisal proses pendidikan di Pondok Pesantren sudah mengajarkan demikian, ketika mahasiswa STOVIA hanya expert di bidang kedokteran, dan belum tentu punya kemampuan lain, anak-anak di Pesantren selain belajar agama, mereka bisa sangat multitalent, dari berdagang, bertani, menjadi nelayan, hal-hal seperti ini masih bisa kita temukan sampai sekarang.

Atau jika kita bicara tokoh sebutlah seorang Haji Oemar Said Tjokroaminoto, mungkin dialah yang menjadi simbol universitas sebagai ruangan besar dengan berbagai ilmu. Di Rumah Paneleh, di situ terdapat anak-anak dengan berbagai latar belakang hidup dan basic keilmuan namun bisa diterima dengan baik oleh Tjokro. Hingga kelak anak-anak muda itulah yang mengisi proses perjuangan untuk mencapai kemerdekaan, presisi fokusnya kemerdekaan. Jalannya bisa berbeda-beda ideologinya antara Semaun, Darsono, Sukarno, Haji Agus Salim, atau Kartosuwiryo, di sisi lain anak indekos inipun tetap diajarkan mandiri dan ilmu-ilmu lain.

Dan pola asuh inilah yang saya dapatkan di Maiyahan, dididik langsung oleh Sang Guru, yang sangat lapang mengayomi dan menerima berbagai kalangan, Ilmu yang disampaikan pun sangat luas, selalu ada korelasi suatu hal dengan hal lain. Ini yang tidak ada di dunia pendidikan modern. Dan jumlah anak-anak Sang Guru jauh lebih banyak dari Tjokro, dan saya pun optimis merekalah yang akan mengisi bangsa ini kelak di masa depan.

“Ada arus yang berjalan menuju masa depan , dan ada arus yang menuju masa silam”

Solusi Bulatan dan Tidak Selesainya Semua Permasalahan

Dikotomi keilmuan ini akhirnya menimbulkan efek seperti yang dituliskan Markesot di atas, misal harus terjun ke politik untuk menyelesaikan masalah di ranah politik. Dan sudah berapa orang yang terjun ke panggung politik, namun masalah perpolitikan di tanah air malah menjadi silang-sengkarut seperti benang mbundhet.

Inilah solusi-solusi bulatan, dikiranya semua masalah akan selesai jika ditangani orang yang expert pada bidangnya, padahal belum tentu selalu begitu, kurang apa Indonesia orang pintarnya? Setiap tahun selalu menghasilkan pemenang di kejuaraan di kancah nasional, dan internasional, tetapi ketika mereka belum tentu menyelesaikan, kadang malah menambah masalah jika perhitungan-perhitungan yang diambil kurang matang.

Dewa Ruci 

Dalam lakon Mahabharata, Dewa Ruci ialah salah satu lakon yang bisa menjadi rujukan bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kemampuan diri kita.

Kisah ini bermula Werkudara yang orang tuanya masuk Neraka. Sebagai bentuk penghormatan seorang anak Bima gelisah, bagaimana men-surga-kan orang tuanya, lalu berkunjunglah dia ke Padepokan Sokalima tempat sang Resi Druna gurunya. Dan alih-alih dia ingin dibunuh oleh Druna (karena Druna disuruh Kurawa untuk mengurangi kekuatan Pandawa, yang tentu Bima adalah salah satu faktor inti kekuatan Pandawa), dengan cara mencari Tirta Pawitra Sari dan Kayu Gung Susuhing Angin. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, dengan jalan itulah Werkudara akhirnya menemukan solusi atas permasalahannya.

“Kita semua punya kehendak, tapi hanya kehendak-Nya lah yang akan terjadi” (Cak Nun, Kenduri Cinta Februari 2017)

Lalu berangkatlah Bima ke hutan belantara mencari kayu gung susuhing angin (pohon yang kuat di tengah pusaran badai). Di sinilah dalam pengaplikasiannya, bahwa ketenangan itulah yang akan menjadikan pikiran kita jernih dalam menimbang segala sesuatu.

Apalagi sekarang kita sedang berada di tengah badai medsos, pusaran angin berita, maka carilah dengan caramu sendiri ketenanganmu supaya bisa benar-benar menemukan pertimbangan yang bening atas dirimu dan segala kompleksitas permasalahanmu.

Lalu Bima menenggelamkan diri jauh ke dalam dirinya sendiri, ke Samudera minangkalbu, lubuk hatinya yang terdalam dimana Tuhan bersemayam di situ. Di situlah akhirnya dia menemukan Tirta Pawitra Sari, sumber Air kehidupan, aliran keagungan Tuhan. Dan bertemunya dia dengan Tuhan (Dewa Ruci).

Segitiga Cinta

Mungkin dalam hal thandhing dia jagonya karena memang Bima seorang satriya, namun ada permasalahan yang memang di luar jangkauannya, di sinilah perlu keterlibatan Allah untuk mengatasi permasalahan.

Di titik itulah Sang Bima mesu diri, bertapa, menyepi mencari Tuhan, meletakkan seluruh permasalahan pada-Nya. Meski terlihat aneh bagi manusia modern, bahwa Bima itu seorang Ksatria dia harusnya bertempur, perang tapi malah memilih jalan yang nampaknya ghoib dan tidak bisa dinalar. Tapi memang begitulah seharusnya.

Sama seperti Bima, dalam carut-marut permasalahan bangsa ini, dengan teori mana semua masalah ini akan selesai? Dan sampai saat ini malah justru semakin kompleks permasalahannya dari segala bidang kita sudah dicengkeram Sang Naga.

Lalu di sinilah Maiyah menawarkan Solusi Segitiga Cinta (baca Tajuk : Meletakkan Solusi Bulatan ke dalam Solusi Segitiga Cinta) di mana harus ada hubungan terus menerus antara Hamba, Rasul, dan Allah, supaya Allah berkenan untuk menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

Bahkan harus selalu melibatkan Allah dalam apapun yang kita jalani, Allah harus manjing dalam samudera minangkalbu kita, seperti Bima yang bersatu dengan Dewa Ruci. Lalu terciptalah apa yang disebut manunggaling Kawula Gusti. Ketika hamba benar-benar menyerahkan seluruh hidupnya kepada Gusti, terserah apapun kalian menyebutnya bisa Allah, Yehova, Yahweh, Sang Hyang, dll. Karena kepada siapa lagi kalau bukan kepada Dia? Karena Dialah Empu-nya segalanya.

Lalu angin berhembus, bumi nusantara masih gonjang ganjing, tapi tetaplah tenang, temukanlah Kayu Gung Susuhing Angin, dan Tirta Pawitra Sari dalam keterlibatan sembahmu pada Sang Khalik. Supaya besok ketika di ujung timur semburat merahnya mulai terlihat, di sisi itulah kalian akan mengisi masa depan.

Nuwun.

Kalau mau mengurusi politik ya terjun dong ke dunia politik. Kalau mau jadi Negarwan ya tampil dong di panggung nasional Negara yang kamu huni. Kok malah…