Mentang-mentang Niat Baik

Tidak ada kata yang pantas saya ungkapkan selain rasa syukur, syukur, dan syukur kepada Allah SWT. Atas nikmat Maiyah dan diizinkannya saya bersentuhan secara langsung menikmati proses Maiyah walaupun di dalam lingkup daerah, yakni di simpul Juguran Syafaat. Saya merasakan bahwa ternyata tidak sederhana Maiyah itu, baik dari segi ilmu maupun penyelenggaraan tiap bulannya.

Tidak mudah menjawab apabila ada yang bertanya tentang inti dari penyelenggaraan Maiyah. Misalnya pertanyaan yang spesifik tentang ulasan sebuah tema yang dibahas pada suatu pertemuan. Untuk menjawabnya sungguh tidak mampu dijawab dengan satu kalimat, satu paragraf atau beberapa paragraf. Karena Maiyah itu melingkar, begitupun dengan ilmunya, saling berkait satu sama lain. Tidak bisa dipisahkan mana yang inti dan mana yang hanya pelengkap. Seringkali pelengkapnya juga merupakan sebuah inti. Dan seterusnya.

Sekian perjalanan Maiyah, saya menangkap begitu luasnya ilmu. Seperti halnya Rasulullah SAW adalah samudera ilmu, maka kita tidak mungkin mampu mengurainya dengan sistematis kecuali kita harus lewat pintunya. Karena kalau tidak, yang kita dapatkan hanya ketakjuban-ketakjuban yang dibarengi dengan kebingungan-kebingungan dalam mengurainya. Pun demikian dengan Maiyah, dengan Simbah, begitu luasnya pemahaman dan ilmunya. Yang saya dapatkan adalah ketakjuban-ketakjuban, keyakinan-keyakinan namun sangat sulit mengurainya secara sistematis. Padahal saya sangat berharap mampu memahami dan mengerti, sehingga mampu mengerti clue dan maksud-maksud yang tersirat di dalamnya.

Keberadaan DAUR inilah, kemudian saya memaknainya sebagai pintu-pintu untuk bisa memahami luasnya ilmu yang Simbah kemukakan. Sekaligus menjawab pertanyaan hidup atas kebingungan dan gagapnya pemahaman mengenai hidup saya sendiri. Meskipun bukan jaminan saya mampu memahaminya secara tepat. Kepahaman itu tergantung masing-masing perangkat yang kita punya.

Tidak ada hal yang mampu saya berikan sebagai balasan atas kenikmatan-kenikmatan mengikuti DAUR. Tidak ada kesan yang mendalam bagi saya yang masih gagap, kepuntal-puntal dalam membacanya serta memahaminya. Hanya ungkapan syukur kepada Allah serta doa semoga Simbah senantiasa diberikan panjang umur serta sehat selalu.

Di antara lebih dari seratus edisi DAUR yang terbit setiap hari tanpa jeda terlewat satu haripun, ada satu bagian di dalamnya yang berkesan bagi saya. Yakni pada DAUR 85 –  Batas Syafaat, di mana tertulis :

Sedangkan Rasulullah Saw kekasih utama Allah dibatasi usulannya yang menyangkut neraka dan sorga, hanya sebatas hamba-hamba Tuhan yang mempercayai dan mencintainya.

Saya terkesan sekali. Bahwa, betapa niat baik Rasulullah SAW yang notabene-nya manusia yang utama, oleh Allah tetap diberikan batasan-batasan. Mungkin tidak betul-betul batasan, kita jangan terpaku pada hal itu. Namun hal itu mengandung sebuah isyarat agung, bahwa kita yang jauh sekali dari kualitas manusia utama tersebut, hendak sebaik dan semulia apapun niat kita terhadap diri, anak, istri, keluarga, dan masyarakat, bahkan negara sekalipun kita tidak berhak menuntut untuk menjadikannya pasti terwujud. Jangan mentang-mentang sudah niat baik, sudah berkorban, sudah mempersembahkan kesengsaraan di hadapan Allah, lalu kita merasa berhak menuntut Allah.

Karena yang hakiki adalah kehendak Allah itu sendiri. Kalau Allah tidak menghendaki, maka sekeras apapun kita berusaha tetap tidak akan terwujud. Namun, di dalam Maiyah kita sudah membentuk diri untuk faham bahwa urusan kita bukan terwujud atau tidaknya. Akan tetapi, yang paling utama adalah bagaimana kita menjaga niat, berusaha, bersabar, dan tetap di jalan istiqomah.

Jangan mentang-mentang sudah niat baik, sudah berkorban, sudah mempersembahkan kesengsaraan di hadapan Allah, lalu kita merasa berhak menuntut Allah.