Mentadabburi Energi Sulthan di Per-Putaran 64 Tahun

Menjelang 27 Mei, satu tahun yang lalu, saya ketiban sampur menjadi bagian dari proses “reformasi” tampilan Buletin Maiyah Jawa Timur. Teman-teman Bangbangwetan bertekad—juga didorong oleh “provokasi-positif” Cak Nang—agar berani tampil dalam format majalah. Momentum penyelenggaraan Ihtifal Maiyah dijadikan tonggak sekaligus “launching” dari format buletin menjadi majalah.

Teman-teman Bangbangwetan menampilkan militansi kelas wahid—militansi yang membuat saya menanggung beban. Majalah Buletin Maiyah Jawa Timur harus tampil optimal. Pundak saya serasa ditindih berton-ton gunung. Tiga hari menjelang deadline naik film, bahan tulisan masih mengalir. Desain cover dan layout belum tuntas. Cak Nang mengirim pesan via Whatsapp: “Perhatikan kata per kata di tulisan Energi Sulthan. Bold, italic, garis hubung, koma, tanda petik jangan berubah!”

Di tengah himpitan dan tekanan waktu yang berjalan mendekati batas deadline, ketika setiap tulisan yang masuk ke dalam kotak email saya sebagian belum diedit, ketika saya terlanjur memasang target layout harus lebih fresh dari desain sebelumnya, ketika setiap detik keputusan membuka seribu kemungkinan keputusan yang baru, ketika sikap nyentrik Pak Toto Mendut menghendaki “wawancara”nya jangan diedit, tampilkan saja secara telanjang dan apa adanya—bergegas saya meninggalkan laptop yang belum saya matikan hampir tiga hari. Mumet saya.

Saya lenger-lenger. Tapi, pikiran ini mendorong-dorong saya agar membuka file tulisan Energi Sulthan. Saya membacanya dengan kecamuk pikiran dikejar batas waktu terbit. Kata per kata, kalimat per kalimat, tanda petik, koma, pokoknya semua simbol saya perhatikan, seperti menatap manuskrip berharga yang menceritakan “nasib” masa depan zaman. Dan, lagi-lagi, saya luput menangkap pesan utama Energi Sulthan.

Momentum Sabtu, Hari Sendiri, Nyepi

Hingga pada 2017, beberapa hari menjelang 27 Mei, saya kembali teringat pusaka Energi Sulthon. Suasana dan cuaca batin saat membacanya lumayan berbeda dengan satu tahun yang lalu. 27 Mei tahun ini bertepatan dengan hari Sabtu—Tumpak, Sabtu, hari sendiri, nyepi:  Berbaring atau sèndèn, menarik nafas panjang. Penanggalan tahun Hijriah menunjukkan hari Sabtu adalah 1 Ramadhan 1438 H.

Sabtu, 27 Mei, 1 Ramadhan, hari sendiri, nyepi. Berbaring atau senden, menarik nafas panjang. Apakah itu semua kebetulan? Tentu tidak. Setiap detik waktu, setiap celah ruang, setiap detail peristiwa berada dalam akurasi hisab Allah. Mulai gelembung super-mikro hingga gelembung tanpa batas dimuati oleh simbol, momentun, getaran, ilmu, hikmah, sirr, hubb. Siklus per-putaran tujuh adalah siklus kesadaran Orang Maiyah.

Energi Sulthan menawarkan sejumlah cara pandang, sudut pandang, ruang pandang yang tidak mungkin ditelan mentah. Orang Maiyah waspada—kebenaran Energi Sulthan adalah kebenaran di ruang dapur sehingga tidak perlu di-display di ruang tamu. Termasuk energi formula maiyah yang lain: personalitas-identitas, talbis, silmu, Shohibu Baity, bersedekah kepada Indonesia, titik keseimbangan, Daur, “Takfiri versus Tamkiry” dan seterusnya.

Kita semua, anak cucu Maiyah, menemukan momentum Sabtu: thuma’ninah, diam, istirah sejenak, senden dan menarik nafas panjang untuk menengok kembali ruang dapur kita masing-masing, atau menghitung kesehatan “akar” pohon di kebun kita. Momentum 1 Ramadhan adalah pembukaan madrasah, wahana pendidikan, yang outputnya adalah perubahan perilaku. Tattaqun merupakan proses dinamis sepanjang hidup untuk menghasilkan masakan atau buah yang sehat dan menyehatkan bagi keindahan bebrayan sosial.

Rajin memetik buah di Kebun Maiyah kadang membuat kita terlena. Padahal buah itu sejatinya dimuati oleh benih atau akar begitu kita mencernanya dalam alam berpikir. Namun, fenomena sop buntut justru memutus dialektika buah-akar, merobohkan batas ruang dapur dan ruang tamu. Men-sop-buntut-kan formula maiyah akan melemparkan kita ke dalam ketidakseimbangan. Sikap paradoks yang ngentahi muatan utama dawuh-dawuh Mbah Nun.

Mengolah Energi Sulthan

Energi Sulthan adalah bahan dasar atau semacam bongkahan batu akik untuk diolah oleh mereka maupun ia masing-masing Jamaah Maiyah dengan terlebih dahulu menyelami tiga kemungkinan: siapakah diri kita di tengah per-putaran Radite (Melihat dari Dunia), Soma (Melihat dari Diri), Anggoro (Melihat dari Langit), seraya mencermati Budho (Melihat dari Angkasa) untuk memahami siklus dan peta pertarungan penduduk bumi.

Sebelum menanam, kenali terlebih dahulu watak karakter untuk mengukur prosentasi potensial atau praksis faktual: apakah kita ini Abu Bakar, Umar, Utsman atau Ali? Memakai terminologi  yang lain, muatan karakter kita ini berbobot wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram?

Sambil terus membaca dan melakukan riset diri, kita menanam di kebun perjuangan kita masing-masing melalui beragam skala, konteks, ruang lingkup, keluasan-kedalaman, garis cakrawala yang di-benih-i oleh buah Kebun Maiyah. Menanam—proses ijtihad yang tidak boleh lagi menghasilkan situasi njarem, karena diwataki oleh keseimbangan: dunia-akhirat, kiri-kanan, vertikal-horisontal.

Kebun perjuangan ini tidak perlu didramatisir atau diangankan sebagai gerakan yang besar, mewah dan gagah. Kita mulai, misalnya dari lingkungan terdekat: keluarga. Martabat dan harga diri keluarga harus tegak di tengah ambruknya pilar-pilar kemanusiaan. Memurnikan idealisasi peran dan fungsi keluarga yang berkonteks Bumi-Langit, Dunia-Akhirat bagai menggenggam bara—suhu panas perkembangan teknologi informasi yang dikipasi oleh najwahum, bisikan-bisikan mereka, menjadi tidak mudah untuk ditaklukkan.

Untuk itu, kita memerlukan, katakanlah “kesaktian” atau energi sulthan itu sendiri, untuk menembus lapisan-lapisan kemudlorotan bara panas yang membakar nalar sehat dan hati jernih. Dan kita sudah menggeh-menggeh kelelahan—nyerah di hadapan Allah karena gelombang hawa panas yang menerjang sangat dahsyat. Haul dan quwwah manusiawi habis terkuras. Kita membutuhkan suplai energi yang berlipat ganda dari Sang Pemilik Energi.

Nandur. Poso. Shodaqoh.

Allah memberi jawaban. Energi ekstra: Sabtu, 27 Mei—bertepatan dengan 1 Ramadhan, poso, puasa. Situasi yang menyodorkan sikap wa huwa yuth’imu wa laa yuth’am (QS. Al-An’am: 14). “…Dia memberi makan dan tidak diberi makan.” Situasi orang berpuasa: menghayati “sikap puasa” Allah yang kekal (baqa’). Puasa menjadi conditioning diri agar layak dilimpahi energi ekstra. Orang Maiyah akan mengakselerasi puasa bukan sekadar tidak makan dan tidak minum.

Puasa adalah metodologi untuk menyatukan kenyataan manusia sebagai makhluk budaya (istiqomah menanam di kebun Maiyah) dan makhluk qodrati (kholidina-abada)—untuk selanjutnya menemukan diri sebagai makhluk sejarah: mengarungi dan menembus dimensi ruang dan waktu alam semesta.

Sabtu 27 Mei 2017 atau 1 Ramadhan 1438 adalah momentum bagi orang Maiyah memasuki bulatan kesadaran “La haula wala quwwata wala sulthana illa billahil’aliyyil ‘adhim.” Bukan momentum sesaat dan berlaku saat ini, kemudian berlalu begitu saja—tetapi membacanya di satu saat, kemudian membacanya terus setiap saat, dan menjalaninya di semua saat. Hingga malam ini, sebuah teks singkat meneguhkan itu semua. Tertegun saya membacanya: Nandur. Poso. Shodaqoh.

Apa yang melingkupi 64 tahun Mbah Nun menjadi “ayat” bagi anak cucu Maiyah. Innaa fatahnaa laka fathan mubiinaa…

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image