Menjunjung Keraton Nusantara dengan Ilmu Khidhir

Hujan lumayan deras mengguyur kota Solo, tak terkecuali wilayah Lapangan Puro Mangkunegaran tempat berlangungnya Sinau Bareng bertema Memasadepankan Masa Silam (29/9/17). Meski demikian jamaah dan masyarakat yang hadir tetap bertahan dengan kondisi lapangan yang becek. Suatu etos yang layak diacungi jempol.

Foto: Adin

Menghikmahi hujan, Mbah Nun menjelaskan berbagai hal sampai pada kesadaran bahwa dalam hidup ini lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Suasana juga diramu dengan dilantunkannya wirid Padhangmbulan sehingga tercipta atmosfer sublim. Sesudah itu, Kesadaran “Keraton” diolah dan diruhanikan sebagaimana sebagian muatannya telah dipaparkan dalam Seminar siang harinya.

Siapapun dia, sepanjang memanggul amanah kepemimpinan, harus senantiasa menjaga dan mengutamakan kesejahteraan rakyat atau warganya. Untuk pangeling ini, KiaiKanjeng membawakan lagu “Gundhul Pacul”. Pemimpin harus senantiasa “nyunggi wakul” amanat rakyat. Bukan menghambur-hamburkannya. Hal yang sering disampaikan Mbah Nun, dan kita semua telah memahaminya, tapi entah para pemimpin itu.

Dari suasana hujan, sublim, rohaniah, kegembiraan tetap tak boleh dipisahkan. Mereka, saudara-saudara yang bersedia bersama dalam kondisi becek, diajak belajar bersama dengan nuansa kegembiraan. Salah satunya lewat cerita-cerita persinggungan ‘lucu’ dengan tokoh-tokoh nasional bangsa ini.

Satu hal ditaris tegas oleh Mbah Nun, ” Yang penting dalam setiap belajar pikiran harus selalu merdeka tapi hati juga tetap dijaga kesuciannya.” Lantas Mbah Nun menjelaskan metode belajar ketika Musa belajar kepada Khidlir. Ini ilmu waktu. Siklusnya masa kini-masa depan-masa silam begitu berputar seterusnya.

Foto: Adin

Kalimat tematik Memasadepankan masa silam ini adalah aplikasi ilmu Khidhir ini. Di masa kini, saat ini, kita dihadapkan pada situasai bergerak ke masa depan tetapi harus disertai peninjauan kembali pandangan dan sikap kita ke masa silam justru supaya di masa depan lebih baik. Keraton merupakan bagian dari sejarah dan masa silam bangsa kita, tetapi jika kita pandai memosisikan, menggali, dan menjunjung dari filosofi, khazanah, hingga kekayaan budaya Keraton, maka kita bergerak ke depan dengan bekal yang lebih matang sebagai diri bangsa kita, historis, dan berkontinuasi.

Sejauh ini sadar atau tidak, di Indonesia “Keraton” dianggap hanya peninggalan masa lalu semata. Padahal jika mau dikomparasikan, di Eropa seperti Inggris dan Belanda, mereka masih menjunjung konsep kerajaannya.

Untuk kesekian kalinya kemudian Mbah Nun menyinggung ketidakjelasan fungsi negara dan pemerintah saat ini. Hingga soal dominasi “materi” yang menjadi pusat sambatan.

Menjelang tengah malam udara terasa semakin dingin. Para perindu masa depan Indonesia ini masih bertahan dan menyimak percikan-percikan ilmu dan pandangan. Tak terkecuali para stakeholder Keraton Surakarta yang tengah hikmat menyelenggarakan Hajatan Dalem Pahargyan Tingalan Wiyosan Jumenengan Ke-30 Sri Paduka Mangkunagoro IX.

Menjelang pukul 01.00, Sinau Bareng yang secara khusus dihadirkan oleh keluarga Keraton Surakarta untuk menyumbangkan pemikiran akan bagaimana Keraton menyikapi perkembangan zaman ini, segera berakhir. Butir-butir pemikiran dan keindahan kebersamaan telah tertaburkan untuk semua yang hadir dan menyimak Sinau Bareng ini. (dwk/hm)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image