Menjadi Robotnya Allah

Di era milenium yang serba canggih ini, peran manusia lambat laun mulai tergantikan oleh kehadiran robot. Segala lini kehidupan memimpikan kecanggihan dan kemutakhiran. Akan tetapi, hal itu membawa dampak lunturnya peran kemanusiaan kita, ras manusia. Hati dan jiwa mulai mengeras laksana rangkaian bahan baku robot. Di tengah gerusan era teknologi inilah, Mbah Nun berjuang menghidupkan aura kemanusiaannya manusia. Senantiasa melingkar bersama-sama adalah langkah nyata yang terus dilakukan demi nguri-uri warisan kemanusiaan ini.

Kelahiran Daur merupakan bukti serta cara yang dipilih Mbah Nun untuk ‘memantik’ kemanusiaan ras manusia. Dari ratusan tulisan Daur, Mbah Nun telah ‘menabur’ benih untuk para anak cucu beliau dan para japemethe. Yang untuk tumbuh, benih itu akan membutuhkan waktu dan proses yang tidak cepat dengan segala rintangan dan tantangan di zamannya masing-masing. Sementara, pekerjaan ‘memanen’ sebenarnya sama sekali bukan menjadi hak kita.

Mbah Nun pernah berucap, “Carilah kenikmatan dalam pekerjaan ‘menanam’ dan berbuat baik”.

Daur sebanyak 309 buah itu telah menyuguhkan kenikmatan ‘bergelut’ memaknai semua tulisan beliau yang masih berupa biji atau benih, untuk ditadabburi oleh para anak-cucu dan japemethe, atau siapapun saja yang merasa mendapat kemanfaatan dari membaca tulisan-tulisan beliau. Memang, tadabbur memungkinkan munculnya jutaan tafsir, pemahaman, dan makna dari masing-masing sang penadabbur. Meskipun begitu, produk yang diharapkan muncul dari proses tersebut tetaplah sama; yaitu kemerdekaan berpikir dan orisinalitas.

Mbah Nun menuturkan, bahwa kehidupan haruslah dijalani dengan ‘merasakan’ secara sadar akan kehadiranNya. Sebab, segala urusan hidup kita, baik secara personal maupun global, berada dalam frame kuasa Allah. Tidak ada satupun pekerjaan atau gerak kehidupan yang terjadi terlebih dahulu kecuali tanpa ijin Allah. Oleh karena itu, seharusnya tak ada klaim atas diri dan kehidupan ini, seperti yang Mbah Nun wejangkan, bahwasanya beliau berusaha untuk tidak mengatasnamakan segala yang beliau lakukan dan kerjakan sebagai pekerjaan diri ‘aku’ nya. Apabila ada niatan dari orang lain untuk ‘menjahati’ dalam bentuk apapun, akan langsung berurusan dengan pemiliknya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Suatu energi kebijaksanaan yang terbungkus keikhlasan dan menghasilkan ketulusan yang berpendar.

Jemawa-lah yang telah merubah kita menjadi robot para penguasa yang bertahta hanya sementara itu. Menobatkan para diri jemawa sebagai ‘serupa’ pemimpin, yang seolah-olah ‘didapuk’ sebagai penguasa dunia dan sesama, untuk saling berlomba berebut tempat, serta mengamankan para ahli warisnya yang dikhawatir kelak tak kebagian hormat.

Lewat menadabburi Daur, terciptalah pemahaman bahwa sejatinya kita adalah ‘robotnya Allah’, yang dipimpin dan dipanglimai oleh KekasihNya yang agung, Rasullulah SAW. Kesadaran bahwa kita ‘robotnya Allah’ inilah yang senantisa harus kita jaga sebagai ‘mutiara’ kehidupan, agar kita tak terhanyut dan ketlingsut hilang di tengah carut marut dunia yang fana ini.