Menjadi Pendengar Yang Baik Untuk Menemukan Sang Pendengar Sejati

Catatan Bangbang Wetan Surabaya, 12 April 2017

Sehari setelah Padhangmbulan, giliran Surabaya menjadi lanjutan estafet Maiyahan setiap bulan sepanjang tahun. Tanggal 16 Hijriyah hampir selalu bertepatan dengan penyelenggaraan Bangbang Wetan. Jamaah yang titen biasa menandai kalendernya sekaligus. Jika di bulan Maret diadakan di Balai Pemuda, Bangbang Wetan 12 April 2017 digelar di Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim. Panggung beserta latar belakang bertuliskan “The True Audience” berdiri di pelataran gedung. Diawali nderes kemudian sholawatan bersama, jamaah menyamakan nada untuk belajar bersama sepanjang Maiyahan.

Bangbang Wetan April 2017
Jamaah Maiyah memadati Taman Budaya Jawa Timur Cak Durasim. Foto: Hariyadi.

Saya berada di sebelah kiri panggung untuk ikut menyimak. Dari tempat saya duduk terlihat patung Cak Durasim berdiri menghadap ke arah utara. Seniman kelahiran Jombang tersebut dianggap mewakili semangat bagi generasi penerus untuk tetap mencintai seni tradisional. Nama Cak Durasim diabadikan menjadi Taman Budaya karena jasa dan perjuangannya, khususnya dalam kesenian ludruk khas Jawa Timur-an. Barangkali kebetulan saja Kota Jombang terlintas di pikiran saya. Sebab Cak Nun juga berasal dari kota yang sama. Dan malam itu, meskipun tidak hadir, semangat beliau juga tetap menjadi getaran yang selalu mengalir di tengah-tengah jamaah maiyah.

Ibu Pertiwi Harus Diwarisi Oleh yang Bersih Hatinya

Ada dua orang pemuda yang ikut berbagi di atas panggung. Seno Bagaskoro yang merupakan Ketua Aliansi Pelajar Surabaya. Dan Afif, Mahasiswa yang minggu lalu memproklamirkan gagasan kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Di samping mereka juga ada Pak Isa Ansori dari Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Pak Suko Widodo, dan Pak Joko dari Universitas Airlangga.

Yang menjadi pemantik api semangat malam itu, D Zawawi Imron, sang penyair kelahiran Madura. Memasuki usia 72, Pak Zawawi masih lantang ketika mengajak para pemuda untuk mencintai Indonesia. Beliau menceritakan para pejuang kemerdekaan dulu adalah mereka yang mantab takbirnya. Umur mereka masih muda pada saat ikut berperang membantu pasukan Indonesia melawan penjajah. Tidak ada keraguan. Karena yang mereka yakini dan takuti hanya Allah. Mereka inilah yang beriman pada The True Audience.

Saya bisa dengar suaranya yang sedikit bergetar ketika Beliau menyaru Bung Karno membacakan puisi Aku karya penyair muda Chairil Anwar. Proklamator tersebut dikisahkan tatkala membakar semangat pemuda untuk yakin akan tercapainya cita-cita bangsa. Seperti penggalan puisi: “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” Keyakinan akan terwujudnya cita-cita bangsa akan abadi, meski 1000 tahun lagi.

Tema The True Audience malam itu sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan harus diniatkan hanya kepada Tuhan. Pak Zawawi berpesan bahwa hati yang cantik itu jauh lebih penting daripada kecantikan lahiriah saja. Jangan sampai merawat diri cuma untuk dilihat orang lain. Karena Indonesia butuh dicintai oleh mereka yang cantik hatinya. Ibu pertiwi harus diurus oleh hati yang indah dan perasaan senasib-sepenanggungan. Sehingga kehidupan bermasyarakat akan terasa tenteram dalam kebersamaan.

Bangbang Wetan April 2017
Bangbang Wetan April 2017

Tertusuk padamu, berdarah hatiku. Begitulah Pak Zawawi mengandaikan empati dalam berbangsa. Semangat cinta ibu pertiwi tergambar jelas ketika Beliau membacakan puisinya bertajuk Ibu. Suasana yang tadinya berapi-api beralih khidmat. Puisi tersebut memang bernuansa religius. Jamaah dibawa kesadarannya pada semangat mencintai tanah air. Sebagaimana kita mencintai Ibu kita sendiri. Karena mau tidak mau, Indonesia inilah yang memeluk jasad kita nanti ketika tiba saatnya menyatu dengan tanah.

Generasi Muda, Pahlawan Masa Depan

Tidak ada alasan untuk tidak mencintai Bangsa Indonesia. Kita dihadapkan pada banyak ujian cinta. Mungkin karena mencintai bangsa dan negara adalah sebagian dari iman. Sehingga ujiannya juga datang dalam wujud keraguan atas jati diri sebagai bangsa. Oleh serbuan kapitalisme, kita dibuat tidak pede menjadi Indonesia. Merasa lebih kece tampil kebarat-baratan, dan berlomba-lomba memenuhi standar nilai audiens produk industrialisasi.

Pak Isa Ansori menangkap gejala narsistik mulai diderita masyarakat kekinian. Banyak yang berdandan hanya demi dipuji orang lain. Ingin menjadi pusat perhatian di mana-mana. Menganggap bahwa audiens adalah tujuan setiap perbuatan yang dilakukan. Penilaian audiens adalah takaran bagi keberhasilan. Bahkan tidak jarang membuat seseorang menjadi orang lain yang bukan dirinya.

Keresahan tersebut ternyata juga dirasakan Seno (17). Bulan lalu saya masih ingat dia sangat senang bisa hadir di Bangbang Wetan. Baginya forum Maiyahan ini mewadahi dirinya secara utuh. Karena ruang publik sekarang dianggapnya seperti semakin menghilangkan identitas. Sebagai penggagas aliansi pelajar, sebenarnya dia tidak sedang memusuhi organisasi siswa intra sekolah yang sudah ada. Tetapi dia ingin berbagi sudut pandang bahwa kemerdekaan berpikir jauh lebih penting dari hanya sekadar ikut-ikutan tren pasar.

Memaknai tema The True Audience, Seno menceritakan kecenderungan generasi muda sekarang. Media sosial membelokkan perhatian para penggunanya untuk sekadar eksis. Padahal selain untuk pamer, media sosial bisa dimanfaatkan untuk berbagi informasi yang lebih bermanfaat. Audiens oleh kebanyakan seumurannya dimaknai sebagai respons dari follower saja. Banyaknya like dan komentar adalah ukuran kepuasan. Sehingga sampah informasi jumlahnya justru lebih banyak daripada yang bermanfaat. Karena kebanyakan sebaran informasi hanya berupa pamer, dari selfie sampai foto barang-barang yang dimiliki.

Dari sudut pandang lain, Afif (24) mengemukakan penangkapannya terhadap The True Audience. Baginya, apapun yang terjadi saat ini seperti dagelan. Khususnya potret para wakil rakyat. Apa yang dilakukan hanya untuk kepentingan pribadi. Tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat, apalagi takut pada Tuhan. Para penyelenggara negara tidak serius dalam menjalankan cita-cita bangsa. Oleh sebab itu dia berinisiatif menggagas Proklamasi Kebangkitan Mahasiswa Pemuda Indonesia. Inti dari ‘proklamasi’ tersebut adalah mengingatkan kembali bahwa kita semua bertugas mengawal cita-cita bangsa Indonesia. Mulai dari melindungi segenap tumpah darah Indonesia hingga mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kedua pemuda yang urun pemikiran malam itu bagi saya didasari semangat yang sama. Mereka cinta tanah air. Tidak rela bangsa ini terus-menerus dimanfaatkan oleh pihak yang hanya mementingkan diri sendiri. Saya lantas setuju dengan Mas Amin yang, di awal acara, sempat nyelethuk: “Malam ini malamnya anak muda”. Karena, terlihat betul optimisme akan masa depan bangsa. Baik dari panggung maupun audiens yang hadir.

Bangbang Wetan memang sebagian besar jamaahnya berusia muda. Cak Nun selalu merasa senang ketika para muda berpartisipasi aktif dalam Maiyahan. Seperti bulan lalu, Beliau memuji para penanya yang didominasi wajah-wajah muda. Kepada mereka pula disampaikan betapa bahagianya. Generasi muda saat ini menentukan nasib bangsa. Kalau dulu para pejuang mati-matian merebut kemerdekaan, saat ini generasi mudalah pahlawan bagi Indonesia di masa depan.

Audiens Semu Mengaburkan Audiens Sejati

Salah satu yang tidak bisa dilepaskan dari generasi muda saat ini adalah Teknologi Informasi dan Media. Sebagai konsekuensi logis dari era industrialisasi, segala hal mulai ditimbang dengan ukuran materiil. Termasuk komodifikasi identitas diri. Setiap individu berupaya tampil sebaik-baiknya. Tujuannya adalah agar mendapat penilaian dan dihargai dengan baik oleh pemirsa.

Meminjam teori Jean Baudrillard tentang Simulakra, Pak Suko Widodo memberi pandangan tentang lalu lintas media sosial saat ini. Simulakra yang dimaksud adalah gagalnya individu membedakan mana yang maya dan mana yang nyata. Salah kaprah telah mewabah di ruang publik. Semakin sering kita temui konflik antar individu yang diawali dari ketegangan di dunia maya. Mereka gagal memaknai realitas. Audiens semu mengaburkan pengetahuan mereka akan audiens sejati.

Bangbang Wetan April 2017

Kyai Muzammil kemudian melengkapi penjelasan sebelumnya. Pengetahuan tentang audiens yang salah dinilai karena manusia tidak bisa membedakan mana tujuan dan mana jalan. Sebagaimana banyak umat gagal menempatkan apakah Islam adalah tujuan ataukah jalan. Mereka yang menjadikan Islam sebagai tujuan, sering menempatkan agama sebagai objek. Sehingga berupaya mengambil keuntungan dari sana. Banyak pula orang terjebak pada kesemuan. Lebih suka disebut baik daripada berbuat baik. Artinya tidak peduli apakah jujur atau tidak. Jika bagi orang lain  terlihat baik, maka tidak menjadi masalah.

Membawa kembali ingatan jamaah ke kalimat “Indonesia Adalah Bagian dari Desa Saya” – Kyai Muzammil menasihati para pemuda agar tetap fokus pada perbuatan baik. Jangan pernah merasa lebih kecil dari sesuatu selain Allah. Perjuangan apapun yang dilakukan harus beralaskan semangat memberi bukan berharap akan menerima sesuatu.

Masih segar pula dalam pikiran saya “Bentuk kepahlawanan apapun di dunia ini, tolong audience-nya Allah saja” yang diucapkan Cak Nun pada sebuah kesempatan. Tidak mesti perbuatan baik akan disikapi baik pula. Sebab kita pasti akan dihadapkan padq kekecewaan dari perlakuan manusia terhadap kita. Tidak ada jaminan bahwa kita pasti mencapai sesuatu yang kita inginkan melalui perbuatan dan niat baik. Jadi, ya, kalau mau berbuat baik ya berbuat baik saja.

Audience That Do Voice is Audience Who Listen

Semakin malam, suasana Bangbang Wetan semakin renyah. Gojekan Kyai Muzammil dan Pak Suko memang salah satu yang dikangeni jamaah. Meskipun demikian, arah diskusi tentang Audiens Sejati tidak lantas kehilangan benang merahnya. Hadir pula rekan Pak Suko yakni Pak Joko Susanto, dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga memberi warna Maiyahan dengan tinjau akademisnya. Di depan tampak gelas-gelas jahe hangat. Ternyata untuk meringankan radang tenggorokan Beliau. Sambil menjajal suara yang sedikit berat, Pak Joko mengudar tema The True Audience.

Apakah audiens atau hanya penonton? Apakah mendengar atau menyimak? Bagaimana kaitan keduanya terhadap masalah sosial? Pertanyaan-pertanyaan tersebut diutarakan di awal kepada jamaah. Diberikan contoh sebuah panggung dangdut dan penontonnya, jamaah diajak menajamkan pengertian tentang audiens.

Penonton pertunjukan bisa jadi hanya menikmati saja. Atau bisa jadi audiens. Yakni yang sungguh-sungguh menaruh perhatian terhadap apa yang disajikan. Artinya, bukan sekadar mendengar (to hear), tetapi menyimak (to listen). Rentang mendengar dan menyimak ini dipisahkan oleh kadar perhatian (attention). Kualitas perhatian ini menjadi penting. Karena, itulah yang menentukan apakah seseorang benar-benar peduli terhadap suatu hal atau tidak. Kepedulian inilah yang melahirkan voice. Alias sebuah informasi yang bermuatan layak. Bukan sekedar ‘sampah’ suara atau noise.

Pak Joko melanjutkan, saat ini yang dibutuhkan di Indonesia adalah voice, karena sudah terlalu banyak noise bertebaran di mana-mana. Beliau mengaitkan fenomena yang terjadi di media mainstream saat ini dengan teori The Society of the Spectacle dari Guy Debord. Manusia saat ini cenderung disetir oleh pasar. Bukan sekadar berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar. Masyarakat mulai tidak punya kuasa atas kebutuhannya sendiri. Tidak pula sadar bahwa keinginannya ditentukan oleh apa saja yang ditawarkan oleh industri. Bahkan merasa bangga ketika dicap memiliki sesuatu, padahal kenyataannya dia tidak memiliki hal tersebut.

“Kita memasuki era pasca firaun,” kata Pak Joko. Maksudnya, zaman modern ini banyak menumbuhkan firaun baru. Yakni mereka yang tidak cukup hanya terlihat baik. Tetapi berambisi supaya menjadi tidak terkalahkan oleh yang lain. Tidak heran jika korupsi semakin merajalela. Koruptor menuhankan keinginan pribadinya. Tidak peduli bagaimana caranya. Dan tidak akan pernah puas berapapun banyak uang yang dikorupsi. Sementara pahlawan yang benar-benar berjuang untuk kemaslahatan bersama, keberadaannya hampir menjadi dongeng saja.

Nilai Mendengar dan Mendengarkan

Mikrofon kembali menyala untuk Kyai Muzzammil. Beliau dipersilakan Pak Suko Widodo untuk memberikan nuansa langit setelah jamaah diberi paparan panjang lebar dari tinjau akademisi. Berangkat dari surat Al-A’raf ayat 204, “Waidza qurial qur’anu fastami’u lahu, wa ansitu la’allakum turhamun” ditadabburi terkait beda to hear dan to listen yang sebelumnya dibahas. Dalam bahasa Arab, mendengar (sami’a – yasma’u) dibedakan dengan mendengarkan (yastami’u – istima’). Pada ayat di atas, ditekankan agar manusia pada saat dibacakan ayat qur’an hendaknya mendengarkan dan diam (fastami’u lahu wa ansitu) agar dirahmati Allah.

Az-Zumar ayat 18 “Alladzina yastami’unal qoula wa yattabi’una ahsanahu” ditadabburi Kyai Muzzammil. Sebagai penjelas berikutnya, kata yastami’un berarti mendengarkan. Kesungguhan mendengarkan digambarkan pada ayat tersebut sebagai ciri ulil albab. Karena, merekalah yang sungguh-sungguh mendengarkan. Menyerap informasi. Kemudian mengikuti yang terbaik setelah mengalami proses cerna.

Demikian pentingnya menaruh perhatian pada berbagai peristiwa. Sehingga kita tidak terburu-buru dalam bersikap. Dan terbiasa menggunakan akal yang baik untuk menyikapi permasalahan. Karunia terbesar Allah kepada manusia adalah akal. Melalui proses berpikir, manusia dapat mengenal diri untuk mengenal Tuhannya. Dengan begitu, menjadi keharusan bagi manusia untuk terbiasa penuh pertimbangan dan perhitungan.

Audiens Sesungguhnya adalah Allah

Bangbang Wetan kemudian dijeda beberapa lagu yang dibawakan oleh band beraliran Rock, Rockmen. Dilanjutkan dengan sholawatan yang diikuti seluruh jamaah. Barangkali hanya di sini saya temui suasana diskusi keilmuan yang ‘campur aduk’ nuansanya.

Memasuki pukul dua dini hari, diskusi berlanjut dengan tanya jawab. Seperti biasa, Kyai Muzzammil selalu siap dengan jawabannya. Para penanya memberikan soal mulai dari bagaimana jalan terbaik mengenal Allah hingga mempertanyakan kekekalan akhirat. Sebelumnya beberapa mahasiswa ITS juga sempat mempresentasikan temuan arkeologisnya.

Presentasi tersebut adalah hasil penelitian mereka terkait situs purbakala. Dari temuan itu, mereka menarik kesimpulan menarik. Bahwa kebesaran kerajaan masa lalu adalah buah dari keseriusan dalam menggali keilmuan. Tidak hanya fokus pada kekuasaan kerajaan. Kerajaan menjadi besar karena pemimpin mampu menjaga tatanan yang benar. Dan menciptakan keteraturan sosial masyarakat. Oleh karena itu, kita patut belajar pada leluhur kita. Merekalah yang paham betul bagaimana menjaga harmoni antar manusia dengan penerapan nilai-nilai yang baik.

Saya kemudian teringat penjelasan Cak Fuad terkait As-Silmi pada saat Padhangmbulan sehari lalu. Udkhulu fis silmi kaaffah, masuklah kamu dalam (nilai-nilai kedamaian) Islam secara menyeluruh. Yang ditekankan pada istilah As-Silmi adalah ibadah pada nilai atau isinya. Ibadah tiap manusia itu berbeda, pada maqomnya sendiri-sendiri. The True Audience adalah fokus dari ibadah itu. Bukan hanya ibadah secara lahiriah saja, apalagi jika ditujukan agar terlihat ke manusia lain.

Di akhir sesi, Mas Ahid juga menambahkan bahwa ada keterkaitan antara kesadaran segitiga cinta dan The True Audience. Bahwa manusia perlu sadar, setiap lakunya hanyalah antara dia, Rasulullah, dan Allah. Itulah yang membantu kita untuk tidak mudah gumunan, kagetan, serta mengenali mana yang subjek dan mana yang objek. Pada akhirnya tidak ada pertunjukan dan kompetisi untuk dinilai siapa-siapa. Audiens sesungguhnya adalah Allah.

Bangbang Wetan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Kyai Muzzammil. Bonus malam itu ternyata jamaah mau membantu memungut sampah di sekitarnya untuk dikumpulkan di tempat yang ditentukan. Untuk bulan ini, saya membawa pulang banyak pemahaman baru. Dan saya yakin demikian pula yang dirasakan seluruh jamaah yang hadir dari awal hingga akhir. (D. Ratuviha)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image