Meningkat Nggak Aji Kalian?

Catatan Sinau Bareng di Desa Tracal Lamongan, 20 Oktober 2017

Sehari sebelum Sinau Bareng di Bukit Jamur Gresik, Mbah Nun dan KiaiKanjeng berada di Kabupaten Lamongan untuk Sinau Bareng di Lapangan Desa Tracal Lamongan (20/10/17). Sama seperti di Gresik, lokasi acara di Lamongan ini juga menghadirkan tantangan tersendiri.

Bis yang membawa KiaiKanjeng tidak bisa menjangkau lokasi dikarenakan situasi medannya. Untuk ke sana, para personel KiaiKanjeng harus rela bisnya ditinggal di satu titik dan selanjutnya masih sekitar lima belas kilometer menuju lokasi. Dari tempat bis ditinggal itu, KiaiKanjeng diboyong menggunakan mobil elf yang disiapkan panitia.

Meningkat nggak aji kalian? Foto: Adin.
Meningkat nggak aji kalian? Foto: Adin.

Barangkali ini adalah pelajaran lain dari inna ardlullahi wasi’ah (susungguhnya bumi Allah itu luas). Tidak mesti harus ke benua lain buat merasakan luasnya bumi. Di dalam negeri pun bisa. Bahkan di sebuah kabupaten. Agaknya karena memang setiap kabupaten punya remote area-nya masing-masing seperti kabupaten Lamongan ini. “Walaupun rumah-rumah di sini relatif cukup bagus. Kayaknya para pemudanya banyak yang kerja sebagai TKI di luar negeri,” kata Mas Zakki, manajer KiaiKanjeng.

Tetapi yang menarik adalah meski lokasi yang jauh dan pelosok, yang datang mengikuti Sinau Bareng ini banyak banget. Beramai-ramai masyarakat dan jamaah meninggalkan rumah buat menimba ilmu kepada Mbah Nun di desa Tracal ini dalam rangka Haul KH. Abdul Jalil atau biasa disebut Mbah Jalil. Bayangkanlah keguyuban mereka menjadi dorongan buat berangkat mengikuti Sinau Bareng ini.

Dan sepadan dengan kesungguhan mereka itu adalah bahwa Mbah Nun terutama sekali mengajak mereka berjuang menegakkan nilai dalam hidup ini. Ketahuilah, mereka tidak sedang akan buang-buang waktu dan tenaga dengan melakukan kegiatan tak manfaat, tetapi sebaliknya mereka benar-benar akan mendalami ilmu yang dibutuhkan lewat Sinau Bareng ini. Sesudah menyerap ilmu, mereka dilengkapi perolehannya dengan berbagai menu keindahan serta kemesraan bersama KiaiKanjeng.

Di situlah mereka diajak, salah satunya, untuk menyadari pentingnya membangun aji, harga diri, atau martabat. Siapapun kiranya sepakat bahwa aji atau martabat ini perkara mendasar dalam kehidupan manusia. Hanya saja cara Mbah Nun menyampaikan berbeda. Cara yang enak, tanpa menuduh, dan setiap orang dipercaya bisa dewasa berpikir.

“Kalau kalian punya uang dan uang itu buat mabuk, kira-kira meningkat nggak ajimu?”

“Mbotennnn!”

“Kalau kalian jadi OKB dan dengan uang yang banyak itu kamu pakai ke kafe, diskotik, atau tempat yang begitu itu, meningkat nggak ajimu?”

“Mbotennnn!”

“Nah, kalian sendiri bisa merasakan apa yang kalian lakukan ini membuat aji atau harga diri kalian naik atau tidak.”

Begitulah, dalam formula memanusiawikan dan mendewasakan mereka, terutama para generasi muda, Mbah Nun mengajak supaya mereka ingat akan pentingnya membangun ajinya diri manusia. Tak perlu ditegaskan lagi di sini bahwa kalau manusia tak punya aji akan jadi seperti apa. Yang tak boleh tidak dicatat adalah aji bukan hanya harus dimiliki individu-individu, tapi juga masyarakat, bangsa, dan negara. Kita membutuhkan keserempakan “mbotennn” dulur-dulur Lamongan itu di mana-mana. (hm)

Sehari sebelum Sinau Bareng di Bukit Jamur Gresik, Mbah Nun dan KiaiKanjeng berada di Kabupaten Lamongan untuk Sinau Bareng di Lapangan Desa Tracal…