Mengkaji Humor Saridin dengan Serius

Catatan Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Oktober 2017

Ada kasus seorang gubernur terjerat pasal penistaan agama, baru-baru ini juga seorang pembicara terjerat kasus serupa. Dua hal ini saya kurang update. Kadang saya berpikir dengan sangat dangkal bahwa mereka terkena kasus seperti ini karena kurang lucu saja, yang kemudian ditanggapi dengan kurang jenaka.

Sepertinya saya sedang berjodoh dengan pembahasan serius tentang humor. Baru seminggu yang lalu saya mengikuti postingan Dr. Henry Abramson di YouTube, dalam rangkaian kuliah Essential Lecture in Jewish History, ada satu materi mengenai sejarah humor para rabi Yahudi berjudul The Origins of Modern Jewish Humor.

Mengkaji Humor Saridin.
Mengkaji Humor Saridin.

Seperti kita mengenal kisah para sufi jenaka, kaum Yahudi juga mengenal kisah-kisah Rabi lucu. Dalam kuliah tersebut, Dr. Henry Abramson mengutarakan bahwa kemungkinan kelucuan kaum Yahudi adalah respons terhadap kondisi sulit yang mereka alami. Sebuah cara mengakali penjajahan, kontradiksi antara idea (bahwa menurut kitab suci mereka adalah bangsa pilihan) dengan kenyataan saat itu di mana mereka selalu jadi bahan ledekan. Bisa dikatakan, usaha menertawakan nasib apes.

Dalam diskusi Sewelasan bulan ini (Oktober 2017) Perpus EAN kembali menggelar rutin diskusi bulanan yang selalu menarik pada pemilihan tema. Kali ini buku “Demokrasi Tolol Versi Saridin” karya Mbah Nun dipilih untuk dikupas, digali dan diperdalam. Buku yang belakangan kita kenal dengan judul baru sebagai Folklore Madura.

Humor sebagai lambaran, gelaran kloso dalam komunikasi menjadi bahan utama yang disampaikan oleh Mas Helmi Mustofa dalam tulisan pengantarnya yang dibagikan sebelum acara dimulai. Mas Helmi memang didaulat sebagai pembicara malam itu bersama Mas Fauzi Abdurrahman yang sangat berpengalaman dalam hal perbakulan buku.

Senada sambung dengan Mas Helmi, Mas Fauzi pun mengutarakan betapa bahasa humor dalam buku ini adalah bahasa yang efektif untuk membahasakan macam-macam hal yang terlanjur dianggap berat.  Saridin bisa dengan nakal dan jenaka menggugat otoritas keilmuan, nyeloteh soal demokrasi, perpolitikan global-nasional-lokal, nyentil-nyentil konsep guru-mursyid yang terlanjur membaku dan banyak hal lainnya tanpa kehilangan pijakan pada kondisi real masyarakat.

Pekerjaan humor memang pekerjaan berat, diperlukan bukan saja kejenakaan namun juga kecerdasan dan kepekaan tingkat tinggi. Dalam stand up comedy, seorang comic mesti paham kapan saat yang tepat untuk melancarkan punch-line, kapan musti call-back dan kapan mempergunakan teknik lainnya. Sepersekian detik saja salah, terlalu cepat atau kelewat lambat, momen kelucuan hilang. Lelucon menjadi gagal, garing, jayus dan kalau sedikit beruntung ya kena kasus penistaan.

Mbah Nun memang punya bekal kejenakaan dan kecerdasan komunikasi semacam ini baik dalam lisan maupun tulisan. Lelucon pun bukan sekadar lelucon karena hal-hal tersebut dipakai sebagai gelaran kloso dalam berkomunikasi. Dengan ini Mbah Nun bisa mengajak misalnya, kaum buruh untuk menertawakan nasibnya, atau bahkan melantunkan betapa lucunya Pancasila pada seorang menteri yang terkenal galak soal NKRI Harga Mati tanpa ada yang dibuat tersinggung.

Sewelasan Oktober 2017
Sewelasan Oktober 2017

Namun rupanya bagi Pak Iman Budi Santosa, yang didaulat untuk naik ke mimbar kloso sebagai pembicara kehormatan-dadakan, jarang sekali Mbah Nun bisa membuatnya tertawa. Sebab menurut Pak Iman, apa-apa yang disampaikan oleh Mbah Nun walau sering mengundang tawa banyak orang tapi itu bukan lelucon. Bagi beliau, semua kata-kata Mbah Nun adalah serius dan, sekali lagi, bukan sekadar lelucon. Di dalamnya terkandung pemaknaan, peresapan atas kondisi sosial, bahkan hampir semuanya mengandung kebenaran yang menyayat kenyataan. “Ini hal serius ini,” begitu kata Pak Iman dalam ingatan saya.

Mungkin keseriusan dan kelucuan memang tidak berlawanan. Seperti pada Diskusi Sewelasan kali ini, kita diajak mengkaji hal-hal humor dengan sangat serius. Bila pembaca yang budiman berkenan, bisa juga misalnya mengambil salah satu cerita lucu dari buku Demokrasi Tolol Versi Saridin dan dikaji dengan latar belakang keilmuan masing-masing.

Saya cukup lama berpikir bagaimana menyelesaikan tugas untuk reportase kegiatan Sewelasan kali ini. Karena saya beranggapan, saya harus membuat liputan yang lucu juga. Pada akhirnya saya menyerah, saya tertumbuk dan pasrah.

Bahwa sesungguhnya, lucu itu tidak bisa diupayakan. Kelucuan, kejenakaan seperti cinta dan hidayah, dia adalah berkah yang datangnya di luar kuasa kita. Konsultan politik bisa dibayar untuk memoles citra seseorang sehingga tampak berwibawa, gagah perkasa, baik hati, bersahaja, sederhana merakyat atau sekalian jadi ksatria ketus yang tampak kekeuh dengan jalur kebenarannya. Tapi tidak kalau soal menjadi lucu. Tidak ada konsultan politik, pemoles citra, penyihir Fir’aun yang bisa membuat hal semacam ini.

Humor seperti Saridin bukan tipikal humor yang diniatkan untuk jadi lucu apalagi berupaya keras untuk tampil nyeleneh, sok nyentrik dan asal beda, bukan elo’ diasseng (mau dibilang) istilahnya Orang Bugis. Bukan juga humor yang lahir dari mental terjajah, yang sering jatuh jadi self-hating. Lucunya Saridin, karena Saridin memang menggambarkan diri kita apa adanya tanpa perlu berjargon ingar-bingar “Saridin adalah kita”

Seperti Saridin, kita bisa memilih untuk peka pada kelucuan-kelucuan di sekitar kita. Karena negeri ini memang sedang berada pada masa yang sedang lucu-lucunya. Dan mateg aji, memantapkan kuda-kuda kepekaan juga membuat kita bisa memilah mana humor yang bermutu dan lelucon slapstik berkualitas rendahan.

Sewelasan Oktober 2017
Sewelasan Oktober 2017

Maka mengkaji kembali humor berkualitas tinggi dalam Demokrasi Tolol Versi Saridin menjadi pemulihan dari kekonyolan negeri yang kayak pengen melucu tapi malah garing. (MZ Fadil)

Ada kasus seorang gubernur terjerat pasal penistaan agama, baru-baru ini juga seorang pembicara terjerat kasus serupa. Dua hal ini saya kurang update.